Menapaki Jejak Gunung Berapi Purba “Puncak Ratai” di Ketinggian 1.682 Mdpl
Di pendakian kali ini, saya akan berkelana di salah satu gunung di daerah kabupaten Pesawaran, Lampung. Nama gunungnya adalah Mt.Ratai (Gunung Ratai/Puncak Ratai). Biasanya orang mengatakan gunung ini sebagai gunung sukmo ilang, yang artinya “jiwa yang hilang”.
Konon, dari beberapa informasi yang saya tanyakan ke petugas basecamp, bahwa di gunung ini pernah ada pendaki yang hilang, atau ditemukan dalam kondisi meninggal. Banyak juga pendaki yang kehilangan arah saat mendaki, karena mereka percaya di gunung ini ada pantangan, serta penunggunya.
Gunung Ratai Pesawaran ini memiliki ketinggian sekitar 1.682 Mdpl, dengan tipe vegetasi yang cukup lebat dengan pepohonan tropis. Di daerah lereng gunung ini, para petani lokal/pekebun menanam berbagai macam jenis tanaman seperti kopi dan juga pohon pala. Di temui juga pepohonan perdu hingga berkayu yang puluhan atau ratusan tahun yang mungkin sudah menghuni kawasan gunung tersebut.

Pada pendakian kali ini, saya penasaran ingin melakukan pendakian solo (solo hiking). Saya sama sekali sendirian untuk menuju puncak.
Saya memulai pendakian melalui jalur via Puncak Punggung Naga yang dimulai dari Dusun Sidoharjo, Desa Pesawaran Indah, Kecamatan Way Ratai. Setelah sampai di lokasi, saya memarkirkan motor (biaya parkir motor 5 ribu rupiah), jika mobil biaya parkir 10 ribu rupiah).
Setelah memarkirkan kendaraan, kemudian saya duduk sebentar di gubuk gazebo sambil packing perlengkapan apa saja yang saya butuhkan sebelum mendaki. Saat semua perlengkapan dirasa siap, kemudian saya diizinkan untuk mendaki menuju basecamp utama yang jaraknya kurang lebih 5km (estimasi jalan kaki yaitu 1 jam). Jika mau naik ojek juga bisa, dikenakan tarif 30 ribu rupiah (sekali jalan).
Kemudian setelah sampai di basecamp utama, kemudian saya melakukan pembelian tiket dan registrasi diri ke petugas yang sudah menunggu di depan meja yang tertata rapih. Untuk harga tiket pendakian cukup terjangkau yaitu 30 ribu rupiah. Di basecamp utama ini juga akan dicek barang bawaan, serta diharapkan sampah bekas makanan, dll harus tetap dibawa saat sudah turun dan dicek kembali. Jika sampah tidak dibawa turun, maka akan dikenakan denda.
Oya, di basecamp utama ini juga ada warung yang bisa digunakan untuk membeli air minum, dan juga makanan ringan (snack-snack kecil), bisa untuk dibawa ke puncak.
Saat registrasi sudah dilakukan, kemudian saya mulai melangkahkan kaki menuju jalur pendakian. Namun tidak lupa dong saya melakukan sesi foto solo dengan meminta bantuan petugas yang ada di basecamp utama.

Setelah sesi foto, barulah saya berangkat summit ke puncak. Di sepanjang jalur pendakian, memang di kiri kanannya banyak ditumbuhi aneka pohon tropis, dengan berbagai karakteristik lingkar tahun pada bagian batang pohonnya. Saya memprediksi dari lingkar batangnya, tanaman-tanaman disini memiliki umur di atas rata-rata 30 sampai 100 tahunan.
Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapa jam perjalanan, sampai juga saya di pintu rimba Gunung Ratai. Itu artinya saya sudah di step awal untuk menuju ke pos-pos selanjutnya. Seru sih, cuma memang fisik dan mental mulai diadu disini 🙂

Selain keanekaragaman hayati floranya, saya juga mendengar beberapa kali jeritan suara siamang, cenggeret pohon, dan juga berbagai kicauan burung dari arah saya menapakkan kaki menuju puncak.
Selain keanekaragaman flora dan faunannya yang begitu unik, juga dari tipografi kontur tanahnya memang lebih cenderung ke tanah merah, dan sedikit tanah yang berwarna keabu-abuan dan ini meyakinkan saya bahwa dahulu di gunung ini mungkin pernah terjadi aktivitas vulkanik. Hal ini ditandai juga dengan banyaknya bongkahan batu-batu besar yang ditumbuhi lumut (Bryophyta) dan juga beberapa tanaman paku (Pterydophyta).

Setelah saya sampai di puncak Ratai, saya sangat terkesima dengan potret suasananya yang masih cukup asri. Bongkahan batu besar, pepohonan yang besar dan cukup rapat membuat kamera bidikan menjadi kurang tercahayai.
Di atas puncak Ratai ini terdapat Tugu Ratai atau biasa disebut sebagai Tugu Triangulasi. Di tugu inilah saya melakukan sesi potret. Saya beberapa kali meminta tolong pendaki lain untuk memfoto pose saya persis di samping tugu tersebut. Konon, tugu ini memang sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda sebagai tanda tertentu, untuk memetakan suatu wilayah kepemilikan, atau batas wilayah. Dari beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Tugu beton berbentuk pilar ini merupakan penanda titik triangulasi (pemetaan topografi kuno) yang menjadi bukti sah bahwa pendaki telah mencapai titik tertinggi gunung tersebut.



Setelah sesi foto selesai, barulah saya istirahat sejenak, dan dilanjutkan dengan kembali menuju basecamp.
Btw, dari perjalanan pendakian ke gunung Ratai Pesawaran Lampung ini ada beberapa pengalaman penting yang saya dapatkan, termasuk bagaimana nikmat kesehatan ini penting dijaga dengan berjalan kaki, melatih kesabaran untuk menuju ke puncak, melatih keramahan terhadap orang lain, juga kemandirian.
Terimakasih gunung Ratai, suatu saat saya akan kembali 🙂
