Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Meneropong Masa Depan Energi Listrik Tahun 2030, 2040, 2045, dan 2050, Apakah Masih Berbahan Bakar Fosil?

27 Agustus 2021 Lingkungan
Meneropong Masa Depan Energi Listrik Tahun 2030, 2040, 2045, dan 2050, Apakah Masih Berbahan Bakar Fosil?

Tahukah kamu bahwa energi listrik yang kita pakai selama ini masih memakai bahan bakar fosil? Padahal bahan bakar fosil ini jumlahnya sangat terbatas, diciptakan jutaan tahun, namun hanya bisa bertahan hingga dua abad saja!

Sangat seram jika lambat laun bahan bakar fosil ini habis, lalu apakah ada Energi Baru Terbarukan (EBT) yang siap menggantikan? Apakah bahan bakar fosil sebagai pembangkit listrik ini juga akan terus bertahan hingga tahun 2050? Mari kita nikmati saja drama yang akan terjadi mulai rentang tahun 2030 hingga 2050.

Berbicara soal energi listrik, maka aktivitas manusia modern saat ini tidak terlepas dari penggunaan energi listrik itu sendiri. Mengerjakan tugas kantor dengan laptop perlu adanya daya listrik yang terpakai. Menyetrika baju, menanak nasi, mengecas baterai gadget atau alat elektronik, dan lain sebagainya tentunya energi listrik begitu vital dalam kehidupan.

Tingginya penggunaan alat-alat elektronik yang memanfaatkan energi listrik berbahan bakar fosil ini sebenarnya akan memicu banyak problem lingkungan hidup, namun di sisi lain kebutuhan manusia akan energi listrik ini tidak bisa terelakkan. Penuh dilema ya? jelas !

Lalu bagaimanakah prediksi saya tentang masa depan energi listrik di tahun-tahun berikut ini?

#1 Revolusi Energi Listrik Tahun 2030

Pada tahun 2021 sampai dengan 2030, saya rasa energi listrik yang kita rasakan selama ini masih berporos pada penggunaan bahan bakar fosil. Padahal bahan bakar fosil ini merupakan sumber karbon dan tentunya tidak ramah lingkungan karena dapat meningkatkan polusi udara di atmosfer bumi. Gas CO2 di udara akibat pembakaran bahan bakar fosil akan meningkatkan efek gas rumah kaca [5].

Pada gambar di bawah menunjukkan komposisi penyusun gas rumah kaca, dimana kontribusi gas CO2 sebesar 49%, gas CH4 sebesar 18%, gas N2O sebesar 6%, gas CFC sebesar 14%, dan sisanya sebesar 13%. Dari komposisi tersebut terlihat bahwa gas CO2 memberikan kontribusi paling besar terhadap terjadinya pemanasan global. Ditinjau dari sumber emisi, kegiatan terkait dengan pembangkitan dan pemanfaatan energi diperkirakan menyumbang lebih dari 50% [5].

Gambar komposisi Penyusun gas rumah kaca [5].

Walaupun demikian kondisinya, namun pemerintah tetap harus memikirkan bagaimana langkah yang tepat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebagai pembangkit listrik. Dan sejak tahun 2015 hingga sekarang, Program Indonesia Terang (PIT) sudah mendapat perhatian serius dari pemerintah dengan mengaliri listrik di daerah-daerah terpencil yang rasio elektrifikasinya rendah yakni di wilayah Indonesia Timur seperti NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat [2]. Rencana PIT ini juga akan semakin meluas ke wilayah Indonesia bagian barat seperti di pulau Sumatera yang saya rasa memang perlu dialiri listrik dengan baik.

Program PIT yang dicanangkan oleh pemerintah ini sangat bagus karena lebih menekankan penggunaan energi listrik dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bisa berasal dari panas bumi, tenaga air, biomassa, tenaga surya dan maupun tenaga bayu.

#2 Revolusi Energi Listrik Tahun 2040

Pada tahun 2040 ini, EBT mulai marak dipromosikan dan jadi bahan diskusi publik. EBT mulai dikaji dan diadakan penelitian besar-besaran oleh pemerintah, lembaga akademik/riset, dan bahkan masyarakat pun ikut andil di dalamnya.

Faktor yang melandasi hal di atas karena kita ketahui bahwa bahan bakar fosil termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui [3] atau dengan kata lain bahan bakar yang sifatnya terbatas. Itu artinya kita perlu memikirkan energi alternatif apa yang bisa menggantikan bahan bakar fosil di masa depan?

Prediksi saya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah di atas 40% memakai EBT sebagai pembangkit listrik. Bahan bakar fosil sudah mulai ditinggalkan.

Hal di atas dapat terjadi karena rentannya sektor ketenagalistrikan berbasis batubara terhadap krisis, membuat banyak negara di dunia mulai mengintegrasikan upaya pemulihan ekonominya dengan membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih berkelanjutan. Transisi energi menuju energi terbarukan menjadi pilihan karena dapat menghasilkan listrik yang ekonomis, lebih tahan terhadap potensi krisis serta mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memenuhi Persetujuan Paris untuk menekan kenaikan suhu bumi melebihi 2o C [6].

Gambar tower listrik. (Sumber: IESR).

#3 Revolusi Energi Listrik Tahun 2045

Di tahun 2045, EBT semakin gencar dipakai sebagai energi listrik di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, mulai marak dibangun pembangkit energi listrik yang berwawasan lingkungan dan pemanfaatan EBT seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), penggunaan biomassa hewan dan tumbuhan sebagai energi alternatif, dan lain sebagainya.

Pada tahun ini juga, prediksi saya untuk penggunaan bahan bakar fosil nyaris tidak ada atau hampir di atas 80% PLN sudah memakai EBT sebagai pembangkit listrik.

#4 Revolusi Energi Listrik Tahun 2050

Di tahun 2050 ini, Indonesia sudah mulai meninggalkan pembangkit listrik berbahan fosil. Hampir semua daerah di Indonesia sudah memasok pembangkit listrik dengan berbahan baku energi angin, air, surya dan biomassa dari tumbuhan dan hewan yang telah membusuk.

Prediksi saya, sudah hampir 100% energi listrik yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia sudah berasal dari pemanfaatan EBT, bukan lagi berbahan bakar fosil. Karena berdasarkan kajian literatur oleh peneliti di Laboratory of Electric Machinery, Department of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, Jepang, Marwan Rosyadi mengatakan energi fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam akan habis pada 2050 mendatang. Tren di Eropa akan menggunakan 100 persen energi baru terbarukan untuk pasokan energi listrik [1].

Selain itu, daerah-daerah di Indonesia sudah mulai banyak yang teraliri listrik sampai ke bagian pelosoknya. Hal ini diakibatkan karena stok EBT dari energi surya dan bayu yang melimpah dan tak terbatas jumlahnya.

Pemerintah dan stake holder terkait, termasuk PLN sebagai penyelenggara otonomi kelistrikan nasional juga sudah mulai memanfaatkan EBT sebagai solusi untuk masa depan energi Indonesia yang ramah lingkungan.

Namun pada akhirnya, untuk mewujudkan Renewable Energy Sources (RES) sebagai bahan baku pembangkit tenaga listrik perlu kiranya ada kerjasama yang baik antara pemerintah, kementerian terkait, PLN dan masyarakat untuk sama-sama beralih dari penggunaan bahan bakar fosil ke pemanfaatan EBT yang lebih ramah lingkungan.

Jika pemanfaatan EBT ini bisa diterapkan dengan baik di tubuh PLN, maka saya yakin bahwa daerah-daerah pelosok/pedesaan di Indonesia yang sebelumnya tidak teraliri listrik dengan masif, maka pada akhirnya mereka akan merasakan listrik sehingga hal ini akan berpengaruh positif terhadap:

  • menciptakan lapangan kerja baru di bidang energi terbarukan (green jobs) yang semakin memadai sehingga mengurangi pengangguran;
  • pertumbuhan ekonomi yang signifikan di kalangan masyarakat pedesaan;
  • sumber penerangan di wilayah-wilayah semakin masif;
  • memudahkan pekerjaan masyarakat;
  • mempercepat perekonomian negara;
  • biaya murah, daya beli masyarakat meningkat;
  • memberikan pemasukan negara yang signifikan;
  • Penggunan EBT lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil;
  • masyarakat semakin merasakan dampak bagus dari pemanfaatan EBT itu sendiri;
  • dan lain sebagainya.

Namun selain dampak positif, maka saya akan memprediksikan bahwa di atas tahun 2050 justru penggunaan energi listrik semakin tinggi karena pada tahun ini pangsa pasar listrik cukup murah karena berbahan dasar dari EBT, dan secara otomatis pada tahun ini juga gaya hidup masyarakat juga lambat laun bergeser ke arah gaya hidup yang lebih hedon (konsumtif). Mungkin mereka akan lebih memperbanyak alat-alat elektronik di rumah yang memanfaatkan energi listrik dalam jumlah besar. Dan tentunya dampak buruk bagi lingkungan akan tetap ada. Sebagai contohnya, jika setiap rumah ada 3 kulkas atau AC, maka ini akan menghasilkan banyak sekali senyawa klorofluorokarbon (CFC) dalam jumlah besar. Karena dalam satu molekul CFC ini memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun di atmosfer bumi dan ini tentunya menekan lapisan ozon semakin tipis [4].

Namun sebelum dampak buruk ini terjadi, maka mari kita sama-sama berproses, berbenah dan memikirkan solusi terbaik untuk menghadapi revolusi kelistrikan nasional berbahan bakar dari EBT di tahun 2050 dan seterusnya. Tujuannya tidak lain adalah agar anak cucu kita kelak bisa merasakan manfaat positif dari penggunaan EBT sebagai renewable energy di masa depan yang berwawasan lingkungan.

Sumber Referensi:

[1] Indra dan Laili. 2016. Peneliti: Energi Fosil Akan Habis 2050. Tersedia secara online di situs: https://www.antaranews.com/berita/545481/peneliti-energi-fosil-akan-habis-2050.

[2] Permana, Nicko Yoga. 2016. Program Indonesia Terang Targetkan 12.669 Desa Terlistriki. Tersedia secara online di situs: https://ebtke.esdm.go.id/post/2016/02/05/1113/program.indonesia.terang.targetkan.12.669.desa.terlistriki.

[3] Anonim. 2021. Bahan Bakar Fosil. Tersedia secara online di situs: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_fosil.

[4] Gischa, Serafica. 2020. Penyebab Lapisan Ozon Menipis. Tersedia secara online di situs: https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/27/170000269/penyebab-lapisan-ozon-menipis?page=all.

[5] Ida N. Finahari, Djati HS, dan Heni Susiati. Gas CO2 dan Polutan Radioaktif Dari PLTU Batubara [Jurnal Ilmiah]. Tersedia Secara Online di Situs: http://jurnal.batan.go.id/index.php/jpen/article/viewFile/1945/1841.

[6] IESR. 2021. Ketenagalistrikan Menjadi Sektor Prioritas Untuk Akselerasi Transisi Energi di Indonesia. Tersedia secara online di situs: https://iesr.or.id/ketenagalistrikan-menjadi-sektor-prioritas-untuk-akselerasi-transisi-energi-di-indonesia.

*Disclaimer: Jumlah keseluruhan kata di dalam artikel ini adalah 1.368.

Taggs:
82 Comments
  • Lidia 9:23 pm 28 Agustus 2021 Balas

    Saya pun menduga demikian mas Wahid, ke depan bahan bakar dari fossil pasti habis dengan bertambahnya jumlah manusia dari tahun ke tahun. Artinya kalau tidak mulai dengan EBT akan sulit banget untuk move on dari bahan bakar peninggalan ratusan tahun itu ya. Semoga manusia makin mampu untuk mencari solusi demi kesejahteraan masyarakat di hari mendatang.

    • Relinda Puspita 4:32 pm 29 Agustus 2021 Balas

      Aku juga sempat heran pas pernah baca klo energi di Indonesia ini masih didominasi bahan bakar fosil. Tapi, untunglah, sekarang sudah banyak inovasi untuk menggantikannya.

      • Wahid Priyono 8:08 am 1 September 2021 Balas

        Yup, betul sekali kak @Relinda. EBT adalah sumber energi non-fosil dan inovasi masa depan untuk bumi dan anak cucu kita agar jauh lebih baik.

        • Fatimah 3:41 pm 2 September 2021 Balas

          Betul nih, kebutuhan listrik tuh emang gak bisa dihindari apalagi dengan bertambahnya populasi manusia maka penggunaan listrik akan semakin meningkat. Semoga bisa memaksimalkan penggunaan EBT kedepannnya, apalagi kalau ramah lingkungan.

          • Wahid Priyono 2:43 pm 4 September 2021

            Setuju kak, EBT semoga ke depan menjadi sahabat bagi manusia di bumi. Dan semua bergerak untuk memasifkan EBT.

    • Wahid Priyono 7:34 am 1 September 2021 Balas

      Iya betul kak Lidia, prediksi saya memang energi fosil ke depannya memang akan makin tergantikan dengan EBT yang lebih ramah terhadap lingkungan.

  • Sani 12:59 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Kebutuhan akan listrik gak bisa terhindari dengan kemajuan teknologi. Apalagi kedepan akan marak kendaraan listrik.. semoga dampak negatif bisa segera dapat solusinya 😀

    • Wahid Priyono 7:36 am 1 September 2021 Balas

      Analisis dan logika yang sesuai kak, kemajuan teknologi juga memang ikut berperan dalam penggunaan listrik yang semakin meningkat ya…dan memang kita harus bijak menggunakan energi listrik dengan memakai lampu di rumah seperlunya saja.

  • Moch. Ferry 4:13 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Para peneliti dan pakar telah memikirkan energi alternatif pengganti sekarang.

    • Wahid Priyono 7:38 am 1 September 2021 Balas

      Benar sekali kak Ferry, peneliti dan juga masyarakat memang menginginkan inovasi sumber energi yang bisa/lebih ramah lingkungan, tujuannya tidak lain yakni untuk dekarbonisasi, bagus juga nih kalo mau diet karbon dan diet plastik. Hehe.

  • Dian Restu Agustina 8:44 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Semoga EBT, energi baru terbarukan yang berasal dari panas bumi, tenaga air, biomassa, tenaga surya dan maupun tenaga bayu bisa menggantikan ketergantungan pada bahan bakar fosil di negeri ini. Dan perlu peran serta kita semua untuk mencapai itu.

    • Wahid Priyono 7:40 am 1 September 2021 Balas

      Betul sekali kak Dian, butuh kerjasama stake holder semua ya, termasuk kita sebagai masyarakat, peneliti, dan juga pemerintah sebagai pengatur regulasi dan kebijakan-kebijakannya semoga selalu pro terhadap EBT demi bumi kita di masa depan.

  • Windi 10:29 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Semoga kedepan juga makin banyak pegiat lain seperti yang mas Wahid sampaikan ini. Demi anak cucu kelak. Dari sekarang memang harus menghemat ya

    • Wahid Priyono 7:40 am 1 September 2021 Balas

      Betul kak, kita juga harus hemat energi listrik.

  • Irra 10:57 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Semoga kedepannya EBT ini dapat sepenuhnya menggantikan energi yg berasal dari fossil, sehingga bisa lebih ramah lingkungan

    • Wahid Priyono 7:41 am 1 September 2021 Balas

      Aamiin kak, setuju…harus ada inovasi EBT untuk menangani masalah lingkungan kita hari ini dan seterusnya.

  • Nanik K 11:07 pm 29 Agustus 2021 Balas

    Iya mas, tak bisa dipungkiri jika manusia sangat sulit mengendalikan nafsunya. Sangat rentan jika suatu saat kita sudah berganti ke EBT tapi hasrat konsumtif tetap tinggi. Berarti memang perilaku kita yang memang perlu diperbaiki,adai ide?

    • Wahid Priyono 7:43 am 1 September 2021 Balas

      Prediksi saya, pastinya tetap ada kak gaya hidup konsumtif di kalangan masyarakat kita pasca EBT semakin masif di negeri ini. Prilaku kita memang perlu diperbaiki salah satunya dengan bijak menggunakan energi listrik di rumah, dll.

      • Nanik K 4:44 pm 1 September 2021 Balas

        Berarti perlu adanya kebijakan krusial terkait pemakaian energi listrik masyrakat dunia., dong mas. Lalu, bagaimana dengan indutri yang berbasis energi? Bukan kah pemakaian energi mereka juga tinggi,ya mas?

        • Wahid Priyono 7:01 pm 1 September 2021 Balas

          Betul kak harus ada regulasi yg jelas dari pemerintah kita termasuk support EBT sebagai alternatif energi baru di masa depan.

  • Maria Soemitro 11:56 pm 29 Agustus 2021 Balas

    mau gak mau sih ya?

    sesuai hukum ekonomi demand and supply

    energi fosil berkurang sementara jumlah penduduk meningkat

    nampaknya ramalan environmental David Sutasurya akan terjadi
    kelak yang lalu lalang di jalan umum hanya kurir jasa pengiriman dan logistik

    • Wahid Priyono 7:44 am 1 September 2021 Balas

      Agak ngeri-ngeri sedap nih ramalan environmental David Sutasurya. Hehe.

      • Rafahlevi 12:28 am 8 September 2021 Balas

        Aku seperti tersadar lagi kalo energi yang dinikmati saat ini bisa habis dalam waktu yg tidak lama lgi kalo pola hidup kita konsumtif jor-joran tak terkendali.

  • Nanik K 7:36 am 30 Agustus 2021 Balas

    Kadang miris juga ya mas dengan perilaku konsumtif masyarakat dunia. Memang bakal mengkawatirkan jika kita sdh beralih ke EBT tapi pola konsumtif masyarakanya makin menjadi.
    Semoga juga ada solusi atas perilaku ini.

    • Supadilah S.Si 8:50 am 30 Agustus 2021 Balas

      Mudah-mudahan 2045 nggak ada bahan bakar fosil lagi ya Mas. Semoga semakin sadar bahaya dan dampak energi fosil.

      • Wahid Priyono 7:49 am 1 September 2021 Balas

        Iya mas @Supadilah, mudah-mudahan saja 2045 s/d 2050 negara kita terbebas dari penggunaan bahan bakar fosil. Sehingga kita akan lebih banyak memakai bahan bakar dari EBT dan tentunya peluang-peluang penelitian, bisnis baru di green jobs di bidang sumber daya energi akan bermunculan. Ini bagus tentunya karena perekonomian masyarakat semakin tumbuh dan berkembang.

    • Wahid Priyono 7:46 am 1 September 2021 Balas

      Menurut opini saya bisa seperti itu memang kak, gaya konsumtif masyarakat bisa jadi tetap ada pasca EBT masif di negeri ini. Apalagi jika EBT sudah murah meriah, pastinya orang akan bebas memakainya. Takutnya kecenderungan ini akan berdampak lain ke lingkungan.

  • Rizka Edmanda 8:35 am 30 Agustus 2021 Balas

    Kalau melihat perkembangan kekinian teknologi dengan energi terbarukan di negar2 maju mulai dilirik sih, tinggal pemerintah kita aja berani atau gak untuk mulai beralih karena ga bisa dimungkiri cuan dari energi fosil lumayan juga jadi memang harus tegas juga regulasinya

    • Wahid Priyono 7:51 am 1 September 2021 Balas

      Iya betul sekali kak, cuan memang banyak didapat dari energi fosil. Namun dengan itikad dan semangat ke perubahan EBT di bidang energi, maka kita juga perlu support pemerintah. Mudah2an support dan regulasi pemerintah akan lebih pro ke penggunaan EBT untuk energi listrik ke depannya.

  • Dinda Yolanda 9:21 am 30 Agustus 2021 Balas

    Tulisan mas wahid tentang EBT pengganti fosil yang padat, jelas, dan mudah dipahami oleh kalangan awam. Bahasa yang dipakai juga santai tapi tetap memakai kaidah yang benar. Makasih ya mas.

    • Wahid Priyono 7:52 am 1 September 2021 Balas

      Makasih kak Dinda sudah baca artikel saya, maaf saya juga masih terus belajar menulis kak. Hehe.

  • Annie Nugraha 9:28 am 30 Agustus 2021 Balas

    Saya terpaku dengan 2 paragraf terakhir. Asumsi kebutuhan listrik dalam sekitar 19-20 tahun kemudian tentunya akan sangat meningkatkan seiring dengan pertumbuhan teknologi dan peralatan canggih yang mengandalkan energi listrik. Sementara di pihak lain, sebagai konsekuensi, SDA kita perlahan akan menyusut. Satu kebijakan benar-benar harus segera diambil, setidaknya dalam 5 tahun kedepan, supaya semua sumber daya yang ada di bumi masih bisa dinikmati oleh generasi penerus.

    • Wahid Priyono 7:53 am 1 September 2021 Balas

      Betul kak Annie. Setuju deh dengan argumentasinya..regulasi pemerintah juga mudah2an akan terus mendukung ke energi baru terbarukan.

      • Annie Nugraha 11:42 am 8 September 2021 Balas

        Semoga SDM dan penelitian untuk teknologi terbarukan ini lancar berkembang dan tersosialisasikan dengan baik ya.

    • Fenni Bungsu 2:10 pm 8 September 2021 Balas

      Setuju Bu Annie, perlu banyak persiapan dan antisipasi, sehingga pasokan energi listrik tetap bisa berkelanjutan

  • Nurul Sufitri 12:59 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Energi Baru Terbarukan ini sedang giat2nya diramaikan ya. Iya donk, ketika suatu hari nanti energi listrik dan sebagainya sudah sangat menipis dan habis, tentu manusia butuh sumber lain untuk kehidupan. Harus dimulai dari sekarang. Tulisan Mas Wahid ini padat dan jelas. Inspiratif!

    • Wahid Priyono 7:55 am 1 September 2021 Balas

      Makasih kak Nurul. Betul kak, perlu dipikirkan bersama memang langkah tepat apa yang bisa menyelamatkan kita semua dari ketergantungan terhadap energi fosil. EBT adalah alternatid terbaik saat ini karena dinilai lebih ramah lingkungan, bisa mempercepat dekarbonisasi.

  • bang iyus 1:10 pm 30 Agustus 2021 Balas

    semoga apa yang diprediksi tercapai dan bahan bakar fosil yang saat ini digunakan dapat segera tergantikan…. demi masa depan yang lebih baik

    • Wahid Priyono 7:56 am 1 September 2021 Balas

      Aamiin kak Iyus, makasih dukungannya kak untuk EBT ke depannya yang semakin baik di negeri kita sendiri.

  • nurulrahma 2:49 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Wah, semogaaaaa terkait dgn bahan bakar ini, kita semua bs mendapatkan dan menerapkan solusi terbaik.

    As usual, keren bangeeettt blogpost-nya Kak!

    • Wahid Priyono 7:57 am 1 September 2021 Balas

      Aamiin, makasih kak Nurul. Yuk kita sama2 dukung proses menuju EBT di tahun-tahun berikutnya.

  • Nurhilmiyah 3:24 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Bagus banget ini sedari sekarang sudah memikirkan masa depan energi listrik di masa yang akan datang, agar anak cucu kita tetap bisa menikmati listrik

    • Wahid Priyono 7:58 am 1 September 2021 Balas

      Yups, betul kak Nurhilmiyah. Sebagai generasi penerus memang kita harus sama-sama berpikir maju dan memberikan solusi energi terbaik untuk masa depan bumi yang kita huni.

  • Fenni Bungsu 3:52 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Kalau kolaborasi bisa tercipta apik biar sama-sama beralih dari yang semula menggunakan bahan bakar fosil jadi memanfaatkan EBT ramah lingkungan, tentunya bisa terjadi kak. Selain itu perlu sosialisasi dan edukasi ini juga

    • Wahid Priyono 8:00 am 1 September 2021 Balas

      Betul bahwa sosialisasi dan edukasi terkait pemanfaatan energi listrik berbahan baku EBT ini memang perlu disebarkan sedari sekarang. Dukungan kita sebagai elemen masyarakat penting sekali termasuk dalam hal regulasi dan kebijakan EBT yang dicanangkan pemerintah ke depannya.

      • ilmair 9:09 pm 3 September 2021 Balas

        Ya, sudah seharusnya disosialisasi dan edukasikan pemanfaatan energi berbahan baku EBT ramah lingkungan ini. Energi fosil yang terbatas dan aslinya juga berdampak bagi lingkungan memang sudah seharusnya digantikan.

        • Wahid Priyono 2:41 pm 4 September 2021 Balas

          Setuju kak, realisasi untuk mengganti energi fosil ke EBT memang harus secepatnya dilakukan demi masa depan bumi dan anak cucu kita kelak. Semoga segera terwujud dan EBT bisa kita rasakan.

  • Aisyah Dian 4:03 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Kalau ingat ini jadi serem ya, kira-kira berapa tahun lagi sumber days Kita Akan habis? Semoga segera ketemu solusinya ya

    • Wahid Priyono 8:01 am 1 September 2021 Balas

      Ada yang memprediksikan bahkan di tahun 2050 energi fosil akan habis kak. Di beberapa paragraf akhir tulisan saya di atas telah saya jelaskan.

  • Nanik Nara 4:10 pm 30 Agustus 2021 Balas

    Semoga saja ya, 2050 nanti beneran bisa lepas dari penggunaan energi listrik berbahan bakar fosil, tapi semoga nggak jadi hedon. Masa kulkas sampai 3 dalam satu rumah, kecuali rumahnya buat buka usaha rumah makan gitu

    • Wahid Priyono 8:02 am 1 September 2021 Balas

      Iya kak, tetangga saya ada kak yang di ruang keluarga 1 kulkas, 1 kulkas di dapur, dan 1 kulkas di kamar salah satu anaknya. Hehe. Ini hanya asumsi saya saja kak, bisa saja nanti akan terjadi.

  • Diah Alsa 11:03 am 31 Agustus 2021 Balas

    semakin kesini energi fosil akan habis lalu akan berganti dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, jadinya Bumi pun juga nantinya bisa lebih bernafas lega ya.
    semoga perkembangan ini sesuai dengan harapan bersama ya.

    • Wahid Priyono 8:03 am 1 September 2021 Balas

      Setuju kak Diah. Harapan bersama untuk beralih ke energi fosil mudah2an bisa tercapai.

  • Dyah ummu AuRa 11:27 am 31 Agustus 2021 Balas

    Sebenarnya ada banyak energi pengganti energi fosil untuk listrik hanya saja belum dikembangkan dan biayanya lebih mahal. Semoga kedepannya semua halangan bisa teratasi ya mas.

    • Wahid Priyono 8:04 am 1 September 2021 Balas

      Iya kak, memang ada banyak sumber referensi yang memberikan banyak alternatif sumber energi baru terbarukan yang non-fosil dan lebih ramah lingkungan. Pastinya ini baik tujuannya karena inovasi di bidang energi makin berkembang, penelitian ilmiahnya makin banyak dan mudah2an ke depan ada solusi paling tepat dari peralihan energi non-fosil ke EBT.

  • Lintang 10:38 pm 31 Agustus 2021 Balas

    Memang sih saat ini masih mengandalkan energi fossil, dan pasti akan perlahan-lahan habis. Harus segera beralih pada EBT. Semoga bisa berangsur-angsur mewujudkan revolusi pengkajian dan penelitian EBT.
    Semoga bisa segera meninggalkan pembangkit listrik berbahan fosil ya mas.

    • Wahid Priyono 8:06 am 1 September 2021 Balas

      Betul sekali kak Lintang. Kita perlu beralih ke energi non-fosil. Bumi kita sudah berumur, pemanasan global makin hari makin terasa. Jadi perlu ada alternatif energi pengganti yang lebih bijak terhadap lingkungan hidup.

  • Arai Amelya 6:19 am 1 September 2021 Balas

    Selain nggak bisa diperbarui, bahan bakar fosil emang berdampak buruk ke lingkungan ya bang. Energi Terbarukan memang jadi kunci sih supaya negeri ini lebih sejahtera, sehat dan efisien. Semoga semua harapan dekarbonisasi itu bisa terwujud segera ya

    • Wahid Priyono 8:07 am 1 September 2021 Balas

      Yups, saya juga berharap dekarbonisasi bisa semakin cepat dilakukan demi masa depan bumi dan anak cucu kita yang jauh lebih baik lagi.

  • Nanie 11:38 pm 1 September 2021 Balas

    Kalau dipake terus menerus kan sesuatu yang tak terbarukan suatu saat pasti akan habis juga. termasuk energi fosil ini. Semoga ada solusi yang mepercepat peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan.

    • Wahid Priyono 5:04 am 2 September 2021 Balas

      Yups. Setuju sekali kak. Semua pihak berharap ke depan ada EBT yg lebih ramah lingkungan.

  • Nurhilmiyah 8:03 pm 2 September 2021 Balas

    Kalau ketenagalistrikan berbasis batubara rentan krisis ya Mas di masa depan, tenaga surya bisa juga kali ya…

    • Wahid Priyono 2:42 pm 4 September 2021 Balas

      Kalo tenaga surya setahu saya enggak kak, karena tidak mudah habis, seperti memanfaatkan cahaya matahari.

  • Ririn Wandes Melalak Cantik 9:16 pm 3 September 2021 Balas

    Tentunya sudah harus dipersiapkan ya energi untuk masa depan. Kita sudah susah tidak tergantung dengan listrik nih maka solusinya yang paling penting. Hmm,cukup banyak sumber referensi yang bisa dijadikan bahan bacaan juga nih. Boleh deh nanti diintip juga yang lain.

    • Wahid Priyono 2:40 pm 4 September 2021 Balas

      Betul kak, sumber daya energi baru terbarukan memang harus disiapkan dari sekarang kak. Dan ini tentunya butuh kerja keras dari semua elemen masyarakat, peneliti dan juga pemerintah.

      • Elva s 9:18 am 6 September 2021 Balas

        Semoga sumber daya energi terbarukan secepatnya terealisasi di masa mendatang, selain ramah lingkungan juga berdampak baik untuk bumi.

        • Wahid Priyono 11:10 am 6 September 2021 Balas

          aamiin kak. Semoga EBT bisa segera terwujud dan merata di Indonesia hingga tahun 2050 dan seterusnya. Tujuannya supaya kita tidak lagi tergantung pada energi fosil yg gampang habis.

  • Katerina 4:27 pm 7 September 2021 Balas

    Indonesia tidak memiliki pilihan selain memanfaatkan EBT. Tekanan tidak hanya datang dari semakin tipisnya cadangan energi, namun juga karena lingkungan alam yang semakin rusak akibat penggunaan energi konvensional

  • nurulrahma 8:44 pm 7 September 2021 Balas

    Tulisan ini hadir melalui kepedulian yg luar biasa, plus riset komprehensif.
    Mantab jiwaaa pak Guru.
    Sangat edukatif dan inspiring

    • Moch. Ferry 6:03 am 8 September 2021 Balas

      Penggunaan energi alternatif selain bahan baku fosil perlu ditopang kebijakan agar kelak kesiapan energi alternatif bisa berjalan sesuai harapan.

  • Dian Restu Agustina 8:48 pm 7 September 2021 Balas

    Senangnya daerah-daerah di Indonesia sudah mulai banyak yang teraliri listrik sampai ke bagian pelosoknya. Yang dulunya tak terjangkau layanan PLN karena stok EBT dari energi surya dan bayu yang melimpah dan tak terbatas jumlahnya bisa ada listrik. Masa depan energi listrik di tahun-tahun mendatang bisa tak lagi tergantung pada bahan bakar fosil kalau begini

    • Wahid Priyono 8:29 am 13 September 2021 Balas

      Setuju kak Dian, saya juga demikian berharap ke depan energi fosil bisa segera digantikan dengan EBT yang jumlah melimpah seperti energi bayu dan energi surya. Negara kita sangat potensial untuk menerapkan EBT mulai sekarang dan untuk waktu2 yang akan datang. Kita harus sama2 mendukung program EBT yang bagus untuk masa depan bumi kita.

  • YSalma 11:07 pm 7 September 2021 Balas

    Indonesia mempunyai banyak sumber penghasil energi listrik pengganti energi fosil. Semoga teknologinya terus dikuasai oleh anak bangsa, sehingga teropong masa depan energi listrik sesuai ya mas. Nggak ada lagi krisis listrik.

    • Wahid Priyono 8:30 am 13 September 2021 Balas

      Yups, betul kak Salma, kita memang harus mandiri secara energi, karena negara kita ini potensial untuk menghasilkan energi listrik berbahan bakar dari EBT yang disinyalir jauh lebih ramah terhadap lingkungan hidup. Kita harus sama2 mendukung program baik semacam EBT ini !

  • Farida Pane 7:52 am 8 September 2021 Balas

    Sudah beberapa tahun belakangan ini Indonesia merintis bahan bakar non fosil, misalnya dengan tenaga air dan angin. Kita tunggu saja

    • Wahid Priyono 8:32 am 13 September 2021 Balas

      Iya kak, kita dukung progres terbaik EBT ke depan, karena saya berharap 2050 negara kita sudah menerapkan EBT secara masif. Sehingga renewable energy akan terwujud.

  • Maria Tanjung Sari 10:01 am 8 September 2021 Balas

    Pembahasan yang berat banget nih mas. Untungnya di Indonesia kita masih bisa menikmati energi untuk kehidupan sehari hari

    • Wahid Priyono 8:33 am 13 September 2021 Balas

      Iya kak Maria, ada banyak sumber energi yang disediakan Tuhan hingga hari ini. Kita menikmati sumber energi untuk pemenuhan kebutuhan rutin harian. Kita wajib bersyukur karena Tuhan itu baik.

  • Bayu Fitri 12:46 pm 8 September 2021 Balas

    Energi listrik dari sinar matahari nih jadi solusi kayaknya ya kak..krna sumbernya tumpah ruah dan yg pasti ga ada habisnya

    • Wahid Priyono 8:35 am 13 September 2021 Balas

      Yups, betul sekali kak Bayu Fitri, bahwa energi angin/bayu dan energi surya memang sumber daya alam yang tidak akan pernah habis, sehingga ini bisa jadi alternatif reneable energy masa depan yang potensial pastinya. Kita harus dukung progres ini ke depannya, supaya EBT masif dan didukung oleh semua pihak.

  • Reyne Raea 2:57 pm 8 September 2021 Balas

    kalau mikirin tentang masa depan tuh memang serem seringnya ya, terlebih melihat masih sedikit yang sadar akan keberlangsungan bumi ini buat anak cucu.

    Tapi saya yakin, anak-anak kita di masa mendatang, akan menemukan solusi yang tepat ketika bahan bakar yang ada telah habis 🙂

    • Wahid Priyono 8:38 am 13 September 2021 Balas

      Iya kak, tentunya kita sebagai generasi masa kini juga harus turut andil mendukung progres renewable energy ini sebagai pilar energi masa depan yang lebih berwawasan lingkungan, serta mendukung bumi yang kita huni agar tetap terjaga baik. Tahun 2050 mudah2an terwujud penggunaan EBT skala besar di berbagai lini sektor kehidupan.

Write a comment