Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Terpadu (Integrated Approach)

5 Desember 2020 Edukasi
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Terpadu (Integrated Approach)

Pembelajaran terpadu (integrated approach) merupakan pendekatan yang memadukan beberapa mata pelajaran yang saling berkaitan untuk memberikan pengalaman berlajar yang bermakna pada siswa. Pembelajaran ini merupakan metode yang memadukan beberapa pokok bahasan. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses dan waktu, aspek materi belajar, dan aspek kegiatan belajar dan mengajar. Pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan dalam proses pembelajaran siswa sekolah dasar sesuai dengan kompetensi dan materi ajar yang terdapat dalam kurikulum. (Beane, 1995 dalam Sa’ud, 2006).

Keunggulan Pembelajaran Terpadu “Integrated Approach”

Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki beberapa keunggulan/keuntungan/kelebihan di antara lain ;

  • Memberikan peluang dan motivasi bagi guru untuk mengembangkan materi pembelajaran serta mendorong guru untuk mengembangkan kreatifitas;
  • Mempermudah dan memotivasi siswa untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilaiatau tindakan yang terdapat dalam beberapa pokok bahasan atau bidang studi;
  • Menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya pembelajaran, disamping menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran.

Kelemahan Model Pembelajaran Terpadu “Integrated Approach”

Beberapa kelemahan/kekurangan dari pendekatan terpadu yaitu:

  • Aspek Guru:

Model ini menuntut guru memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, kreativitas tinggi, keterampilan metodologik yang handal, kepercayaan diri dan etos akademik yang tinggi, dan berani untuk mengemas dan mengembangkan materi secara luas dan terintegrasi.

  • Aspek Siswa:

pembelajaran terpadu  menuntut kemampuan belajar siswa yang relatif baik, baik dalam aspek intelegensi maupun kreatifitasnya.

  • Aspek Sarana atau Sumber Pembelajaran:

pembelajaran terpadu memerlukan bahan atau sumber informasi yang cukup banyak dan berguna untuk menunjang dan memperkaya serta mengembangkan wawasan dan pengetahuan yang diperlukan.

  • Aspek kurikulum:

 pembelajaran terpadu memerlukan jenis kurikulum yang terbuka untuk pengembangannya.

  • Aspek Sistem Penilaian dan Pengukurannya:

pembelajaran terpadu tersebut membutuhkan sistem penilaian dan pengukuran yang terpadu dalam arti sistem yang berusaha menetapkan keberhasilan belajar siswa dilihat dari beberapa mata pelajaran yang terkait, atau dengan kata lain, hasil belajar merupakan kumpulan dan panduan penguasaan dari berbagai materi yang disatukan dan digabungkan (Sa’ud,dkk,2006).

Keterbatasan lain dari pembelajaran terpadu yang telah mencoba menerapkan pendekatan ini mengungkapkan beberapa kesulitan baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan pembelajaran , yaitu :

  • Menentukan “jembatan” yang bersifat alamiah sehingga keterkaitan antar unsur tidak tampak dipaksakan;
  • Struktur kurikulum yang dibatasi oleh catur wulan, seringkali menghambat penentuan fokus untuk mencari keterkaian antar unsur;
  • Kurangnya dukungan dari pihak orang tua dan pihak luar sekolah yang seharusnya dapat menjadi narasumber otentik bagi siswa, sehingga siswa mengalami hambatan untuk menjaring pengalaman otentik yang justru menjadi jiwa dari pendekatan ini.

Selain dari pihak guru, dari pihak siswa terungkap juga beberapa permasalahan yang menjadi hambatan bagi pengembangan pendekatan ini yaitu:

  • Seringkali rancangan kegiatan pembelajaran melibatkan terlalu banyak tugas-tugas yang akhirnya terkesan membebani siswa.
  • kurang faham sehingga siswa merasa bingung dan gagal memahami keterkaitan antar unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, peran guru tampaknya sangat diperlukan dalam menggiring siswa untuk sampai pada fokus yang telah ditetapkan (Rustaman, N.Y. dkk., 2004).

Sumber Referensi:

(1). Rustaman, N.Y dkk. (2004). Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.

(2). Sa’ud. Dkk. (2006). Pembelajaran Terpadu. Bandung: UPI Press.

(3). Sa’ud dan Suherman. (2006). Inovasi Pendidikan. Bandung : UPI Press.

Taggs:
21 Comments
  • Lithaetr 7:30 pm 9 Juli 2021 Balas

    Memang terkadang kalau metode baru lebih membutuhkan sosialisasi, menyamakan persepsi antara guru serta orang tua, dan terus praktek serta evaluasi agar bisa sama-sama saling melengkapi kemudian diperbaiki agar dapat dilakukan bersama. Saya sih, suka sekolah yang menerapkan anaknya berproyek bukan hanya mengerjakan soal dari buku materi

    • Lia Yuliani 11:38 am 10 Juli 2021 Balas

      Nah, iya metode baru pasti butuh penyesuaian. Berproses pastinya. Sepertinya PJJ sekarang harus banyak dievaluasi juga menurut saya. Berhubung pandemi, pasti PJJ masih jalan terus. Pembelajaran terpadu pun pasti ada kendala dari pihak guru atau murid. Saya hanya mendoakan pendidikan Kita makin baik, meski sekarang masih dalam kondisi pandemi

      • Moch. Ferry Dwi Cahyono 2:53 pm 10 Juli 2021 Balas

        Belajar apa pun model pendekatannya seharusnya menyenangkan. Apalagi bersama mas Wahid.

        • Wahid Priyono 3:17 pm 10 Juli 2021 Balas

          Tugas2 proyek siswa itu memang harus ada kak, cuma kadang tuntutan kurikulum setiap jenjang berbeda.

  • Maria Soemitro 7:48 pm 9 Juli 2021 Balas

    akhirnya kembali ke pelaku ya? Sebagus apapun sistem pendidikan, akhirnya kembali ke guru dan pihak terkait, mampu atau nggak?
    Saya inget sewaktu anak-anak masih TK dan penilain diubah, nggak lagi pakai angka. Masuk akal tapi guru gurunya gak siap.

    • Wahid Priyono 3:16 pm 10 Juli 2021 Balas

      Guru dari dulu selalu mengikuti sistem sih kak, kadang malah guru diwajibkan meluluskan siswa sesuai KKM. Nah lho? piye iki kok gak melihat proses belajarnya ya…gurupun kadang ya itu, nyesek kalo ngikutin sistem yang menurut kita tidak sesuai di hati.

  • Ririn Wandes Melalak Cantik 8:53 pm 9 Juli 2021 Balas

    Sebagai guru yang mengajar siswa-siswi SD,metode ini sudah diterapkan juga di sekolah apalagi memang mengacu kurikulum. Susahnya sih menurut saya ketika guru yang tidak punya background mengajar beberapa pelajaran sehingga harus belajar lagi menguasai beberapa pelajaran yang terkait.

    • Wahid Priyono 3:15 pm 10 Juli 2021 Balas

      Jadi guru multitalenta itu di SD ya. Hehe, saya baru ngajar di SMA nih, mapel Biologi. Cuma anak2 SMA kan mudah diajak kompromi karena udah sama2 dewasa.

  • Sumiyati Sapriasih 8:29 am 10 Juli 2021 Balas

    Memang benar jika ada metode baru harus sering di sosialisasikan agar lebih paham. Kalau aku sih lebih baik praktek dari pada teori

    • Wahid Priyono 3:14 pm 10 Juli 2021 Balas

      Iya bu…memang betul praktek itu lebih menyenangkan siswa karena akan dapet pengalaman langsung. Cuma teori juga perlu disampaikan supaya mereka tahu landasan berpikir sebelum memulai tindakan (action).

  • Tian Lustiana 8:43 am 10 Juli 2021 Balas

    Sebagus apapun sistemnya, back to usernya yah. Semoga makin bagus sistem pembelajarannya.

    • Wahid Priyono 3:12 pm 10 Juli 2021 Balas

      Iya betul kak, namanya manusia (guru) juga pasti ada kekurangan dan memang perlu berlajar sepanjang hayat untuk menyempurnakan sistem yang ada.

  • Annie Nugraha 11:05 am 10 Juli 2021 Balas

    Luar biasa ya tantangan pendidik jaman now. Harus mampu mengembangkan materi sebaik mungkin diantara berbagai jenis kurikulum yang seringnya berubah sesuai dengan kebutuhan. Materi pembelajaran bukan saja dituntut secara kualitas tapi mampu tersampaikan kepada murid seefektif dan seefisien mungkin.

    • Wahid Priyono 3:12 pm 10 Juli 2021 Balas

      Tantangannya luar biasa terutama bagi guru yang dituntut harus ini dan itu.

  • Dian 12:36 pm 10 Juli 2021 Balas

    metode belajar sekarang makin banyak ya mas
    guru harus selalu adaptif dan berusaha mencari metode belajar yang paling efektif buat murid muridnya

    • Wahid Priyono 3:10 pm 10 Juli 2021 Balas

      Kalo metode dan model pembelajaran memang banyak. Cuma dalam pelaksanaannya setahu saya disesuaikan dengan kearifan lokal juga, atau mana yang paling disukai siswa.

  • Omnduut 12:38 pm 10 Juli 2021 Balas

    Kalau aku pribadi baca ini menarik, tapi kompetensi gurunya gak bisa tanggung. Dan, siswanya juga dituntunt untuk bisa mengimbangi. Eh, masing-masing harus dapat klop ya kurang lebih mas.

    • Wahid Priyono 3:11 pm 10 Juli 2021 Balas

      Iya betul kak, kadang kompetensi seorang guru juga perlu diasah dengan beragam model pembelajaran. Supaya materi bisa tersampaikan dengan baik ke siswa.

  • Fenni Bungsu 4:13 pm 10 Juli 2021 Balas

    Kekurangan dan kelebihannya perlu dipertimbangkan ya. Memang tidak ada yang sempurna, tetapi apa yang kurang bisa dilengkapi. Yang penting para siswa dapat materi sesuai kurikulum

  • Katerina 7:53 pm 10 Juli 2021 Balas

    Setelah mengetahui kelemahan dari Pembelajaran Terpadu (Integrated Approach) ini, lantas apa kira-kira langkah kongkrit yang akan diambil?

  • nyi Penengah Dewanti 10:06 am 11 Juli 2021 Balas

    Karena di rumah nggak ada anak kecil yang sekolah
    aku lumayan ketinggalan update tentang pembelajaran mas, tapi alhamdulillah tercerahkan dengan postingn mas Wahid

Write a comment