Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Blogger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Ayo Eliminasi Kusta Demi Masa Depan Anak Cucu Kita

6 Juni 2021 Health
Ayo Eliminasi Kusta Demi Masa Depan Anak Cucu Kita

Apa yang terlintas di benak teman-teman setelah melihat data-data di bawah ini?

Penyebaran kasus kusta di berbagai negara, sumber: Media Indonesia.

Yups, data di atas menggambarkan peta penyebaran epidemi kusta di berbagai negara di belahan dunia. Negara kita Indonesia menempati posisi ketiga dengan jumlah penderita kusta tertinggi setelah Brazil dan India. Keren sebagai sebuah prestasi atau malah merugi?

By the way, sebenarnya kusta ini bukanlah penyakit langka atau baru karena memang sudah sejak zaman saya belum lahir juga sudah ada. Dan memang kusta ini adalah jenis penyakit tertua yang perlu kita waspadai secara bersama. Edukasi, pengobatan dan pencegahan kusta sejak dini, tentu saja akan mampu mengeliminasi bahkan bisa memutus mata rantai kusta secara perlahan antar lintas generasi serta bisa dimulai dari lingkungan keluarga dan tempat tinggal.

Mengenal Penyakit Kusta

Banyak mitos/stigma yang berkembang di masyarakat kita bahwa kusta ini adalah penyakit kutukan. Anggapan semacam ini ternyata keliru dan perlu kita luruskan agar berada pada jalan kebenaran.

Jadi, kusta atau lepra adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Komunitas bakteri patogen ini sangat senang jika berhabitat di lingkungan-lingkungan yang lembab dan sanitasi lingkungan yang buruk. Terutama organ kulit pada manusia merupakan target terbaik serta inang yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan jenis bakteri ini. Itulah mengapa, kulit penderita kusta ini biasanya akan mengalami bercak putih, mempunyai lesi-lesi tebal pada permukaan kulitnya. Atau jika lesi pada bagian kulit penderita ditarik, maka akan menyisahkan bekas luka yang tidak terasa gatal atau bisa dikatakan mati rasa.

Di Indonesia sendiri penyakit kusta sudah ada sejak pemerintahan Hindia Belanda dan kasusnya setiap tahun mengalami pravelensi yang naik-turun (fluktuatif). Itu artinya penyakti kusta ini memang sudah ada sejak dulu bahkan sebelum kita lahir di dunia ini. Di negara lain seperti India, bahkan penyakit kusta sudah ada sejak 2000 SM (sebelum Masehi).

Sumber gambar dan data: Jeo.kompas.com.

Saat ini kasus penderita kusta di Indonesia tak lagi sebanyak data-data era 1970-an seperti yang terlihat pada grafik di atas.

Data WHO tahun 2020, seperti saya kutip sedikit dari situs p2p.kemkes.go.id menunjukkan Indonesia masih menjadi penyumbang kasus baru kusta nomor 3 terbesar di dunia dengan jumlah kasus berkisar 8% dari kasus dunia. Melihat kembali pencapaian program hingga 13 Januari 2021, tercacat sebanyak 26 provinsi dan 401 kabupaten/kota mencapai eliminasi ditandai dengan angka prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk. Meskipun demikian, masih banyak kantong-kantong kusta di berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 9.061 kasus baru kusta ditemukan di Indonesia. Angka ini menurun dibanding penemuan kasus kusta dalam beberapa tahun terakhir, yaitu berkisar 16.000-18.000 kasus baru per tahun.

Penyakit kusta bisa disembuhkan dan dicegah sejak dini. Penyembuhan kusta tentunya perlu pendampingan dari dokter supaya diagnosa dan pemberian obat tepat sesuai jenis kusta yang menyerang kulit penderitanya.

Ciri-Ciri dan Gejala Penyakit Kusta

ciri dan gejala kusta, sumber gambar: kemkes.go.id.

Mengetahui ciri/karakteristik penyakit kusta ini penting kita ketahui, supaya jika ada keluarga atau diri kita sendiri mengalami kusta bisa segera dilakukan tindakan sejak awal sehingga lebih gampang dalam proses pemulihannya. Adapun ciri-ciri penyakit kusta antara lain sebagai berikut:

  • Gejalanya muncul bercak putih pada kulit yang setelah diidentifikasi bukanlah panu;
  • Adanya lesi-lesi tebal di permukaan kulit penderitanya;
  • Menyerang sistem kekebalan tubuh (imunitas);
  • Peluang mengalami disfungsi ereksi pada pria;
  • Pembesaran saraf perifer di sekitar kulit penderita;
  • Kelemahan otot di sekitar daerah yang terserang kusta;
  • Kematian sel dan jaringan kulit akibat aktivitas bakteri penyebab kusta;
  • Jika kusta menjalar ke bagian wajah bisa merusak aksesoris di sekitarnya seperti mata, alis bahkan hidung;
  • Beberapa anggota tubuh bisa hilang karena kusta seperti jari tangan, jari kaki, telinga, dan lain sebagainya;
  • Dapat menyebabkan disabilitas jika kusta yang diderita semakin parah.

Faktor Penyebab Penyakit Kusta

Seperti yang saya singgung di atas bahwa kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang habitat bagusnya ada pada kulit manusia. Beberapa hewan-hewan di ekosistem alami seperti tikus dan trenggiling juga bisa menjadi perantara munculnya penyakit kusta.

Epidemik Penyebaran Kusta

Epidemi penyebaran penyakit kusta ini cukup cepat di antara populasi manusia atau dalam suatu wilayah tertentu. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini dapat menular melalui cairan dari hidung, yang biasanya menyebar ke udara ketika mengidap batuk/bersin-bersin, kemudian droplet yang berisi bakteri lepra dari saluran pernapasan ini terhirup ke orang lain yang berada di sekitarnya. Mewaspadai dan mencegah diri untuk berada di daerah-daerah dengan kasus kusta yang tinggi adalah penting untuk memutus epidemi penyebaran kusta semakin cepat.

Penyakit kusta ini dapat menular, namun tingkat penularannya cukup rendah dan berlangsung lama, artinya membutuhkan waktu bertahun-tahun (bisa 1 sampai dengan 20 tahunan atau lebih).

Diagnosa, Cara Mencegah dan Mengobati Kusta

Mengobati kusta bisa dilakukan dengan bantuan pihak medis/dokter supaya hasilnya lebih optimal. Dalam pengobatan kusta yang saya ketahui, maka dokter juga akan mendiagnosa terlebih dahulu bagian kulit yang mengalami kusta, baru kemudian dilakukan tindakan sesuai dengan jenis dan tingkat keparahan kustanya.

Berdasarkan tingkat keparahannya (seperti saya kutip sedikit dari situs alodokter tentang kusta), maka kusta dikelompokkan menjadi 6 jenis/tipe, yaitu:

  • Intermediate leprosy, ditandai dengan beberapa lesi datar berwarna pucat atau lebih cerah dari warna kulit sekitarnya yang kadang sembuh dengan sendirinya;
  • Tuberculoid leprosy, ditandai dengan beberapa lesi datar yang kadang berukuran besar, mati rasa, dan disertai dengan pembesaran saraf;
  • Borderline tuberculoid leprosy, ditandai dengan munculnya lesi yang berukuran lebih kecil dan lebih banyak dari tuberculoid leprosy;
  • Mid-borderline leprosy, ditandai dengan banyak lesi kemerahan, yang tersebar secara acak dan asimetris, mati rasa, serta pembengkakan kelenjar getah bening setempat;
  • Borderline lepromatous leprosy, ditandai dengan lesi yang berjumlah banyak bisa berbentuk datar, benjolan, nodul, dan terkadang mati rasa;
  • Lepromatous leprosy, ditandai dengan lesi yang tersebar dengan simetris, umumnya lesi yang timbul mengandung banyak bakteri, dan disertai dengan rambut rontok, gangguan saraf, serta kelemahan anggota gerak.
View this post on Instagram

A post shared by NLR INDONESIA (@nlrindonesia)

Penyesuaian bidang keilmuan medis untuk menyembuhan kusta juga diterapkan sesuai standar yang berlaku. Setelah mendiagnosa dan mengetahui tipe kusta, maka dokter akan memberikan sejumlah obat antibiotik untuk diminum oleh penderitanya. Beberapa obat ada yang sifatnya diberikan untuk penggunaan bagian luar saja.

Adapun jenis obat-obatan antibiotik untuk menyembuhkan kusta/lepra (seperti saya kutip sedikit dari situs alodokter) ini diantaranya adalah rifampicin, dapsone, clofazimine, minocycline, dan ofloxacin. Di Indonesia sendiri pengobatan kusta dilakukan dengan metode MDT (multi drug therapy). Menurut dr. Hariadi, seperti yang saya kutip sedikit dari salah satu artikel menarik di situs kemkes.go.id, bahwa Multi Drug Therapy yaitu pengobatan dengan lebih dari satu macam obat yang sudah direkomendasikan. Kombinasi obat dalam blister MDT diberikan sesuai dengan jenis penyakit kusta. Untuk kusta kering, MDT terdiri dari Rifampisin dan Dapson atau Diamino Diphenyl Sulfone (DDS), tersedia dalam bentuk blister untuk dewasa dan anak. Obat harus diminum sebanyak 6 blister dengan waktu pengobatan selama 6 bulan. Sementara itu, untuk kusta basah, MDT terdiri dari Rifampisin, Dapson atau Diamino Diphenyl Sulfone (DDS), dan Lamprene; juga tersedia dalam bentuk blister untuk dewasa dan anak, yang harus diminum sebanyak 12 blister dalam kurun waktu pengobatan selama 12 bulan. Di akhir penuturannya, dr. Hariadi menegaskan bahwa penderita kusta harus berobat. Untuk menjamin keberlanjutan pengobatan, saat ini pemerintah sudah menyediakan obat kusta secara cuma-cuma di Puskesmas.

Selain itu, pengobatan dengan jalur operasi dapat dilakukan dengan tujuan untuk perbaikan saraf yang rusak, memperbaiki anggota tubuh yang terdampak dari kusta ini, serta mengembalikan fungsi-fungsi anggota tubuh agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Edukasi Kusta Antar Lintas Generasi

Mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit kusta yang bisa menyerang mereka kapan saja dan dimana saja, maka ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan. Disinilah perlu gotong-royong kita bersama untuk memulainya. Gotong-royong yang akur antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan heterogen, dengan ciri khas adat dan budaya, serta faktor sosial-ekonomi masyarakat yang berbeda tentu pendekatan yang diambil perlu dengan cara-cara yang etis dan beretika.

Edukasi tentang bahaya penyakit kusta di lingkungan keluarga merupakan cara yang bisa dibilang cukup ampuh untuk dijalankan terlebih dahulu. Bagi kita yang sudah tahu tentang penyakit kusta, maka kita bisa mengajak keluarga kita untuk mencegah penyakit kusta sejak dini. Misalnya memperbaiki sanitasi di sekitar rumah agar berjalan baik, mencegah rumah dari hewan-hewan rodentia seperti tikus, menumbuhkan sikap cuci tangan pakai sabun dan rajin membersihkan kulit (mandi) baik akan beraktivitas di luar rumah dan setelah pulang beraktivitas (kerja). Selalu menggunakan masker saat berpergian, pakai sabun antiseptik saat mandi, serta bisa berkonsultasi ke dokter untuk melakukan cek kesehatan kulit. Selain itu, perbaikan gizi keluarga juga terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa mencegah kemungkinan dampak kecil dari penyebaran bakteri lepra ini.

Sebagai narablog (blogger) peran saya juga bisa membantu mengedukasi masyarakat melalui tulisan-tulisan (konten positif) yang saya terbitkan di blog. Cara ini sederhana namun menurut saya implikasi dan dampaknya sangat luar biasa jika ada yang membaca tulisan kita lalu mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting pada intinya adalah sekecil apapun peran positif yang kita berikan untuk masyarakat dan negara tentu saja itu jauh lebih baik daripada tidak ada aksi sama sekali, setuju?

Selain edukasi kusta di ranah keluarga dan diri sendiri, maka edukasi kusta di masyarakat luas yang dilakukan oleh pemerintah tentu efeknya akan sangat luar biasa. Pemerintah bisa melakukan edukasi bahaya kusta di daerah-daerah yang menjadi pandemi kusta seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sebagai contoh lain misalnya di daerah Bone, merupakan daerah dengan kasus kusta yang bisa dibilang cukup tinggi. Pemerintah disana gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya kusta ini. Namun, saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini maka sosialisasi masih tetap bisa dilakukan namun tetap harus mengikuti standar protokol kesehatan (Prokes) seperti 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

Dalam siaran Ruang Publik KBR beberapa waktu lalu yang saya tonton bahwa, bapak Komarudin, S.Sos.,M.Kes sebagai Wasor Kusta Kabupaten Bone, berkata: “para petugas kesehatan Puskesmas di kabupaten Bone tetap melakukan penanganan kusta dengan menerapkan protokol kesehatan”.

Para petugas medis dari Puskesmas di Bone mendatangi rumah-rumah warga untuk mengadakan sosialisasi sekaligus melakukan pendampingan bagi mereka yang mungkin mengalami kusta. Bahkan saat terjun ke lapangan langsung, dan sejumlah pertanyaan tentang apakah warga mengalami penyakit kulit semacam panu, kudis, kurap, maka mereka banyak yang malu untuk sekedar berkomentar. Maka memang benar bahwa edukasi kusta sejak dini dan mengakui secara jujur bahwa jika dirinya menderita kusta adalah sesuatu hal yang tak perlu ditutup-tutupi. Warga harus terbuka tentang kondisi dirinya, supaya jika ada salah satu atau lebih warga yang terkena kusta, maka pencegahan sedini mungkin dapat dilakukan sehingga tidak menularkan ke orang di sekitarnya.

Dalam sosialisasi yang dilakukan petugas medis di kalangan warga kabupaten Bone tersebut, maka pihak medis menerapkan kampanye “ya tutu ya upe’ ya ya capa’ ya cilaka” yang artinya berhati-hatilah yang beruntung dan yang lalai bakal celaka. Selain itu, petugas medis juga memakai metode RGO yang artinya “Rendam, Gosok, Oles“. Adapun maksud dari metode ini yaitu rendam kaki pada air dingin lebih kurang 20 menit, gosok secara lembut pada bagian kulit yang menebal, lalu terakhir mengolesi kulit pada jari kaki dan tangan dengan minyak untuk mencegah kulit kering maupun pecah-pecah.

Sosialisasi pihak medis ke lapangan di kabupaten Bone walau pandemi nyatanya tetap memberikan hasil positif dalam penurunan pravelensi pandemi kusta. Sebelum pandemi COVID-19 ada 2,5 penderita per 10.000 penduduk, namun sekarang di masa pandemi hanya 1,7 penderita saja per 10.000 penduduk.

Dalam siaran Ruang Publik tersebut, bapak Komarudin, S.Sos., M.Kes. juga intinya mengajak semua pihak untuk turut support kepada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) disabilitas agar mereka tetap semangat dan mau berkarya. Kita tidak perlu diskriminasi terhadap mereka, dan bila perlu bisa membuatkan mereka tempat kerja seperti yang dilakukan oleh Bapak DR. Rohman Budijanto, S.H., M.H. selaku Direktur Eksekutif The Jawapos Institute of Pro Otonomi JVP Lembaga Nirlaba Jawa Timur.

Pada inti pembicaraan yang saya tangkap dari bapak Rohman ini bahwa tidak boleh ada diskriminasi antara orang normal dengan disabilitas akibat kusta ini. Karena berdasarkan laporan Kemkes seperti yang saya kutip sedikit dari lamannya tersebut bahwa masih saja ada penolakan oleh masyarakat terhadap penderita kusta antara lain dikeluarkan dari pekerjaan dan diceraikan dengan pasangannya. Dalam konteks ini, sebenarnya semua orang memiliki hak sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak karena hal ini telah diatur pada Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”.

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”.

Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945

Dia juga memaparkan yang intinya tidak ada sekat antara yang disabilitas dan yang normal. Bahkan dalam rekrutmen karyawan yang bekerja di Jawa Pos, maka tidak ada syarat perekrutan yang mensyaratkan kondisi fisik tertentu. Namun, yang mereka cari adalah karyawan yang benar-benar totalitas dan mau menjalankan pekerjaan dengan baik.

Kecakapan dan sikap bijaksana kedua narasumber baik itu bapak Komarudin maupun bapak Rohman ini dalam mendukung teman-teman kita yang mengalami OYPMK ini menurut saya patut diapresiasi karena ia menyadarkan kepada kita semua bahwa kendala fisik/cacat bukanlah kendala untuk seseorang tidak berkreasi atau tidak memperoleh pekerjaan yang layak. Semua orang memiliki derajat yang sama, setiap orang ditakdirkan unik dan tentunya kita perlu menghargai dan menghormati mereka penyintas disabilitas OYPMK selaku makhluk ciptaan Tuhan.

Dan tak lupa juga sebagai bagian dari masyarakat, maka saya pribadi dan juga teman-teman semuanya juga harus ikut serta mengkampanyekan tentang pencegahan dan eliminasi kusta ini dengan cara-cara sederhana tapi sifatnya yang edukatif tanpa menggurui. Mari kita cegah dan lawan kusta secara gotong-royong demi masa depan anak cucu kita yang lebih sehat, berdaulat, maju, adil dan makmur. Oya jika teman-teman merasa artikel ini bermanfaat, bolehlah bantu sebarkan ke sosial media teman-teman semuanya agar yang lain bisa teredukasi tentang penyakit kusta ini. Terima kasih.

Sumber Referensi Pendukung Tulisan:

Taggs:
34 Comments
  • Moch. Ferry 2:45 pm 6 Juni 2021 Balas

    Edukasi kusta sebagai salah satu penyakit di Indonesia dan dunia memberi bekal bagi generasi selanjutnya, terima kasih mas wahid

    • Wahid Priyono 8:27 am 7 Juni 2021 Balas

      Yups kak, betul sekali…edukasi tentang kusta dan berbagai macam stigma/mitos-mitos yang muncul perlu kiranya kita berikan kepada masyarakat supaya mereka semakin tahu tentang bahayanya penyakit ini. So, tak boleh berpuas diri, sebagai blogger kita juga bisa sebarkan konten-konten positif tentang penyakit kusta, biar teman-teman yang lain baca.

  • Dian 3:46 pm 6 Juni 2021 Balas

    benar ya mas
    kusta ini masih jadi ancaman bagi kesehatan di Indonesia
    harus perlu segera di eliminasi

    • Wahid Priyono 8:25 am 7 Juni 2021 Balas

      Yups kak, perlu kita eliminasi kusta ini dengan cara edukasi yang teratur kepada masyarakat.

  • Maria Tanjung Sari 6:29 pm 6 Juni 2021 Balas

    Kalau edukasinya tepat Insha Allah pasien penderita kusta bisa sembuh ya mas. Dan tentu saja hilangkan stigma negatif di masyarakat. Saya rasa penduduk Indonesia semakin cerdas

    • Wahid Priyono 8:24 am 7 Juni 2021 Balas

      Yups, setuju kak Maria, yang paling terpenting itu jika terkena kusta itu tidak perlu malu atau menutup-nutupi penyakitnya. Sebaiknya langsung periksakan saja ke dokter atau di tenaga medis di Puskesmas. Karena obat kusta ini juga gratis dan bisa diperoleh di Puskesmas. Btw, stigma negatif/mitos seputar kusta yang tak ilmiah memang harus perlahan kita rubah menjadi stigma yang positif dan edukasi yang tepat untuk masyarakat supaya berada pada informasi yang valid dan ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Terima kasih.

  • Maria Soemitro 10:25 pm 6 Juni 2021 Balas

    saya pikir kusta udah lenyap dari Indonesia

    ternyata masih ada ya?

    karena itu butuh campaign terus menerus seperti ini

    agar nggak menyebar dan benar benar tuntas lenyap dari Indonesia

    • Wahid Priyono 8:22 am 7 Juni 2021 Balas

      Hadeh, masih ada kak Kusta di Indonesia. Itulah mengapa kita perlu gotong-royong bareng2 tuk eliminasi penyakit kusta ini secara perlahan-lahan supaya tingkat pravelensinya makin sedikit.

  • Diah Alsa 11:41 pm 6 Juni 2021 Balas

    ternyata Pulau Sulawesi mendominasi pandemi kusta ini ya, baru tahu lho kalau semua wilayah Sulawesi masuk ke dalamnya.
    jadi ingat dulu ada tetangga yang kena kusta juga dan dijauhi gitu karena orang-orang takut tertular, nyatanya perpindahannya tidak seinstan itu ya, meski demikian tetap waspada sih ya, dan dengan adanya edukasi menyeluruh orang pun akan tahu dampak dan bagaimana menghindarinya ya.

    • Wahid Priyono 8:31 am 7 Juni 2021 Balas

      Persebaran penderita kusta di Indonesia memang masih ada kak, bahkan hampir setiap pulau ada cuma pravelensinya berbeda-beda. Sulawesi, pulau Jawa dan Papua memang cukup tinggi juga pravelensinya dan memang harus segera diurai penyakit kusta ini. Peran kita sebagai masyarakat atau narablog juga bisa ikut serta mengkampanyekan kusta melalui sarana sosial media yang kita punya, termasuk menuliskannya di blog agar teman-teman yang lain ikut teredukasi melalui tulisan di blog kita.

  • nurulrahma 7:51 am 7 Juni 2021 Balas

    Yg namanya stigma itu kerap memunculkan ketakutan yg tdk perlu, ya.
    Makanya butuh edukasi terus-menerus, agar orang paham ttg serba/i kusta ini.

    semoga kta semua sehaaatt
    terima kasih artikelnya yg sarat faedah ini, Kak.

    • Wahid Priyono 8:33 am 7 Juni 2021 Balas

      Kalo mitos/stigma yang keliru di masyarakat kita itu masih banyak dan sifatnya kadang turun-temurun dari generasi satu ke generasi berikutnya. Mitos itu menurut saya tidak ada landasan yang ilmiah dan benar bahwa kadang bikin orang menjadi takut, atau informasi yang disajikan keliru. Mitos semacam ini perlu kita luruskan dan sajikan sesuatu halnya berdasarkan fakta dan landasan ilmiah yang konkret.

  • Okti Li 7:54 am 7 Juni 2021 Balas

    Kusta di daerah Jawa mulai berkurang tapi bukan berarti sudah terbebas. Stigma masyarakat perlu kita luruskan memang. Dan ini PR terberat nya

    • Wahid Priyono 8:36 am 7 Juni 2021 Balas

      PR terberat yang perlu kita tuntaskan secara bersama-sama ya kak. Dari langkah kecil dengan mengedukasi keluarga, teman, dan warga kampung di tempat tinggal kita maka kita juga sudah ikut serta mengerjakan PR tersebut. Syukur2 kita sebagai blogger juga bisa menuliskan permasalahan kusta dan edukasinya di blog pribadi dan dishare di sosial media, maka ini tentu saja kita sudah turut mengkampanyekan kusta dan bagaimana orang bisa terhindar dari penyakit ini. Semudah ini kan kita mengerjakan PR yang kita anggap berat itu?

  • onny putranto 10:48 am 7 Juni 2021 Balas

    Info yang saya tangkap dari artikel ini menghindari kontak fisik dengan penderita kusta, tidak boleh ada diskrimainasi. Penyakit kusta tidak dapat disepelekan

    • Wahid Priyono 9:58 pm 8 Juni 2021 Balas

      Iya betul kak Onny bahwa penyakit kusta ini tidak bisa disepelekan, jika ada tanda/gejala kusta langsung lapor aja ke Puskesmas untuk penanganan oleh pihak Medis. Setahu saya bahwa di Puskesmas juga obat untuk kusta ini gratis.

  • Lita Chan Lai 1:27 pm 7 Juni 2021 Balas

    sejak masih sekolah dasar tahu akan penyakit kusta, tapi baru kali ini tahu gejala, penyebab dan cara mengatasinya. Penting banget kita ketahui agar menjaga generasi kita tahu akan bahayanya penyakit kusta.

    • Wahid Priyono 10:00 pm 8 Juni 2021 Balas

      Iya kak, benar, edukasi tentang penyakit kusta antar lintas generasi ini sangat penting supaya semakin banyak orang yang sadar dan tak lalai dengan kusta. Kusta juga perlu kita eliminasi secara gotong-royong, sehingga program KEMKES RI untuk bebas kusta 2024 bisa terealisasi melalui upaya eliminasi kusta dari sekarang.

  • Handiko Rahman Pebrianto 1:50 pm 7 Juni 2021 Balas

    Terima kasih mas, infonya bermanfaat sekali. Kebetulan kulit saya termasuk yang sensitif dan suka alergi. Dan punya eskim sampai sekarang. Pemicunya dingin sama stres

  • Annie Nugraha 2:06 pm 7 Juni 2021 Balas

    Saya pribadi masih takut banget Mas dengan Kusta ini. Pernah punya teman yang kena dan itu efeknya cepat banget di tubuh. Bergidik saya liatnya.

    Semoga dengan pengetahuan yang dibagikan ini kita jadi lebih mengenal penyakit yang satu ini. Dan bisa lebih santai dalam menghadapinya.

    • Wahid Priyono 10:03 pm 8 Juni 2021 Balas

      Iya betul kak Annie, kita perlu edukasi tentang kusta ini karena ini juga bentuk tanggungjawab dan partisipasi kita untuk sama-sama mencegah dan mengeliminasi kusta agar pandeminya tidak semakin meningkat.

  • Indri Ariadna 8:46 pm 7 Juni 2021 Balas

    Semoga dengan adanya edukasi seperti ini, penderita kusta semakin menurun dan masyarakat tidak lagi mengucilkan penderita kusta.

    • Wahid Priyono 10:09 pm 8 Juni 2021 Balas

      Setuju kak Indri, saya juga berharap ke depannya kusta memang benar-benar tereliminasi dari wilayah Indonesia. Ini tapi butuh kerja keras pemerintah, tenaga medis, dan kita sebagai masyarakat juga harus mengedukasi kusta ke yang lain bisa melalui sosial media, website, tulisan di media massa, dll. Yang penting kita ada aksi positif ya kak daripada gak ada aksi sama sekali. Setuju?

  • Shafira-ceritamamah.com 3:59 am 8 Juni 2021 Balas

    padahal kusta adalah penyakit purba ya mas, penting banget buat edukasi terus ke masyarakat. supaya cepat pemulihannya dan ga nularin sesama karena kusta bisa disembuhkan bukan penyakit kutukan ya.

    • Wahid Priyono 10:07 pm 8 Juni 2021 Balas

      Iya mbak, benar penyakit kusta bisa disembuhkan, dan kita juga harus support ke mereka penyintas disabilitas kusta, kita tidak boleh diskriminasi kepada mereka. Mereka juga butuh pekerjaan dan penghidupan yang layak.

  • Hendra Suhendra 2:47 pm 8 Juni 2021 Balas

    Sosialisasi dan edukasi soal kusta harus terus dilakukan ya Mas, biar bisa mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap penyandang kusta.

    • Wahid Priyono 10:04 pm 8 Juni 2021 Balas

      Setuju mas Hendra, edukasi tentang kusta memang gak boleh berhenti harus terus berlanjut sembari penderita kusta bisa kita bantu berobat gratis di Puskesmas dan faskes pemerintah lainnya.

  • supadilah 10:57 am 10 Juni 2021 Balas

    Puskesmas menyediakan obat gratis untuk kusta ya Mas. Wah, bisa dimanfaatkan ini buat penderita kusta. Semoga makin banyak yang sadar dengan hal ini

    • Wahid Priyono 9:12 pm 13 Juni 2021 Balas

      Betul mas Padil, di Puskesmas insya Allah sudah tersedia obat kusta secara gratis.

  • Fadli 1:37 pm 10 Juni 2021 Balas

    Dulu saya pernah mendengar tentang penyakit kusta ini, ketika sekolah. Tapi setelah itu seakan tidak ada lagi pemberitaannya. Syukurkan sekarang sudah ada gerakan literasi tentang penyakit yang tidak bisa disepelekan ini. Semoga Indonesia kelak bisa bebas dari kusta

    • Wahid Priyono 9:14 pm 13 Juni 2021 Balas

      Yups mas Fadli, mudah-mudahan penyakit seperti kusta ini perlahan bisa tereliminasi berkat dukungan kita bersama baik masyarakat, tenaga medis dan pemerintah.

  • Ngopi Santai 7:28 pm 12 Juni 2021 Balas

    selama ini banyak yang menganggap penyakit kusta adalah penyakit kutukan…. namun lewat artikel ini, semoga masyarakat tahu tentang seluk beluk penyakit kusta….

    • Wahid Priyono 9:14 pm 13 Juni 2021 Balas

      Iya mas, makasih ya… sama2 saya juga masih belajar kok mas tentang penyakit kusta ini.

Write a comment