Pengalaman Berkesan Mendaki Gunung Betung di Ketinggian 1.240 Mdpl
Pengalaman perjalanan yang tidak pernah saya lupakan adalah untuk kedua kalinya saya menapakan kaki di Gunung Betung.
Gunung Betung merupakan salah satu objek wisata dengan pemandangan alam yang begitu indah, dengan hutan yang masih alami, udaranya segar, dan layak untuk melenyapkan penat di hiruk pikuk perkotaan.
Dengan ketinggian 1.240 mdpl, gunung ini berlokasi di Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, namun areanya mencakup beberapa kecamatan sekaligus seperti Padang Cermin, Way Lima, dan Kedondong.
Gunung betung ini juga dikenal sebagai gunung “sukma ilang”, artinya jiwa yang hilang. Konon, pada zaman dahulu di gunung ini banyak pendaki tersesat dan hilang, tidak pernah kembali. Bahkan di bagian jalur air terjun (sekarang sudah ditutup) sering kali memakan korban jiwa, karena jalurnya yang presisi dengan jurang curam setinggi 30 meter, dan ini cukup berbahaya bagi para pendaki. Sehingga pendaki perlu hati-hati melewati medan di sekitaran gunung betung.
Saat mendaki gunung betung, saya hanya mengantarkan teman yang dari kota lain yang katanya dia penasaran dengan gunung ini. Nama teman saya ini adalah Ragil Alsabah.
Kemudian kami sepakat untuk mendaki gunung ini pada hari weekend, tepatnya di minggu kedua bulan Juni tahun 2026.
Kami berdua berangkat dari Natar menuju Gedongtataan, dimana lokasi gunung betung ini bersarang. Jarak dari rumah saya ke gunung betung memang tidak jauh, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit.
Kami menuju gunung ini dengan menggunakan kendaraan bermotor, berboncengan.
Kami berangkat dari pukul.07.30 WIB, dengan estimasi sampai sana sekitar pukul 08.15 WIB. Kami berencana mendaki gunung betung melalui basecamp Desa Wiyono, Gedongtaan karena alasan lebih strategis dan treknya yang mudah dan sering dipilih para pendaki. Meskipun pendaki juga bisa melakukan pendakian via jalur pendakian Gunung Betung Via Sukawera, Kemiling Bandar Lampung.
Tepat sesuai prediksi, pada pukul sekitaran 8.30 WIB kami sampai di basecamp awal gunung betung. Kemudian kami duduk sejenak, sambil sarapan terlebih dahulu. Kami duduk di gazebo sambil menyantap makanan dan minuman yang kami bawa. Kami juga pesan kopi untuk menghangatkan tubuh.
Setelah sarapan selesai, kami kemudian menuju meja registrasi untuk melakukan pendaftaran diri, menyerahkan identitas KTP sebagai jaminan keamanan, mengisi borang registrasi yang dipandu petugas, serta tidak lupa kami juga dicek isi tas yang akan dibawa ke puncak betung.
Sebagai informasi bahwa untuk biaya registrasi muncak gunung betung yaitu Rp.10.000/orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu). Sementara itu, untuk biaya parkir motor Rp.5.000, dan parkir mobil Rp.10.000.
Disini juga disediakan sewa alat tektok dan camping, mulai dari harga yang sangat bervariasi. Jadi tidak perlu cemas jika ingin mendaki gunung betung tapi tidak bawa alat camp atau lupa bawa, semuanya bisa disewa di basecamp ini. Misalnya teman-teman pendaki ingin menyewa sepatu gunung+kaos kaki, headlamp, sleeping bag, tas hydropack, tas daypack, trekking pole, tenda, dan lainnya ada lengkap disini. Untuk jas hujan juga bisa disewa/dibeli disini.
Pada sesi pengecekan ini, maka petugas pengecek akan melihat dan mencatat barang apa saja yang dibawa, termasuk makanan, minuman, dan peralatan yang dibawa.
Petugas pengecekan barang berpesan kepada kami, untuk sampah dari barang atau makanan dan minuman harus dibawa turun, tidak boleh dibuang sembarangan di atas puncak atau di jalur pendakian.
Jika kita melanggar aturan di atas, maka kita akan dikenakan sanksi, bahkan backlist seumur hidup tidak boleh kembali summit atau muncak ke gunung betung.
Selain itu, jumlah sampah yang dibawa turun harus sama saat dibawa naik puncak. Jikalau sampah yang dibawa turun ada yang kurang lengkap maka pendaki harus membayar denda, per sampah plastik yaitu Rp.30.000 rupiah. Nominal ini memang terlihat agak mahal, melebihi biaya parkir mobil, namun ini kita ambil sisi positifnya bahwa agar setiap para pendaki memiliki kesadaran penuh akan pentingnya membuang sampah pada tempat yang semestinya.
Selain itu, memberi pembelajaran berharga agar para pendaki semakin peduli (aware) dengan kelestarian lingkungan hidup di gunung. Gunung harus bersih dari sampah, tidak boleh ada sampah yang menumpuk, berserakan, sehingga bisa menggangu keindahan dan keasrian gunung yang selama ini menjadi icon terbaiknya.
Aturan di atas juga bisa memberikan efek jera bagi pelaku pembuang sampah sembarang di gunung, yang tidak menerapkan prinsip keberlanjutan lingkungan agar terus memiliki ekosistem seimbang. Juga memberikan pesan kepada kita semua bahwa menjaga alam harus dimulai dari kesadaran diri kita masing-masing.
Mari berpikir waras, karena kehidupan kita juga bisa berlangsung karena hubungan timbal balik kita dengan lingkungan sekitar. Jaga kelestarian hutan di gunung, juga menjaga diri kita dari ketamakkan dan keegoisan yang merusak.
Btw, setelah pengecekkan kelengkapan barang selesai, kemudian kami meminta izin ke petugas basecamp untuk melakukan pendakian. Kemudian kami berdoa sebelum menuju puncak gunung betung.


Langkah-demi-langkah kami perkecil di awal sebagai awal pemanasan, mendistribusikan energi secara perlahan agar tubuh tidak langsung kaget karena aktivitas mendaki gunung ini termasuk aktivitas ekstrem, perlu persiapan fisik dan mental, bahkan banyak orang jauh-jauh hari harus streching mendalam, jogging, olahraga penguatan otot kaki, dan latihan-latihan pendukung lainnya.
Kami terus menelusuri jalur pendakian, setapak demi setapak kaki dilangkahkan dari post base camp, menuju pos demi pos.

Tidak terasa waktu demi waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Tidak terasa kaki yang dilangkahkan akhirnya mencapai pos ke pos. Meskipun, agak terlalu lelah, karena teman yang saya bawa mendaki ini adalah pertama kalinya dia mendaki di puncak betung. Bahkan dengan treknya yang cukup menantang membuat energi teman saya sempat drop, sehingga harus mengatur strategi agar tidak drop.
Kami beberapa kali istirahat di beberapa pos yang di lewati. Saya ingat benar energi mulai habis setelah kami berada di pos 3. Di pos ini memang benar kita perlu mengatur napas, karena sejak menuju pos 1 sampai pos 3 rute pendakiannya cukup terjal medannya, jadi dibutuhkan fisik yang prima.


Sebagai informasi bahwa, di gunung betung ini ada pos 1 sampai pos 5, yang dapat ditempuh dengan durasi waktu 3-4 jam. Kecepatan pendakian sebenarnya tergantung jenis gender, tujuan pendakian, kekuatan fisik dan psikologi setiap individu, dan juga kebiasaan setiap orang pasti beda.
Kalau tujuan pendakian untuk fun tektok mungkin perjalanan lebih dibawa santai, apalagi dengan rame-rame pastinya akan semakin seru. Perjalanan yang heterogen dari gender (ada perempuan dan laki), pastinya variasi kecepatan saat mendaki akan berbeda dengan kelompok pendaki sesama gender (hanya lelaki saja atau perempuan saja).
Tidak terasa selama 3 jam lebih perjalanan, yang dimulai pada pukul 09.30 WIB sampai dipuncak pukul 13.00 WIB. Perjalanan yang mengajarkan banyak hal, namun terbayar dengan tuntas dengan berada dipuncak gunung betung dengan suasananya yang masih adem, asri, dan banyaknya pepohonan tropis yang membuat indah gunung ini.
Yang tidak pernah terlupa dari ingatan para pendaki yang sudah pernah muncak di gunung betung bahwa disini telah disebut-sebut sebagai pusatnya kerajaan hewan pacet. Pacet di gunung ini sangat agresif menyerang para pendaki, sehingga hewan pacet ini sering menempel dan bersarang di bagian tubuh yang jarang terlihat seperti di area telapak kaki. Sehingga para pendaki sangat disarankan untuk mengenakan kaos kaki dan sepatu yang dikhususkan untuk aktivitas mountaineering.
Di puncak gunung betung, tidak lupa tentunya saya mendokumentasikan foto kami, karena setiap moment terkadang tidak bisa diulang untuk kedua kalinya.


Alhamdulillah juga saya terus beryukur karena masih diberikan kesehatan dan kekuatan sehingga bisa berada di puncak gunung betung dengan selamat. Aamiin.
Terimakasih gunung betung, kenangan penuh kesan pernah mendaki disini telah menjadi perjalanan hidup saya, dan pastinya akan selalu saya kenang. Untuk selamanya.
