Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

#BlogPost

Perjalanan Baru Mendaki Gunung Rajabasa 1282 – Gunung Berapi Angker Dengan Segudang “Cerita Mistis”

4 Juli 2026 Mountaineering
Perjalanan Baru Mendaki Gunung Rajabasa 1282 – Gunung Berapi Angker Dengan Segudang “Cerita Mistis”

Perjalanan baru kali ini saya bersama rekan-rekan saya, yaitu ingin mencoba mendaki gunung rajabasa dengan ketinggian 1.281 Mdpl via Teropong Kota, Kalianda, Lampung Selatan.

Secara historis, Gunung Rajabasa adalah gunung berapi kerucut setinggi 1.282 mdpl di Lampung Selatan. Tercatat memiliki aktivitas fumarol, letusan terakhirnya tidak diketahui secara pasti, namun peningkatan aktivitas pernah dilaporkan pada April 1863 dan Mei 1892. Secara historis, kawasan kaki gunung ini juga menjadi basis pertahanan Pahlawan Nasional Radin Inten II.

Kisah berbau mistis dan legenda gunung rajabasa pernah manjadi cerita-cerita menurun lintas generasi. Misteri Gunung Rajabasa di Lampung Selatan meliputi cerita mistis “hutan terlarang”, keberadaan Danau Cinto di puncak, dan pantangan warga lokal. Gunung setinggi 1.281 sampai di ketinggian 1.282 mdpl ini juga diselimuti mitos sebagai tempat bernaungnya makhluk gaib penunggu yang menjaga kelestarian alam dan kawasan hutan tropisnya yang lebat.

Perjalanan ke gunung rajabasa kami mulai dari Natar ke Kalianda, dengan jarak tempuh sekitar 100 km. Saya estimasikan perjalanannya bisa mencapai waktu 3 jam. Karena kami berangkat jam 6 pagi sampai di Teporong Kota (basecamp gunung rajabasa) pada pukul 9 pagi.

Seperti biasanya, sesampainya di basecamp gunung rajabasa di Teropong Kota, kami langsung duduk sejenak di gazebo basecamp, sarapan, ngopi, dan persiapan pendakian – berkemas-kemas barang yang hendak kami bawa ke puncak.

Setelah dirasa semua persiapan beres, barulah kami lapor ke petugas registrasi terkait barang bawaan. Membayar biaya registrasi sebesar Rp.15.000/orang (biaya bisa berubah sewaktu-waktu), biaya parkir motor Rp.5.000, dan serta biaya parkir mobil 10.000,-. Kemudian beberapa menit selanjutnya kami izin ke petugas camp untuk berjalan menuju arah gunung yang terlihat asri dan begitu indah sudut kanan kirinya, benar-benar gunung berapi dengan sejarahnya yang penuh warna.

BACAAN LAINNYA:  Pengalaman Berkesan Mendaki Gunung Betung di Ketinggian 1.240 Mdpl

Di bawah jalanan lereng gunung yang kami lewati, banyak bongkahan batu-batu besar yang berserakan, dalam hati saya menduga bahwa, dulu pernah terjadi letusan berapi di gunung rajabasa ini, sebenarnya tanda-tanda ini banyak ditemukan di gunung rajabasa akan pernah terjadinya letusan vulkanis disini.

Dilansir dari situs wikipedia, bahwa terdapat kenaikan aktivitas di gunung rajabasa yang dilaporkan terjadi pada April 1863 dan Mei 1892 serta tidak diketahui kapan terjadi erupsi. Gunung ini diperkirakan meletus berdekatan dengan setelah meletusnya gunung krakatau purba pada 1883 silam. Adanya bukti letusan gunung rajabasa yaitu adanya cekungan danau di atas gunung rajabasa, adanya sumber mata air panas wai belerang juga menjadi saksi sejarah bahwa gunung ini pernah mengalami aktivitas vulkanis dan letusan kala itu.

Kami berdua kemudian melakukan perjalanan, menuju jalanan setapak di bawah lereng gunung rajabasa menuju pos 1. Sebelum sampai ke pos 1, kami menyaksikan banyak perkebunan warga yang ditanami pisang, pala, lada, kopi, jagung, dan tanaman semusim lainnya. Ditemukan juga ada mata air terakhir yang bisa dimanfaatkan oleh para pendaki untuk sekedar cuci muka, mengambil air untuk diminum, atau dimasukkan ke dalam botol minum untuk cadangan.

Jarak sumber mata air menuju pos 1 memang tidak jauh, ditempuh dengan waktu sekitar 3 menit saja. Jujur jalanan trek dari basecamp registrasi menuju basecamp pos 1 ini memiliki jalanan yang cukup stabil-sem menanjak yang cukup ekstrem, sehingga dibutuhkan kekuatan fisik dan mental.

Sampai di basecamp pos 1, kemudian kami istirahat sejenak, sekitar 20 menitanlah, kami makan cemilan, minum, dan kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju pos 2 dan seterusnya hingga menuju puncak. Tidak lupa saya berfoto di plang papan bertuliskan “Pintu Rimba MT.Rajabasa“.

BACAAN LAINNYA:  Menapaki Jejak Gunung Berapi Purba "Puncak Ratai" di Ketinggian 1.682 Mdpl

Perjalanan yang cukup melelahkan dari trek pos 1 sampai ke pos 3 itu memang nyata. Ini telah diakui oleh banyak para pendaki, bahwa untuk mendaki gunung rajabasa, tantangan sebenarnya adalah saat berada di trek pos 1 sampai dengan pos 3, kemudian dari pos 4 ke pos 5 dan menuju puncak relatif stabil treknya, tidak terlalu parah yang sehingga bisa membuat fisik dan mental terkuras. Cuma disini tinggal persiapan pribadi masing-masing pendaki. Jika mindset mendaki dan persiapan disiapkan dengan baik maka semua akan terlewati dengan baik.

Pesan saya bahwa untuk mendaki di gunung rajabasa dengan trek yang cukup luas dan panjang perlu persiapan fisik dan mental jauh-jauh hari. Perlunya penguatan otot-otot sekitaran kaki, streching atau pemanasan sebelum mendaki gunung yang penuh misteri ini. Karena kita tidak tahu bahwa di gunung apa saja, kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa terprediksi bisa terjadi dengan cepat. Maka, persiapan fisik dan mental, juga perlu diimbangi dengan persiapan logistik yang memadai/cukup adalah hal penting.

Saya menafsirkan bahwa walaupun terlihat ketinggian gunung ini hanya 1.281 Mdpl, namun treknya cukup berat, seperti kita merasakan bahwa kita diajak berputar-putar menuju trek pendakian yang serasa seperti sangat lama sekali sampai di puncak.

Banyak pendaki yang menghabiskan waktu perjalanan menuju gunung ini, di sepanjang trek panjang dengan estimasi waktu bisa lebih dari 4 jam atau bahkan lebih. Disuguhi pemandangan indah, terutama dengan pepohonannya yang besar dan tinggi-tinggi.

Saya hampir 4 jam perjalanan dari basecamp registrasi menuju puncak. Waktu yang menurut saya agak lama dari biasanya dibandingkan jika saya harus mendaki gunung betung dengan jarak ketinggian mdpl yang hampir sama disekitar 1.200-an Mdpl.

BACAAN LAINNYA:  Menapaki Jejak Gunung Berapi Purba "Puncak Ratai" di Ketinggian 1.682 Mdpl

Selama perjalanan dari pos ke pos, saya menemukan banyak cerita disini, setiap pos pastinya memiliki sisi sejarah dan pengingat yang berbeda. Semakin ke atas pos, maka jenis tanamannya juga semakin beragam, terutama saat berada di pos 4 menuju pos terakhir (pos 5), saya disajikan pepohonan tropis yang usianya mulai puluhan hingga ratusan tahun. Pepohonan yang di bagian ranting-rantingnya ditumbuhi lumut. Selain itu, banyak juga tanaman paku (Pterydophyta) di kawasan gunung ini.

Sesampainya di puncak kami menikmati seisinya, melihat di setiap sisi bagian puncaknya, namun saat kami berada di puncak, kondisinya sedang mendung dan gerimis – sehingga jarak pandang menuju keindahan puncak kurang terlihat secara sempurna.

Namun, kami tetap beruntung, dengan pencahayaan seadanya, kami masih bisa berswafoto, menikmati setiap detik demi detik berada di suasana puncak gunung rajabasa.

Gunung rajabasa begitu indah, dengan komposisi ekosistem yang bergitu kompleks. Hutannya masih alami, sejuk, dan kerapatan pohonnya masih terjaga dengan baik.

Gunung rajasa, tunggu saya akan kembali lagi 🙂 🙂 🙂

Oya di bawah ini adalah video saya mencoba trail run dari puncak gunung rajabasa menuju lereng basecamp registrasi 🙂

Write a comment