Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

Wahid Priyono

Teacher

Bloger

SEO Entusiast

Content Creator

Web Designer

Writer

Badminton Player

#BlogPost

Menggilanya AI dan Krisis Air Bersih

22 September 2026 Lingkungan
Menggilanya AI dan Krisis Air Bersih

“12 juta liter air bersih musnah cuma demi 4 juta orang fomo trend AI foto jadul”

Instagram @lyfewithless

Perubahan iklim merupakan isu penting yang perlu dipelajari agar diri kita semakin peduli dengan bumi yang kita huni.

Perubahan iklim bisa menyebabkan bencana alam meteorologi seperti menipisnya lapisan ozon, efek rumah kaca, krisis air bersih yang ternyata sudah melanda di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Tahukah bahwa krisis air bersih ternyata ada kaitannya dengan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas digital kita sehari-hari.

Bayangkan saja ada berapa banyak orang yang menghuni bumi ini? Pastinya sudah miliaran orang. Tentu saja, semua aktivitas kita sehari-hari sangat terbantukan dengan adanya internet dan AI. Karena keduanya, sudah berdampingan dengan hidup kita.

Tahukah kita bahwa, penggunaan AI ternyata menyedot banyak fungsi air bersih di bumi? Dampaknya di bumi akan semakin krisis air bersih sehingga bisa terjadi bencana kekeringan, stunting pada anak akibat sanitasi dan gizi buruk, menurunnya produktivitas hasil pertanian, kerusakan ekosistem, lahan dan keanekaragaman hayati, meningkatnya beban ekonomi masyarakat karena harus membeli air bersih, dan masalah kehidupan lainnya.

Tentu saja dengan semakin sering kita menggunakan AI, itu artinya kita sudah memberikan dampak negatif terhadap bumi secara digital. Terlihat memang aktivitas digital kita diam-diam menggunakan AI, ternyata kita lalai dalam menjaga bumi yang kita cintai ini.

Data-Data Penting Tentang Penggunaan AI dan Dampak Krisis Air Bersih

Dari sejumlah informasi yang saya pelajari dan telaah di internet, bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) meningkat seiring dengan permintaan pasar dan pengguna yang semakin ingin segala sesuatunya dibuat secara instan dan praktis.

BACAAN LAINNYA:  4 Manfaat AI Credit Scoring Bagi Pelaku Bisnis UMKM dan Lembaga Penyelenggara Layanan Pendanaan Masyarakat

Di sisi lain, penggunaan teknologi AI ini ternyata menggunakan begitu banyak air untuk pembangkit listrik dan pendinginan server AI dari overheating.

Lalu berapa banyak air yang digunakan untuk mendukung kinerja mesin server pendingin AI?

Seperti dikutip dari situs resmi CEO Open AI dan ChatGPT, Sam Altman menyatakan bahwa satu kueri (dalam konteks Bahasa Indonesia kueri bisa mencakup pertanyaan, pencarian, permintaan, penyelidikan, atau instruksi) ke ChatGPT menghabiskan seperlima belas sendok teh air.

Lalu apalagi yang dikatakan oleh Perusahaan teknologi lainnya?

Dilansir dari situs BBC News Indonesia, bahwa CEO Google, Microsoft, AWS, dan Meta, semuanya mengatakan mereka memilih teknologi pendingin dengan cermat berdasarkan kondisi setempat. Mereka semua telah menetapkan target untuk menjadi “ramah air” pada 2030. Hal ini dilakukan pastinya agar keutuhan air bersih di bumi tetap lestari.

Lalu mengapa selama ini perusahaan yang bergerak di bidang teknologi AI tidak menggunakan air keran atau air laut saja untuk mendukung kinerja mesin pendingin AI?

Jawabannya seperti dikutip dari situs Lore Lindu Bariri Global Atmospheric Monitoring Station, yang menyatakan bahwa pada air keran atau air laut itu mengandung kotoran, mineral, dan garam sehingga dapat bersifat korosif, serta dapat meninggalkan endapan kerak (scaling) yang merusak komponen pendingin server.

Selain itu, menurut laporan global Water Unite menyatakan bahwa infrastruktur AI membutuhkan air tawar yang benar-benar murni dan bersih (fresh water). Jika menggunakan air yang mengandung banyak mineral atau kontaminan, pipa-pipa pendingin di dalamnya akan berkarat dan menyumbat sistem sirkulasi.

Sehingga untuk pembangkit mesin pendingin AI perlu menggunakan air bersih agar tidak terjadi gangguan pada sistem operasionalnya.

Tentu untuk menghadapi situasi semacam ini, dimana di tengah penggunaan AI yang semakin menggila, maka kita sebagai penggunaan teknologi digital yang berbasis AI dan internet harus lebih bijak agar ketercukupan air bersih di bumi tetap ada.

BACAAN LAINNYA:  Upaya APRIL Mendukung Presidensi P20-G20 Untuk Ekonomi Hijau di Indonesia Pasca Krisis Global

Bagaimana Bisa AI Berpotensi Menyebabkan Krisis Air Bersih?

Tahukah kalian bahwa setiap kali kita melakukan kajian dengan memanfaatkan aplikasi AI, termasuk melakukan prompt, membuat gambar/foto jadul, video, infografis, dan semua hal yang kita ketikan dan dibuat dengan bantuan AI itu sama saja kita sudah menggunakan air bersih.

Dilansir dari Kompasiana.com, menyatakan bahwa sadar atau tidak, setiap kali kita meminta AI membuat satu gambar lucu atau video pendek, ada berliter-liter air bersih yang menguap dan risiko data pribadi yang tergadaikan.

Langkah Bijak dan Sederhana Yang Perlu Kita Lakukan

Langkah bijak dan sederhana yang perlu kita lakukan adalah dengan penggunaan AI seperlunya saja dalam aktivitas digital kita sehari-hari. Itu artinya bukan berarti kita berhenti secara total menggunakan AI. Gunakan secara bijak, tidak berlebihan.

Menggunakan AI secara berlebihan dan menggantungkan AI untuk semua urusan pekerjaan kita sebenarnya kurang bijak, akan jauh lebih baik jika diimbangi berpikir secara murni menggunakan otak untuk menerjemahkan kata-kata, menyusun kalimat dari hasil pemikiran sendiri, maka otak kita akan semakin terlatih untuk berpikir secara kritis (problem solving) dan logis. Ingatlah bahwa AI adalah alat bantu dan bukan satu-satunya yang akan menggantikan otak kita untuk belajar dan berpikir.

Oleh karena itu, bijaklah kita dalam menggunakan AI sebelum kecerdasan buatan ini benar-benar menggantikan otak kita. Selain itu, dampak nyata yang lebih mengerikan ketika kita ketergantungan dengan AI sama halnya kita sudah ikut secara perlahan mengikis air bersih dari bumi yang kita cintai ini.

Dan percayalah bahwa satu langkah bijak yang kita lakukan hari ini dalam memanfaatkan AI, sama halnya kita sedang ikut menjaga dan melestarikan air bersih agar tetap ada di bumi.

BACAAN LAINNYA:  Membangun Konektivitas Bersama Semen Tonasa Yang Lebih Ramah Lingkungan

Sumber Referensi:

Taggs:
Write a comment