Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

#BlogPost

Karhutla, Bencana Ekologis yang Merugikan Kita

16 Oktober 2026 Lingkungan
Karhutla, Bencana Ekologis yang Merugikan Kita

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) merupakan bencana alam ekologis yang bisa merugikan manusia dan juga makhluk lain yang berada di sekitarnya.

Bencana alam ini nyaris sering kali terjadi pada lahan dan hutan yang luas, sehingga pemerataan api bisa di sepanjang medan. Memang lumayan sulit untuk menanggulangi karhutla jika pihak pemerintah, swasta, maupun lembaga/kementerian, maupun masyarakat dan pihak terkait hanya terdiam membisu, tidak mau ikut bergerak menanggulanginya. Semua hal ini dibutuhkan sinergisitas, kolaborasi, dan semangat dari semua pihak untuk memulihkan hutan dan lahan dari kebakaran yang masih sering terjadi setiap tahunnya.

Hutan kita, yang menyimpan maanfaat ekologis seringkali menjadi korban keganasan api, terutama di musim kemarau, karena sudah dipastikan banyak sisa-sisa dedaunan/ranting batang/akar yang kering, sehingga mudah terbakar. Apalagi hutan gambut, sangat mudah terbakar, dan kobaran api atau baranya masih tersisa di dalam lahan bergambut tersebut hingga berminggu-minggu. Seringkali bisa saja memunculkan lubang api di bawah tanah.

Hutan-hutan yang kita sayangi, dan yang memeluk kita setiap hari, memberi napas setiap saat, adalah bukti bahwa hutan penuh cinta untuk kita. Lalu mengapa kita terdiam, tidak mau merawat dan melestarikan hutan? mengapa kita terkadang tega membakarnya? apakah kita lupa bahwa, nyawa kehidupan kita juga berasal dari hutan.

Oksigen yang kita hirup bernapas setiap hari berasal dari oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis berupa gula yang disimpan di bagian buah, batang, daun, akar, dan umbi sering kali kita manfaatkan untuk pangan, lalu dengan sebegitu tega kita membakar hutan dan lahannya hingga habis tak tersisa? Apakah kita sebagai makhluk berakal tidak pandai bersyukur atas karunia-Nya?

BACAAN LAINNYA:  Upaya APRIL Mendukung Presidensi P20-G20 Untuk Ekonomi Hijau di Indonesia Pasca Krisis Global

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama ini juga merupakan hal yang tidak bisa kita tinggal diam, semua pihak perlu bergerak untuk menanggulangi bencana alam ekologis ini. Karena kejadian ini juga pengingat bagi kita untuk selalu melindungi dan melestarikan hutan dari lintas generasi ke generasi.

Hari ini kita semua warga pertiwi sedang bersedih, sedang menonton fenomena hutan-hutan kita seperti di Pulau Kalimantan sedang terbakar. Padahal, hutan-hutan kita ini adalah “paru-paru” yang memberikan nyawa setiap hari. Memberikan udara segar untuk bernapas. Memberikan suasana lingkungan sejuk, nyaman, tentram dan damai.

Tidak hanya di Kalimantan, di pulau Sumatera dan beberapa daerah lainnya di Indonesia juga kita semua sedang ikut bersedih. Hutan-hutan dan lahannya sedang menderita, terbakar, dan banyak juga keanekaragaman hayati musnah. Banyak juga satwa-satwa kita disana kehilangan tempat tinggal, semua lenyap, dan hanya ada satu harapan “mari kita pulihkan kembali hutan kita“.

Memulihkan hutan tidak segampang “membalikkan telapak tangan”, karena ini membutuhkan tenaga besar, materi, waktu dan juga pengorbanan yang tidak sedikit.

Dari segi materi yang dikeluarkan juga tidaklah sebanding dengan kita membakarnya. Tentu saja banyak anggaran yang dibutuhkan untuk memulihkan hutan (reforestasi), misalnya pembelian bibit tanaman produktif yang sesuai dengan prototipe lahan setempat. Dari segi tenaga tentu saja membutuhkan peran besar dari semua pihak, baik dari pemerintahan maupun pihak swasta, komunitas pencinta lingkungan dan alam, swadaya masyarakat dan kawan-kawan volunteer.

Waktu juga ikut berperan disini. Karena setelah bibit mungil ditanam, juga membutuhkan waktu atau proses dari tanaman itu untuk tumbuh dan berkembang, membutuhkan waktu tidak sebentar hingga pohon menjadi dewasa. Bisa membutuhkan waktu tumbuh bervariasi, mulai dari tahunan hingga puluhan tahun. Ini semua kita reset ulang, mengulang sesuatu hal dari awal, yang jika sebelumnya kita mampu menjaga dan merawat hutan kita maka kita tidak perlu secapai ini.

BACAAN LAINNYA:  Meneropong Masa Depan Energi Listrik Tahun 2030, 2040, 2045, dan 2050, Apakah Masih Berbahan Bakar Fosil?

Waktu untuk mendatangkan satwa-satwa yang tinggal di hutan baru juga tidak mudah. Butuh adaptasi morfologis dan anatomis hewan dengan lingkungan barunya. Terkadang perlu penyesuaian diri satwa-satwa termasuk tumbuhan (flora-fauna) untuk tinggal lama disitu. Semua hal ini membutuhkan waktu tidak sebentar, karena pastinya ada seleksi alam yang ikut menyertainya.

Nasihat untuk kita semua yang masih peduli dengan hutan kita, mari kita bersama-sama melindungi, merawat, menjaga dan memanfaatkan hutan dengan bijak. Rawatlah hutan dan lahan kita agar tidak terjadi kebakaran, karena jika hal ini terjadi tentu saja akan merugikan plasma nutfah, keanekaragaman hayati yang disediakan hutan untuk kita.

Terakhir dari artikel tulisan di blog saya ini, Mari kita sama-sama bersinergi untuk tetap semangat “menghidupkan hutan kita” yang sempat rusak karena ulah tangan kita sendiri. Semoga hutan kita segera pulih dari Karhutla, dan tentunya hal ini bisa jadi pengingat hati nurani kita bahwa, hutan kita tidak untuk dibakar, tapi untuk kita “rawat”.

“Hutan yang Telah Merawat Kita Selama Ini, Harus Kita Jaga Untuk Kini dan Nanti”

-Wahid Priyono-
Taggs:
1 Comment
  • Dian Restu Agustina 7:16 pm 16 Oktober 2026 Reply

    Sediiiih melihat hutan yang seharusnya menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup justru terbakar dan merusak ekosistem di dalamnya. Setuju sekali, menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kita semua. Apalagi memulihkan hutan yang sudah rusak membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Sebuah pengingat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan ikut menjaga kelestarian hutan, supaya anak cucu kita nanti masih bisa menikmati manfaatnya.

Write a comment