Apa Saja Perbedaan Bioteknologi Konvensional dan Bioteknologi Modern?
Bioteknologi merupakan ilmu terapan biologi yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiologi, biokimia, genetika, dan biologi molekuler.
Bioteknologi dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah (value) bahan pangan dengan memanfaatkan kemampuan mikroorganisme atau bagian-bagiannya, misalnya bakteri dan kapang. Selain itu, bioteknologi juga memanfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan yang dibiakkan sebagai bahan dasar berbagai proses industri olahan makanan dan lain sebagainya.
Dewasa ini, penerapan bioteknologi sangat penting di berbagai bidang, misalnya di bidang pengolahan bahan pangan, farmasi, kedokteran, pertanian, pengolahan limbah, dan pertambangan.
Bioteknologi tidak terlepas dari peran mikroorganisme sebagai subjek (pelaku). Mikroorganisme yang dimaksud yakni virus, bakteri, jamur, alga, dan protozoa. Mikroorganisme dijadikan pelaku dalam bioteknologi karena beberapa alasan seperti reproduksinya sangat cepat, mudah diperoleh di lingkungan sekitar tempat tinggal, mempunyai sifat tetap, melalui teknik rekayasa genetika, serta dapat menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia.
Sejak tahun 6000 SM, orang telah mengenal proses fermentasi pada bahan makanan/bahan pangan, misalnya untuk membuat bir atau sake. Namun, bukti nyata bahwa fermentasi dilakukan oleh mikroorganisme, baru diketahui setelah dilakukan penelitian oleh Louis Pasture (1857-1876).
Saat ini, teknologi produksi bahan makanan melalui fermentasi dikategorikan sebagai bioteknologi konvensional. Contoh bioteknologi konvensional misalnya pada pembuatan tapai ketan menggunakan jamur/kapang Sacharomyces sereviceae, pembuatan nata de coco menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Dalam pembuatan keju menggunakan bakteri asam laktat yang memecah glukosa menjadi asam laktat, serta dalam pembuatan tempe menggunakan Rhizopus oryzae dan Rhizopus oligosporus. Pembuatan minuman yogurt dan yakult juga menggunakan bakteri asam laktat dari golongan Lactobacillus sp. dan Streptococcus sp., yakni Lactobacillus caseii (pembuatan minuman yakult), Lactobacillus bulgaricus, dan Streptococcus thermophillus. Dalam pembuatan kecap juga menggunakan jamur dari golongan Aspergillus wentii.
Sedangkan, teknologi yang diterapkan untuk menghasilkan produk dalam skala industri dengan menggunakan organisme transgenik, sistem, atau proses bioteknologi dikategorikan sebagai bioteknologi modern. Bioteknologi modern ini sangat bergantung pada mikrobiologi, biokimia, dan rekayasa genetika. Beberapa contoh bioteknologi modern yang melibatkan mikroobiologi, biokimia dan rekayasa diantaranya yaitu teknik plasmid, teknik hibridoma, terapi gen, kloning (pengklonaan), dan lain sebagainya.
Berikut ini perbedaan antara bioteknologi konvensional/bioteknologi tradisional dan bioteknologi modern, antara lain:
| Kriteria Pembedanya | Bioteknologi Konvensional | Bioteknologi Modern |
| Teknologi/alat yang digunakan | Teknologi/alat yang digunakan relatif sederhana | Teknologi yang digunakan relatif modern |
| Kondisi lingkungan | Relatif tidak steril | Harus steril |
| Harga | Lebih murah dan terjangkau | Relatif mahal |
| Penggunaan mikroba | Mikroba sederhana seperti jamur (kapang), dan bakteri. | Mikroba biasanya berasal dari virus, kadang-kadang menggunakan bakteri |
| Teknik yang digunakan | Masih manual/menggunakan tangan dan biasanya cenderung ke proses fermentasi (fermentasi alkohol, fermentasi asam laktat, fermentasi tempe, dan lain sebagainya). | Lebih modern, karena menggunakan rekayasa genetika (memanipulasi DNA/RNA). |
| Produk yang biasanya dihasilkan | Biasanya produk-produk fermentasi seperti tempe, tauco, yogurt, tape, keju, nata de coco, kecap, dan lain sebagainya) | Biasanya produk-produk rekayasa genetika yang dihasilkan berupa vaksin, kultur jaringan, bayi tabung, domba doly, golden rice, hormon insulin, insulin, sel punca, antibodi monoklonal, kultur embrio, inseminasi buatan, hewan dan tumbuhan transgenik, buah tanpa biji, dan lain sebagainya. |
Itulah tadi tabel perbedaan antara bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern yang perlu kita ketahu bersama, sehingga setidaknya kita akan semakin tahu tentang bahan-bahan pangan dan juga produk rekayasa genetika hasil dari berbagai penerapan keilmuan dan bioteknologi modern.
