Perjalanan Baru Mendaki Gunung Rajabasa 1282 – Gunung Berapi Angker Dengan Segudang “Cerita Mistis”
Perjalanan baru kali ini saya bersama rekan-rekan saya, yaitu ingin mencoba mendaki gunung rajabasa dengan ketinggian 1.281 Mdpl via Teropong Kota, Kalianda, Lampung Selatan.
Secara historis, Gunung Rajabasa adalah gunung berapi kerucut setinggi 1.282 mdpl di Lampung Selatan. Tercatat memiliki aktivitas fumarol, letusan terakhirnya tidak diketahui secara pasti, namun peningkatan aktivitas pernah dilaporkan pada April 1863 dan Mei 1892. Secara historis, kawasan kaki gunung ini juga menjadi basis pertahanan Pahlawan Nasional Radin Inten II.
Kisah berbau mistis dan legenda gunung rajabasa pernah manjadi cerita-cerita menurun lintas generasi. Misteri Gunung Rajabasa di Lampung Selatan meliputi cerita mistis “hutan terlarang”, keberadaan Danau Cinto di puncak, dan pantangan warga lokal. Gunung setinggi 1.281 sampai di ketinggian 1.282 mdpl ini juga diselimuti mitos sebagai tempat bernaungnya makhluk gaib penunggu yang menjaga kelestarian alam dan kawasan hutan tropisnya yang lebat.
Perjalanan ke gunung rajabasa kami mulai dari Natar ke Kalianda, dengan jarak tempuh sekitar 100 km. Saya estimasikan perjalanannya bisa mencapai waktu 3 jam. Karena kami berangkat jam 6 pagi sampai di Teporong Kota (basecamp gunung rajabasa) pada pukul 9 pagi.
Seperti biasanya, sesampainya di basecamp gunung rajabasa di Teropong Kota, kami langsung duduk sejenak di gazebo basecamp, sarapan, ngopi, dan persiapan pendakian – berkemas-kemas barang yang hendak kami bawa ke puncak.
Setelah dirasa semua persiapan beres, barulah kami lapor ke petugas registrasi terkait barang bawaan. Membayar biaya registrasi sebesar Rp.15.000/orang (biaya bisa berubah sewaktu-waktu), biaya parkir motor Rp.5.000, dan serta biaya parkir mobil 10.000,-. Kemudian beberapa menit selanjutnya kami izin ke petugas camp untuk berjalan menuju arah gunung yang terlihat asri dan begitu indah sudut kanan kirinya, benar-benar gunung berapi dengan sejarahnya yang penuh warna.
Di bawah jalanan lereng gunung yang kami lewati, banyak bongkahan batu-batu besar yang berserakan, dalam hati saya menduga bahwa, dulu pernah terjadi letusan berapi di gunung rajabasa ini, sebenarnya tanda-tanda ini banyak ditemukan di gunung rajabasa akan pernah terjadinya letusan vulkanis disini.
Dilansir dari situs wikipedia, bahwa terdapat kenaikan aktivitas di gunung rajabasa yang dilaporkan terjadi pada April 1863 dan Mei 1892 serta tidak diketahui kapan terjadi erupsi. Gunung ini diperkirakan meletus berdekatan dengan setelah meletusnya gunung krakatau purba pada 1883 silam. Adanya bukti letusan gunung rajabasa yaitu adanya cekungan danau di atas gunung rajabasa, adanya sumber mata air panas wai belerang juga menjadi saksi sejarah bahwa gunung ini pernah mengalami aktivitas vulkanis dan letusan kala itu.
Kami berdua kemudian melakukan perjalanan, menuju jalanan setapak di bawah lereng gunung rajabasa menuju pos 1. Sebelum sampai ke pos 1, kami menyaksikan banyak perkebunan warga yang ditanami pisang, pala, lada, kopi, jagung, dan tanaman semusim lainnya. Ditemukan juga ada mata air terakhir yang bisa dimanfaatkan oleh para pendaki untuk sekedar cuci muka, mengambil air untuk diminum, atau dimasukkan ke dalam botol minum untuk cadangan.
Jarak sumber mata air menuju pos 1 memang tidak jauh, ditempuh dengan waktu sekitar 3 menit saja. Jujur jalanan trek dari basecamp registrasi menuju basecamp pos 1 ini memiliki jalanan yang cukup stabil-sem menanjak yang cukup ekstrem, sehingga dibutuhkan kekuatan fisik dan mental.
Sampai di basecamp pos 1, kemudian kami istirahat sejenak, sekitar 20 menitanlah, kami makan cemilan, minum, dan kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju pos 2 dan seterusnya hingga menuju puncak. Tidak lupa saya berfoto di plang papan bertuliskan “Pintu Rimba MT.Rajabasa“.

Perjalanan yang cukup melelahkan dari trek pos 1 sampai ke pos 3 itu memang nyata. Ini telah diakui oleh banyak para pendaki, bahwa untuk mendaki gunung rajabasa, tantangan sebenarnya adalah saat berada di trek pos 1 sampai dengan pos 3, kemudian dari pos 4 ke pos 5 dan menuju puncak relatif stabil treknya, tidak terlalu parah yang sehingga bisa membuat fisik dan mental terkuras. Cuma disini tinggal persiapan pribadi masing-masing pendaki. Jika mindset mendaki dan persiapan disiapkan dengan baik maka semua akan terlewati dengan baik.
Pesan saya bahwa untuk mendaki di gunung rajabasa dengan trek yang cukup luas dan panjang perlu persiapan fisik dan mental jauh-jauh hari. Perlunya penguatan otot-otot sekitaran kaki, streching atau pemanasan sebelum mendaki gunung yang penuh misteri ini. Karena kita tidak tahu bahwa di gunung apa saja, kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa terprediksi bisa terjadi dengan cepat. Maka, persiapan fisik dan mental, juga perlu diimbangi dengan persiapan logistik yang memadai/cukup adalah hal penting.

Saya menafsirkan bahwa walaupun terlihat ketinggian gunung ini hanya 1.281 Mdpl, namun treknya cukup berat, seperti kita merasakan bahwa kita diajak berputar-putar menuju trek pendakian yang serasa seperti sangat lama sekali sampai di puncak.
Banyak pendaki yang menghabiskan waktu perjalanan menuju gunung ini, di sepanjang trek panjang dengan estimasi waktu bisa lebih dari 4 jam atau bahkan lebih. Disuguhi pemandangan indah, terutama dengan pepohonannya yang besar dan tinggi-tinggi.


Saya hampir 4 jam perjalanan dari basecamp registrasi menuju puncak. Waktu yang menurut saya agak lama dari biasanya dibandingkan jika saya harus mendaki gunung betung dengan jarak ketinggian mdpl yang hampir sama disekitar 1.200-an Mdpl.
Selama perjalanan dari pos ke pos, saya menemukan banyak cerita disini, setiap pos pastinya memiliki sisi sejarah dan pengingat yang berbeda. Semakin ke atas pos, maka jenis tanamannya juga semakin beragam, terutama saat berada di pos 4 menuju pos terakhir (pos 5), saya disajikan pepohonan tropis yang usianya mulai puluhan hingga ratusan tahun. Pepohonan yang di bagian ranting-rantingnya ditumbuhi lumut. Selain itu, banyak juga tanaman paku (Pterydophyta) di kawasan gunung ini.

Sesampainya di puncak kami menikmati seisinya, melihat di setiap sisi bagian puncaknya, namun saat kami berada di puncak, kondisinya sedang mendung dan gerimis – sehingga jarak pandang menuju keindahan puncak kurang terlihat secara sempurna.

Namun, kami tetap beruntung, dengan pencahayaan seadanya, kami masih bisa berswafoto, menikmati setiap detik demi detik berada di suasana puncak gunung rajabasa.

Gunung rajabasa begitu indah, dengan komposisi ekosistem yang bergitu kompleks. Hutannya masih alami, sejuk, dan kerapatan pohonnya masih terjaga dengan baik.
Gunung rajasa, tunggu saya akan kembali lagi 🙂 🙂 🙂
Oya di bawah ini adalah video saya mencoba trail run dari puncak gunung rajabasa menuju lereng basecamp registrasi 🙂

Wah, baca tulisan ini rasanya seperti ikut melangkah di jalur pendakian Gunung Rajabasa hihi… capeknya terasa, tapi rasa penasarannya juga ikut tumbuh di setiap paragraf.
Aku suka banget antara menyeimbangkan cerita tentang keindahan alam dengan berbagai kisah mistis yang sudah lama melekat di gunung ini. Jadi pembaca diajak menikmati pendakiannya tanpa merasa cerita mistis itu sekadar sensasi, melainkan bagian dari budaya dan cerita yang hidup di masyarakat sekitar.
Aku sendiri selalu percaya, mendaki gunung itu bukan cuma soal mencapai puncak, tapi juga belajar menghormati alam dan menjaga sikap selama perjalanan. Tulisan ini berhasil loh, menyampaikan itu dengan natural, sehingga setelah selesai membaca, yang tertinggal bukan rasa takut, melainkan rasa kagum dan keinginan untuk suatu hari melihat sendiri megahnya Gunung Rajabasa.
Makasih kak Tanti Amelia atas komentarnya. Keindahan alam di Gunung Rajabasa Lampung ini memang begitu ketara, hutannya yang masih alami, asri, hijau, flora-faunanya yang endemik,serta kearifan lokalnya yang masih terjaga menjadikan gunung ini penuh tantangan dan misteri 🙂 keren dan wajib banget sih para pendaki summit ke Gunung Rajabasa ini 🙂 seruuu pastinya. Treknya menantyang.
Wiiih seruuu…
Secara ketinggian sih belum sampe 1500 ya pak
tapi lihat treknya sih rasanya ‘syedaaap” itu bikin paha pedess hihii
Semangat pak guru, aku jadi keinget tahun ini belum ada sama sekali hiking huhu
Yoi kak Suci, treknya hadeh, banyak pendaki yang kapok balik kesini karena treknya lumayan sih 😀
Betul sekali, ketinggian MDPL sebuah gunung kadang memang “menipu”. Meskipun 1.281 MDPL, kalau treknya terus menanjak, memutar, ditambah bonus bebatuan besar sisa aktivitas vulkanis masa lalu, pasti tetap menguras fisik dan mental. Makanya saya setuju banget dengan pesannya. Persiapan harus ebnar-benar matang.
Iya kak Myra hehe… terkadang mdpl menipu, padahal treknya dibikin muter2 wkwkwk, akhirnya kok gak nyampe-nyampe eaaa 😀
Keren Pak Wahid, sudah menaklukkan Gunung Rajabasa. Perjalanan yang pastinya tidak gampang ya, tetapi terbayarkan dengan indahnya alam permai yang bisa dinikmati.
Iya kak, seru walaupun mdpl rendah, cuma cukup menguras energi bagi pemula seperti ini 🙂
Baca pengalaman hiking yang satu ini auto bikin saya kangen sama suasana pendakian. Gunung Rajabasa ini kalau secara MDPL nampak nggak begitu tinggi, tapi trek nya mantep sekali dan senang melihat alamnya masih asri serta terjaga. semoga saja para pendaki bukan hanya sekadar menikmati alam namun turut serta menjaga kebersihan, tidak buang sampah sembarangan, bawa sampahnya ke bawah, dan nggak sompral serta merusak ekosistem yang ada di gunung.
Betul banget kak Lala, Gunung Rajabasa ini masih terbilang alami sekali hutannya. Pepohonan tropisnya tinggi2, lebat, dan sejuk udara di sekitar gunungnya.
kesimpulannya, untuk pemula sebaiknya jangan dulu ya mencoba mendaki gunung Rajabasa. Setuju sih sebelum mendaki harus menakar dulu kemampuan dan ada persiapan fisik juga, intinya jangan sampe merepotkan orang lah kalau ada apa apa. Selintas kepikiran yg orang dengan bobot besar mendaki gunung di mana gitu, ga kuat. akhirnya digendong turun sm petugas.
Betul banget kak Diah, bahwa naek gunung perlu persiapan fisik dan mental yang kuat. Harus kondisi sedang fit juga, agar pendakian berjalan normal dan tanpa kendala :). Jangan lupa juga yang paling terpenting bawa logistik makanan/minuman, pakaian ganti, rain coat, dll yang cukup selama pendakian, agar lega saat di gunung.
Meski cuaca sedang mendung dan sesekali gerimis sehingga jarak pandang menjadi terbatas, justru foto-fotonya menghadirkan suasana yang syahdu dan dramatis. Ada kesan tenang sekaligus membuat saya semakin menghargai perjuangan untuk mencapai puncak.
Saya sendiri bukan pendaki gunung, jadi selalu kagum dengan semangat dan ketangguhan para pendaki. Apalagi Gunung Rajabasa dikenal memiliki medan yang cukup menantang serta menyimpan banyak cerita yang menyertainya. Saya jadi bisa ikut menikmati pesona Rajabasa dari balik layar, meski mungkin belum berani mendakinya sendiri.
Suasana berkabut di hutan dan gunung saya paling suka, serasa lebih natural dan menenangkan 🙂
Seneng akhirnya melihat artikel yang berbeda dari apa yang biasa Mas Wahid tulis di blog ini. Ruang ini jadi lebih hidup dan berwarna. Jadi sering-sering lah nulis tentang traveling ya Mas hahahaha.
BTW, cerita tentang gunung dan pendakian di mana pun sepertinya selalu jadi obrolan banyak orang. Gunung selalu punya cerita tersembunyi yang disampaikan dari mulut ke mulut. That’s why saya jarang banget menyentuh gunung. Hawanya memang berbeda dibandingkan dengan pantai misalnya. Selalu merinding setiap dengar cerita tentang “keajaiban” gunung ini. Apalagi saya termasuk orang yang sensitif dengan lingkungan atau tempat-tempat yang punya catatan spesial seperti halnya Gunung Rajabas ini.
Siap kak Annie, makasih sarannya. Insha Allah ikuti saran kak Annie, bakal sy tulis kisah2 traveling, dll di blog pribadi saya ini. Makasih kak 🙂
jadi inget masa muda, hehehe
Dulu saya ikut komunitas pendaki gunung di Sukabumi dan baru menaklukan Gunung Gede terus setop karena keburu pindah ke Bandung
Mendaki gunung itu sensasi “penaklukan”nya yang bikin ketagihan ya?
Aku malahan belum pernah ke gunung Gede. Pengen kapan2 mau kesitu, insha Allah.
Widiiih, membaca petualangan mendaki gunung Mas Wahid ini, aku berasa ikut dalam pendakian deh. 😄 Jujur, kisah pendakian Gunung Rajabasa ini bikin ikut deg-degan, apalagi pas bagian yang menyinggung cerita-cerita mistisnya. Tapi justru itu yang bikin perjalanan ini terasa makin berkesan.
Walaupun sekarang aku sudah menggantung sepatu gunung, lewat tulisan ini jadi kayak terpanggil buat mendaki lagi. Eee… tapi nggak deh. 😆 Di usia setengah abad lebih ini, menikmati cerita dari para pendaki rasanya sudah lebih dari cukup, hehe.
Terima kasih sudah berbagi cerita, Mas Wahid. Sehat selalu ya. Semoga next pendakiannya selalu lancar dan pulang bawa cerita seru lagi! ⛰️😊
Iya kak Alaika, makasih kak, ayoh dech, mendaki gunung lagi 🙂 seruuuu
daku engehnya Rajabasa adalah terminal karena pernah ke Lampung nengokin Paman, eh ternyata itu terinspirasi dari nama Gunung ya, dan punya kisah menarik pula
Hahaha, iya kak, emang ada sih terminal Rajabasa, cuma ini gunung kak 🙂
Baru denger nama gunung Rajabasa ini, dari segi ketinggian masih di bawah gunung lainnya ya, tapi ya tetap saja memiliki kesulitan sendiri. Saya suka foto akar-akar pohon yang terlihat itu, cantik, tapi kalau sudah gelap mungkin deg-deg ser seram yaa. Aih tempat cantik gini emang selalu butuh perjuangan untuk sampai
Aku suka banget sama tampilan blognya mas Wahid.
Soalnya ada video teaser di sebelah kiri yang membuat artikelnya menjadi semakin menarik.
Gunung Rajabasa treknya mengagumkan.
Aku jadi inget kalo keluarga besarku sering cari rute trekking yang ramah bagi lansia. Tapi kalau melihat kisah mas Wahid, Gunung Rajabasa ini untuk pendaki menengah yaa.. yang latian jalannya uda rutin.
Terimakasih kak Lendy. Yups, betul sekali kak, bahwa untuk trek gunung Rajabasa ini lebih ke pendaki pemula dan menengah. Lumayan menguras energi walaupun mdpl masih di bawah 2K. Cukup bikin kaki pegel sih kalo yg belum terbiasa. Penting latihan fisik seperti jogging dan lari sebelum trekking ke gunung Rajabasa.
yang kutangkap dari cerita Kak Wahid nih mendaki gunung bukan cuma soal persiapan fisik dan perbekalan doang ya. Mental juga.
Adikku tuh pernah pamit mau ikutan ndaki gunung sama temannya. Aku khawatirnya nggak karuan. Meski dia sudah kuperingati untk persiapan.
Untungnya perjalanannya lancar.
Iya mbak, semoga para penggiat alam terbuka, khususnya di gunung memang harus persiapan matang, baik itu persiapan logistik, fisik dan mental perlu dipersiapkan jauh2 hari.