Wahid Priyono

Teacher

Bloger

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Teacher

Bloger

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Lovers

#BlogPost

Cara Menghadapi dan Menyembuhkan Siswa Broken Home

18 Februari 2026 Edukasi
Cara Menghadapi dan Menyembuhkan Siswa Broken Home

Menjadi seorang pendidik (guru) di era saat ini memang memerlukan banyak cara untuk memandang sesuatu hal menjadi lebih obyektif dan holistik (menyeluruh).

Apalagi saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) semakin canggih, tentu terkadang kita lupa tidak membarengi dengan pendidikan akhlak (moral) dalam menghadapi siswa di sekolah. Akibatnya, siswa tidak lagi memiliki karakter baik, justru sebaliknya.

Melihat fenomena dimana karakter siswa yang semakin merosot ini, terkadang tugas kita sebagi seorang guru mau tidak mau untuk moral siswa harus dibina secara bertahap, harus dilengkapi dengan kesabaran dan proses panjang yang tidak sebentar.

Sebagai guru, saya sering menghadapi berbagai karaktek/watak siswa dari berbagai latar belakang sosial mereka.

Ada anak-anak yang memang perlu dibina (didampingi) secara serius karena memang perlu pembinaan secara lengkap. Mereka terutama biasanya dari anak-anak/siswa/i yang mengalami broken home, tidak mendapatkan pendidikan moral secara lengkap dari orang tuanya. Hal ini tentu terjadi karena banyak faktor pemicunya.

Siswa broken home ini biasanya terjadi akibat orang tuanya yang cerai dengan pasangan, trauma masa lalu, ditinggal oleh orang tua yang meninggal dunia dan diasuh oleh kakek/nenek/paman/bibinya, orang tua kerja di luar negeri (TKW), serta mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pihak keluarga.

Untuk menghadapi siswa dengan kondisi broken home memang tidak serta merta perlu guru sendiri yang menangani, tentu saja membutuhkan pihak konselor di sekolah (dalam hal ini guru Bimbingan Konseling/BK di sekolah) dan dukungan dari pihak lain jika diperlukan.

Berikut ini saya akan menjelaskan solusi menghadapi dan menyembuhkan broken home yang dialami siswa.

BACAAN LAINNYA:  #FinantierForBetterFuture, Wujudkan Mimpi Pelaku UMKM Agar Berdikari di Negeri Sendiri

Cara Menghadapi dan Menyembuhkan Siswa Broken Home Secara Tepat dan Empatik

Siswa yang berasal dari keluarga broken home sering menghadapi tekanan emosional yang tidak terlihat dari luar. Perceraian orang tua, konflik berkepanjangan, kehilangan salah satu orang tua, atau kurangnya perhatian keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan akademik anak. Artikel ini membahas secara lengkap cara memahami, menghadapi, dan membantu proses penyembuhan siswa broken home secara efektif.

Siswa yang berasal dari keluarga broken home sering menghadapi tekanan emosional yang tidak terlihat dari luar. Perceraian orang tua, konflik berkepanjangan, kehilangan salah satu orang tua, atau kurangnya perhatian keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan akademik anak. Artikel ini membahas secara lengkap cara memahami, menghadapi, dan membantu proses penyembuhan siswa broken home secara efektif.

1. Memahami Apa Itu Broken Home

Broken home bukan hanya tentang perceraian. Kondisi ini juga mencakup:

  • Orang tua yang sering bertengkar;
  • Salah satu orang tua tidak hadir (secara fisik maupun emosional);
  • Kekerasan dalam rumah tangga;
  • Pengabaian anak;
  • Lingkungan keluarga yang tidak harmonis.

Dampaknya pada siswa bisa berupa:

  • Penurunan prestasi akademik;
  • Perubahan perilaku (agresif atau menarik diri);
  • Rendahnya kepercayaan diri;
  • Sulit mempercayai orang lain;
  • Gangguan emosi (cemas, sedih, mudah marah).

2. Ciri-Ciri Siswa Broken Home di Sekolah

Beberapa tanda yang sering muncul:

  • Sering menyendiri dan sulit bergaul;
  • Emosi tidak stabil;
  • Mudah tersinggung;
  • Kurang motivasi belajar;
  • Terlambat atau sering absen;
  • Terlibat pelanggaran tata tertib.

Namun, tidak semua siswa menunjukkan gejala yang sama. Ada juga yang terlihat “baik-baik saja” tetapi memendam luka emosional.

3. Cara Menghadapi Siswa Broken Home

A. Bangun Hubungan yang Aman dan Hangat

Siswa broken home sangat membutuhkan rasa aman. Guru dan orang dewasa di sekolah bisa menjadi figur pengganti yang suportif.

BACAAN LAINNYA:  Refleksi Hari Guru Nasional 2025

Tips dan triknya:

  • Dengarkan tanpa menghakimi;
  • Jangan memaksa mereka bercerita;
  • Gunakan bahasa yang lembut dan empatik;
  • Tunjukkan konsistensi sikap.

Kalimat yang bisa digunakan:

“Bapak/Ibu ada di sini kalau kamu ingin bercerita.”
“Tidak apa-apa merasa sedih. Itu wajar.”

B. Hindari Label dan Stigma

Jangan pernah menyebut atau memberi label seperti:

  • “Anak broken home pasti nakal”
  • “Makanya kalau orang tua cerai…”

Label negatif hanya memperburuk kondisi psikologis siswa. Siswa broken home hanya ingin didengar keluhannya, tidak langsung dilabeli dengan ucapan atau tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

C. Libatkan Konselor atau Psikolog Sekolah

Jika masalah sudah memengaruhi mental dan akademik secara serius, penting untuk melibatkan profesional seperti:

  • Guru BK;
  • Konselor sekolah;
  • Psikolog anak (jika diperlukan).

Pendekatan profesional dapat membantu proses pemulihan yang lebih terarah.

4. Cara Membantu Proses Penyembuhan Siswa Broken Home

A. Berikan Dukungan Emosional

Penyembuhan dimulai dari rasa diterima.

  • Beri apresiasi atas usaha kecil;
  • Berikan pujian yang tulus;
  • Dorong mereka untuk mengekspresikan perasaan.

B. Ajarkan Regulasi Emosi

Siswa perlu belajar mengelola emosi, bukan menekannya.

Beberapa metode yang bisa diajarkan:

  • Teknik pernapasan dalam;
  • Menulis jurnal perasaan;
  • Olahraga rutin dan aktivitas positif lainnya;
  • Kegiatan seni (menggambar, musik, dan lainnya).

C. Bangun Kepercayaan Diri

Anak broken home sering merasa tidak berharga. Untuk mengatasinya:

  • Berikan tanggung jawab kecil;
  • Libatkan dalam kegiatan positif;
  • Dukung minat dan bakatnya.

Ketika siswa merasa berhasil dalam satu bidang, rasa percaya dirinya perlahan tumbuh kembali.

D. Ciptakan Lingkungan Sekolah yang Inklusif

Sekolah perlu menjadi tempat yang aman dan bebas perundungan/bullying. Guru dan pihak sekolah dapat:

  • Mengadakan program penguatan karakter;
  • Membentuk kelompok dukungan sebaya;
  • Meningkatkan komunikasi antara sekolah dan wali.
BACAAN LAINNYA:  Project P5 Sebagai Solusi Rendahnya Minat Belajar Siswa

5. Peran Orang Tua atau Wali dalam Penyembuhan

Jika masih memungkinkan, orang tua tetap berperan penting dalam proses pemulihan:

  • Hindari menjelekkan pasangan di depan anak;
  • Tetap berikan perhatian dan waktu berkualitas;
  • Jaga komunikasi yang sehat dengan anak.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir secara emosional.

6. Hal yang Tidak Boleh Dilakukan

Beberapa kesalahan umum dalam menghadapi siswa broken home:

  • Jangan mengabaikan perubahan perilaku
  • Jangan memarahi tanpa memahami latar belakang
  • Jangan membandingkan dengan siswa lain
  • Jangan memaksa anak untuk “kuat” dan tidak boleh menangis

7. Apakah Siswa Broken Home Bisa Sembuh?

Jawabannya: Iya, bisa.

Dengan dukungan yang tepat, banyak anak broken home tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, empatik, dan mandiri. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sulit dapat membentuk ketahanan mental (resilience) jika didampingi dengan benar.

Penyembuhan memang tidak instan, tetapi proses yang konsisten akan memberikan perubahan besar dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Menghadapi dan membantu menyembuhkan siswa broken home membutuhkan:

  • Empati;
  • Kesabaran;
  • Pendekatan yang konsisten;
  • Dukungan profesional jika diperlukan.

Guru, orang tua, dan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi siswa untuk pulih dan berkembang.

Taggs:
Write a comment