Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Influencer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Influencer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Pemanfaatan Teknologi Digital Google Workspace for Education Plus Sebagai Motor Penggerak di Bidang Pendidikan Pada Era Revolusi Industri 4.0

14 November 2022 Edukasi

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini maka terjadi perubahan dan tantangan besar di berbagai bidang kehidupan. Salah satunya terjadi perubahan signifikan di bidang pendidikan baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi (IPTEK).

Tentunya, dengan perubahan yang besar di bidang IPTEK ini, maka bidang pendidikan perlu beradaptasi dengan tuntutan era Revolusi Industri 4.0 (abad ke-21) di bidang teknologi digital, terutama dalam hal pembelajaran serta managemen pendidikan secara keseluruhan.

Selain hal di atas, maka dunia pendidikan juga perlu menyesuaikan dengan kehadiran generasi z yaitu anak-anak yang lahir setelah tahun 1995. Generasi z berada pada rentang usia 14-19 tahun dan memiliki banyak sebutan seperti generasi I, Generation Next, New Silent Generation, Homelander, generasi youtube, generasi net, dan sebagainya (Giunta, 2017).

Shenila Janmohamed (2016) dalam bukunya yang berjudul: “Generation M: Young Muslim Changing The World” menyebutnya dengan istilah generasi M, yaitu kalangan muda yang religius namun sekaligus modern.

Rideout et.al, (2010) menggunakan istilah generasi M2 dimana pada usia 8-18 tahun generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru (new media) seperti komputer, internet dan video games. Generasi z besar kemungkinannya tidak sempat menjalani kehidupan analog, namun langsung masuk dalam lingkungan digital. Silakan teman-teman buktikan dan amati, jarang dijumpai generasi z masih mendengarkan siaran radio, memutar CD, memutar kaset video, dan menonton televisi. Interaksi dengan media generasi sebelumnya (old media) seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya merubah β€œapa” yang dipelajari, namun merubah cara β€œbagaimana” generasi z ini mempelajarinya.

Di Indonesia generasi z bisa dikatagorikan mereka yang lahir sekitar tahun 1995 setelah layanan internet pertama oleh Indonet di Indonesia tersedia pada tahun 1994. Kesenjangan digital tidak lagi sekedar ditentukan faktor ekonomi seperti kepemilikan handphone, namun lebih disebabkan perbedaan tingkat literasi lintas antara generasi pendidik dan generasi peserta didik. Seperti apakah karakteristik generasi z? Mari kita cermati bersama-sama fakta yang ada saat ini soal generasi z!

1. Generasi z menyukai kebebasan dalam belajar (self directed learning) mulai dari mendiagnosa kebutuhan belajar, menentukan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memilih strategi belajar, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri;

2. Generasi z suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah beralih fokus belajarnya meskipun memiliki kecukupan waktu untuk mempelajarinya;

3. Merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan internet karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi, berkolaborasi, dan membantu berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi;

4. Generasi z lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan simbol-simbol daripada teks. Generasi z tidak betah berlama-lama untuk mendengarkan ceramah guru/dosen, sehingga lebih tertarik bereksplorasi daripada mendengarkan penjelasan guru/dosen tersebut;

5. Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata lain sulit untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Generasi z terbiasa bersentuhan dengan teknologi tinggi dengan aksesibilitas cepat misalnya smartphone. Rentang perhatian manusia semakin pendek ada di kisaran 8 detik (Glum, 2015).

6. Berinteraksi secara kompleks dengan media seperti smartphone, televisi, laptop, desktop, dan iPod. Silakan teman-teman amati adakah fenomena seorang peserta didik mengetik dengan laptop sambil melacak informasi lewat smartphone sekaligus menonton televisi?

7. Generasi z lebih suka membangun eksistensi di media sosial daripada di lingkungan nyata dan cenderung memilih menggunakan aplikasi terbaru yang bisa membangunkan popularitasnya.

Untuk mewadahi semua permasalahan di atas, pastinya teman-teman telah mengenal kurikulum merdeka belajar atau kurikulum kampus merdeka yang diplopori oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek)?, yang mana memberikan kebebasan lebih luas bagi seluruh pendidik maupun peserta didik (siswa/mahasiswa) dalam hal belajar yang tanpa batasan ruang dan waktu. Hal ini tentu saja memberi peluang besar kepada seluruh stake holder pendidikan lintas generasi dalam hal memperoleh pembelajaran secara bebas, yaitu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, serta dengan sumber belajar yang beragam (berbasis IT). Karena perlu kita ketahui bersama bahwa konsep pembelajaran saat ini lebih menekankan pada keterampilan belajar abad ke-21, dimana para peserta didik (mahasiswa/siswa) yang termasuk generasi Z ini dituntut untuk memiliki 4 kompetensi penting, yang biasanya disingkat menjadi “4-C” antara lain:

  • Kemampuan berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah (Critical Thinking Skills & Problem Solving);
  • Kreatif (Creativity) ;
  • Komunikasi (Communication);
  • Kolaborasi (Collaboration).

Untuk mewujudkan 4 kompetensi di atas, salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan teknologi digital Google Workspace for Education Plus yang menurut penulis sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan generasi z yang tidak terlepas dari kehidupan digital mereka khususnya di bidang pendidikan.

Layanan dari Google Workspace for Education Plus ini ternyata sangat bagus untuk menunjang proses pembelajaran di bidang pendidikan pada era digitalisasi saat ini, sebab untuk set up aplikasi/fiturnya yang sangat gampang serta proses pengoperasiannya yang user friendly sehingga orang awampun cepat memahami beragam fitur yang diberikan.

Lalu apakah teman-teman sudah mengenal apa itu Google Workspace for Education Plus?

Untuk mengenalnya lebih lanjut, mari kita simak pada ulasan di bawah ini.

Mengenal Google Workspace for Education Plus

Google Workspace For Education Plus (GWS for Education Plus) merupakan platform milik raksasa Google dengan fitur yang sangat berguna bagi para tenaga pendidik (guru/dosen) serta peserta dididik (siswa/mahasiswa) ketika mereka belajar serta berkolaborasi secara bersama. Selain itu, GWS for Education Plus ini mempunyai fitur berbasis cloud serta sangat mudah diterapkan di ruang kelas dan di lembaga penyelenggara pendidikan (sekolah/kampus). Secara umum, Google Workspace for Education Plus ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut:

  • fitur-fitur di GWS for Education Plus yang semakin lengkap dan akrab dengan para pekerja/karyawan, pendidik, serta peserta didik, sehingga semua aktivitas harian terkait tugas-tugas kantor, sekolah maupun kuliah dapat dikerjakan dengan lebih cepat dan efisien;
  • menghemat waktu dan tenaga dalam menghandel seluruh kegiatan ataupun tugas-tugas personal maupun tugas kelompok besar;
  • memudahkan user atau para penggunanya untuk dapat berkolaborasi, berkomunikasi, serta berinteraksi dengan siapapun dan dimana pun. Hal ini mencakup kolaborasi antar pendidik dengan peserta didik di lingkup sekolah maupun perguruan tinggi dalam tugas-tugas belajar/diskusi, kolaborasi dengan rekan kerja, atau rekan sejawat maupun rekan bisnis;
  • memudahkan penggunanya untuk saling berkomunikasi dengan beragam format, memudahkan dalam mengatur kelas daring secara mudah dan efisien;
  • memudahkan pendidik maupun peserta didik dalam hal memanagemen tugas-tugas harian di lingkup pendidikan;
  • mampu menyederhanakan beragam tugas serta kebutuhan administratif kantor maupun lingkungan pendidikan.

Lalu, Platform/Fitur Apa Sajakah yang Terdapat dalam Google Workspace for Education Plus?

1. Gmail

Semua orang pastinya sudah tidak asing lagi dengan Gmail, bukan? terutama bagi teman-teman yang sering memanfaatkan fitur ini untuk saling mengirim dan mengelola surat elektrolit dengan rekan kerja/rekan sekolah/ngampus anda ya?

Fitur Gmail pada GWS for Education Plus ini tentunya dapat kita gunakan setiap waktu untuk mengirimkan tugas-tugas kantor ataupun sekolah/kampus dengan cepat dan efisien. Ini karena kita bisa saling berkirim surat elektronik (surel) dengan orang berbeda negara, benua, bahkan daerah.

Fitur Gmail ini pastinya sangat mudah digunakan oleh semua orang, termasuk bagi para pendidik/peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Saya sendiri yang berprofesi sebagai blogger dan guru juga seringkali memanfaatkan fitur Gmail ini untuk berbalas surel dengan rekan bisnis, saat mendapatkan job menulis, atau ketika mengirim tugas dengan sesama rekan kerja, dan masih banyak yang lainnya.

Manfaat lain memiliki akun Gmail adalah bisa dipakai untuk mendaftar dan mengoperasikan sosial media yang kita miliki. Serta dari segi keamanannya juga, Gmail sangat ketat karena saya percaya produk Google pastinya sangat kredibel dan terpercaya.

2. Google Drive

Siapa sih yang gak kenal dengan Google Drive? Saya dan teman-teman pembaca pastinya sudah tidak asing dengan fitur GWS for Education Plus yang bernama Google Drive, bukan?

Google Drive merupakan fitur penyimpanan file/dokumen berbasis cloud. Setiap pengguna/user akun Google standar, pastinya secara otomatis telah mempunyai ruang penyimpanan di Google Drive sebesar 15GB, namun jika teman-teman upgrade ke penyimpan Google Drive di GWS for Education Plus, pastinya akan mendapatkan kapasitas yang lebih besar, setahu saya ada sekitar 20GB, cukup besar bukan?.

Btw, Google Drive ini ternyata dapat menyimpan file offline dengan terlebih dahulu diunggah. File seperti PDF, gambar/foto, rekaman suara, dan sejenisnya bisa disimpan di Google Drive ini. Selain itu, mampu menyimpan file-file yang sebelumnya telah dibuat secara daring menggunakan Google Docs, Google Spreadsheet, Google Slide, serta Google Forms. Setelah tersimpan otomatis pada Google Drive, maka dokumen/file tersebut bisa dibagikan kepada pengguna lainnya dengan cara memasukkan akun Gmail dari orang yang dituju tersebut.

3. Google Docs

Saya dan teman-teman pastinya sudah sering memanfaatkan fitur pada Google Workspace for education yang bernama Google Docs ya? Nah, fitur Google Docs ini merupakan platform yang berguna untuk pengolahan kata serta data yang kemudian nantinya bisa dibagikan kepada orang lain.

Adapun fungsi Google Docs ini agak mirip dengan Microsoft Word yakni menuliskan teks dengan simbol, penomoran, serta tata letak. Terdapat menu unggulannya seperti bisa langsung menulis dengan pengguna lain di lembar kerja di waktu bersamaan, fitur otomatisasi pengetikan via suara (voice typing), serta ada fitur translasi dokumen yang pastinya sangat memudahkan para pengguna dalam mengerjakan beragam tugas harian di kantor maupun lingkup pendidikan.

4. Google Slide

Fitur Google Slide ini mirip dengan Microsoft Power Point yang sering kita gunakan untuk mengadakan presentasi tugas/portofolio yang kita miliki.

Google Slide ini pastinya sangat berguna dalam pembuatan desain presentasi yang lebih menarik, dan bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan kita. Template untuk pembuatan slide presentasinya pun cukup beragam dan kita bisa memanfaatkannya secara otomatis dari template bawaannya langsung. Dalam pembuatan slide presentasi, maka penggunapun bisa langsung memasukkan gambar/foto, video, audio, dan lain sebagainya.

5. Google Spreadsheet

Google Spreadsheet lebih difungsikan untuk pengolahan data serta diagram. Kita bisa memanfaatkan fitur ini dalam pengolahan data baik itu untuk penjumlahan data, mencari nilai dengan rumus-rumus tertentu, mengklasifikasikan serta memvisualisasikan data sesuai kebutuhan.

6. Google Forms

Saya sebagai seorang guru seringkali memanfaatkan Google Forms ini untuk membuat soal-soal ujian untuk siswa. Cara memanfaatkan fitur ini sangat mudah sebab Google Forms ini kita bisa menyusun pertanyaan serta alternatif jawabannya dalam bentuk soal pilihan ganda, uraian singkat (essay), pertanyaan terbuka maupun dalam bentuk skala. Selain itu, kita juga bisa memasukkan token unik pada Google Forms yang kita buat, misalnya saat membuat soal Ujian Semester yang hanya satu siswa mempunyai kode token yang berbeda antara peserta ujian satu dengan yang lainnya.

Penggunaan fitur Google Forms ini sering dilakukan di sekolah saya saat pandemik COVID-19, terutama saat memberikan soal-soal ujian tengah semester atau ujian semester ganjil maupun genap.

Kesan saya menggunakan fitur Google Forms ini sangat puas, karena saya sebagai guru tidak perlu capek-capek lagi mengoreksi tugas siswa, karena laporan hasil belajar siswa melalui ujian yang diterapkan bisa kita lihat secara real time. Kita juga bisa dengan mudah mendownload hasil nilai siswa yang sudah terkoneksi juga dengan Google Spreadsheet.

7. Google Classroom

Di Google Workspace for Education Plus ini juga terdapat fitur Google Classroom. Fitur ini sering saya pakai terutama saat belajar daring sewaktu terjadi pandemik COVID-19 beberapa waktu lalu.

Google Classroom ini sangat membantu saya dalam mengatur tugas-tugas siswa secara sistematis. Di fitur ini juga saya bisa meningkatkan kolaborasi, inovasi, dan komunikasi dengan peserta didik secara efisien, teratur dan jauh lebih baik, sehingga pembelajaran semakin dinamis.

Saya sebagai guru bisa memberikan tugas dengan pengaturan waktu tertentu sesuai jadwal, penjadwalan tugas/kuis/materi pengayaan secara otomatis yang bisa diakses peserta didik dari berbagai perangkat (device), pengoreksian dan pemberian nilai tugas dengan mudah, serta memudahkan saya dalam membagikan pengumuman/tugas secara berkala.

8. Google Meet

Biasanya saat pembelajaran daring di sekolah bersama siswa atau dengan rekan-rekan guru, maka saya selalu memanfaatkan video conference baik via zoom maupun Google Meet. Saya merasakan banyak manfaat menggunakan fitur dari GWS ini. Google Meet ini sering saya manfaatkan untuk melakukan video konferensi bersama peserta didik saat pembelajaran daring.

Pengoperasian fitur Google Meet ini sangat gampang sekali. Teman-teman bisa menjadwalkan sesi video konferensi serta membagikan tautan undangan ke orang lain dengan memasukkan alamat email orang yang dituju. Maka setelah itu, undangan akan secara ototmatis terkirim ke email orang yang dituju dan langsung terkoneksi dengan Google Calendar.

Google Meet di era pandemi COVID-19 dan pembelajaran berbasis Blended Learning sangat dibutuhkan baik oleh tenaga pendidik (guru/dosen) maupun peserta didik (siswa/mahasiswa), sehingga managemen pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi dapat dioptimalkan secara baik.

Saya merasakan bahwa beragam fitur-fitur canggih di atas, yang mana produk dari pemilik teknologi ternama bernama Google Inc. ini sudah tidak diragukan lagi, karena selain ditenagai oleh teknologi mutakhir yang relevan dengan era Revolusi Industri 4.0 juga nyatanya sangat disukai oleh semua orang karena sangat kompatibel dengan perangkat/device yang kita miliki (smart phone, tablet, atau komputer).

Selain itu, saya sangat terbantu dengan GWS sebab semua pekerjaan-pekerjaan kantor dan sekolah ataupun kampus (karena saya saat ini sedang kuliah PPG Dalam Jabatan) lebih cepat kelar, dan pastinya kreativitas kita akan saling tersambung dari waktu ke waktu.

Kampus Untan dan Era Revolusi Industri 4.0

Kampus Universitas Tanjungpura merupakan salah satu kampus di Indonesia yang sudah menerapkan proses pembelajaran yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi digital berbasis Google Workspace for Education Plus.

Hal ini dilakukan oleh kampus Untan sebagai Cyber University untuk menjawab tantangan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0, yang mana kampus/lembaga pendidikan sudah harus bertransformasi ke lingkup teknologi digital baik dalam segi managemen lembaga kampus (tata kelola perkantoran di kampus Untan), proses pembelajaran, serta pemanfaatannya untuk lingkup lainnya yang lebih luas.

Beberapa waktu lalu, kampus Untan memutuskan untuk berkolaborasi dengan Google untuk melakukan upgrade Google Workspace (GWS) ke edisi terbaru yakni Google Workspace for Education Plus. Edisi GWS terbaru Google ini memiliki kapasitas ruang penyimpanan sebesar 20GB untuk setiap dosen, tenaga pendidik, maupun mahasiswa Untan. Menurut saya sangat beruntung sekali sebagai tenaga pendidik maupun mahasiswa di kampus Untan yang bisa dengan leluasa memanfaatkan fitur dari GWS for Education Plus ini.

Sumber gambar: https://untan.ac.id/untan-bekerjasama-dengan-google-menggunakan-google-workspace-for-education-plus-siap-bersaing-di-tingkat-internasional/

Lebih serunya di edisi GWS terbaru ini, dalam fitur Google Drive juga memiliki fitur mumpuni seperti Documment Approval, Meet di Docs, Sheets, Slides, Smart Chips, serta Cloud Search.

Fitur Google Meet untuk pembelajaran berbasis video virtual semakin interaktif dan kolaboratif dengan GWS for Education Plus ini. Pasalnya, daya tampung peserta meeting bisa menampung 500 peserta. Cukup banya juga bukan kuota peserta zoom meetnya?. Selain itu, terdapat juga fitur rekaman (recording), live-streaming ke YouTube, fitur polling, fitur tanya-jawab (Q&A), laporan kehadiran secara real time, peredam suara, breakout room, dan lain sebagainya.

Selain itu, yang tak kalah menariknya yaitu adanya fitur Google Classroom dalam GWS for Education Plus ini dengan fitur tambahannya seperti cek plagiasi secara akurat, Practice Sets, Meet on Classroom serta Classroom Add-Ons.

Beragam fitur-fitur yang ada pada Google Workspace for Education Plus di atas pastinya sangat menguntungkan bagi semua pendidik, mahasiswa dan juga stake holder lainnya dalam mempermudah semua aktivitas belajar dan tata kelola kampus setiap harinya.

Sehingga harapan besar saya sebagai penulis, semoga dengan kehadiran fitur-fitur mumpuni dari Google Workspace for Education Plus ini tentunya dapat menjadikan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) serta aktivitas tata kelola perkantoran di Untan akan semakin baik lagi. Sehingga ke depannya, kampus Untan akan terus tumbuh dan berkembang serta mampu bersaing di lingkup pendidikan baik di ranah lokal, nasional maupun internasional. Aamiin ya rabbal alamin.

Terima kasih sudah menyimak artikel di atas, tetap jaga kesehatan dan tetap berpikir positif untuk kita semuanya πŸ™‚

Sumber Referensi:

  • Beberapa gambar pada artikel menyertakan hasil desain penulis serta tangkapan layar milik penulis yang terdaftar di Google Workspace dan fitur terkait di dalamnya.
  • Giunta, C. (2017). An Emerging Awareness of Generation Z Students for Higher Education Professors. Archives of Business Research, 5(4), 90-104.
  • Glum, J. (2015, Jan 13). Marketing to Generation Z: Millennials Move Aside as Brands Shift Focus to Under-18 Customers. International Business News.
  • Kurniadi. 2022. UNTAN bekerjasama dengan GOOGLE, Menggunakan Google Workspace for Education Plus, Siap Bersaing di Tingkat Internasional. Link artikel: https://untan.ac.id/untan-bekerjasama-dengan-google-menggunakan-google-workspace-for-education-plus-siap-bersaing-di-tingkat-internasional/.
  • Rideout, V., Foehr, U., & Roberts, D. (2010). Generation M2: Media in the lives of 8 to 18-year-olds. Kaiser Family Foundation Study. http://www.kff.org/entmedia/8010.cfm.
  • Shenila Janmohamed (2016) Generation M: Young Muslim Changing The World. London: I.B. Tauris.
  • Tim Penulis Kemdikbudristek. 2019. Modul 2: Peran Guru dalam Pembelajaran Abad 21 (Pendidikan Profesi Guru/PPG Dalam Jabatan). Jakarta.
Taggs:
36 Comments
  • Nurul Rahma 3:15 pm 14 November 2022 Balas

    Pemaparan yg amat komprehensif
    Pastinya siapapun butuh produk Google ini.
    Apalagi yg b’kecimpung di dunia pendidikan ye kaaannn

    • Frida 10:55 am 16 November 2022 Balas

      Butuh bantuannya nih agar nanti bisa diajarkan ke kami para guru masih belum memahami cara penggunaannya ya pak πŸ˜„

      • Wahid Priyono 11:16 am 16 November 2022 Balas

        Hehehe, sebagian GWS ini sudah kita pakai kok bu dalam kegiatan KBM di sekolah πŸ™‚

  • Dessy Achieriny 6:49 pm 14 November 2022 Balas

    Iya betul kak, apalagi sistem sekolah penggerak gini sekarang serba turun lapangan dan bikin persentasi. Nah Layanan dari Google Workspace for Education Plus ini ngebantu banget untuk menunjang proses pembelajaran di bidang pendidikan pada era digitalisasi saat ini ya.

    • Wahid Priyono 9:52 am 30 November 2022 Balas

      Yups betul banget kak Dessy. Sehari2 memang kita butuh banget produk google seperti GWS ini πŸ™‚

  • Maria G 10:30 pm 14 November 2022 Balas

    ya ampun saya nih kudet

    tiap hari pakai google, tapi baru tau tentang Google Workspace for Education Plus

    tulisan Mas Wahid selalu lengkap dan informatif

    • Wahid Priyono 9:53 am 30 November 2022 Balas

      Makasih kak Maria… di era digital seperti sekarang ini ya memang kita kudu banget kan kerja sat set sat set…. fitur2 google termasuk GWS sering saya pake sih tuk pembelajaran di sekolah.

  • Taufiqur rahman 11:57 pm 14 November 2022 Balas

    Selalu ada yang baru dari google. Inovasinya gak pernah berhenti. Terus terang, saya baru tahu tentang Google Workspace for Education Plus dari baca tulisan ini. Makasih Mas Wahid…

  • Emma 5:39 am 15 November 2022 Balas

    Fitur-fitur google mah luar biasa deh bagusnya, anakku aja kalau belajar luar biasa jadi kreatif dan inovatif lho, kerenπŸ‘

    • Wahid Priyono 8:00 am 16 November 2022 Balas

      Setuju kak, google emg profesional banget

    • Rahmi widiati 11:00 am 16 November 2022 Balas

      Untuk menghadapi perkembangan zaman di era 4.0 dan para generasi Z yang memang sangat akrab dengan internet dan gawai, penggunaan berbagai fitur google worksheet ini sangat membantu dalam proses belajar mengajar
      Sebagai seorang guru saya merasa sangat terbantu dengan vitur2 yang disediakan, apalagi ada akun guru pembelajar dari google yang memiliki akun penyimpanan drive tanpa batas, kemudian ada pula fitir google form yang memudahka guru untuk emmbuat soal evaluasi dan mempercepat penilaian
      Intinya dengan beberapa fitur2 google worksheet ini sangat sesua diaplikasin untuk proses belajar mengajar di era sekarang ini

  • Fenni Bungsu 8:08 am 15 November 2022 Balas

    Daku suka lihat google workspace ini, tapi belum pernah menjajalnya.
    Ternyata banyak hal yang bisa dimanfaatkan dengannya ya

    • Wahid Priyono 9:54 am 30 November 2022 Balas

      Ayok kak Fenni dicoba pake GWS, dijamin kerjaan sehari2 sebagai seorang blogger, freelancer, dll juga makin terbantu.

  • Ila Rizky 11:41 am 15 November 2022 Balas

    Ini memudahkan sekali buat guru dan murid ya. Pakai google udah tercakup semua fasilitasnya. Tinggal maksimalin aja pakai google buat kebutuhan belajar mengajar. Aku paling suka pakai google docs yang bisa pakai voice to text, memudahkan ngetik2

    • Wahid Priyono 9:55 am 30 November 2022 Balas

      Betul kak Ila, karena GWS ini menurut saya relate banget dengan kondisi zaman sekarang ini. Fitur2 GWS juga simpel tapi valuenya luar biasa banyak. Cocok dipakai di era digital saat ini.

  • Rania Fardyani 1:54 pm 15 November 2022 Balas

    Saya udah pernah pake semua untuk ikut kelas online dan semuanya useful!
    Google classroom emang terobosan buat jadi pengumpul tugas online

    • Wahid Priyono 9:56 am 30 November 2022 Balas

      Huhu, yups kak, di masa pandemik waktu sekolah daring dulu saya sebagai guru juga memanfaatkan layanan GWS, termasuk google classroom bagus banget untuk komunikasi dengan siswa, pengumpulan tugas hingga penilaian… produk google emang keren… πŸ™‚

  • Dian 2:30 pm 15 November 2022 Balas

    Era digitalisasi seperti ini membantu semua aktivitas kita ya mas
    Termasuk dalam bidang pendidikan
    Adanya Google Workspace for Education Plus bisa memperlancar proses pendidikan

    • Wahid Priyono 9:57 am 30 November 2022 Balas

      Betul kak Dian, adanya GWS berperan penting juga di bidang pendidikan. Bahkan menurut saya sangat penting banget GWS ini, termasuk di lingkungan kampus sangat cocok pake GWS.

  • Annisakih 4:43 pm 15 November 2022 Balas

    Nah, untuk mengimbangi generasi M ini para guru / dosen pun tidak boleh kudet harus mau belajar juga. Sekolah dan universitas juga harus menyediakan infrastrukturnya. Contohnya kerjasama antara Untan dan Google ini, semoga bisa ditiru lembaga pendidikan lainnya

    • Wahid Priyono 9:58 am 30 November 2022 Balas

      Yups betul banget, zaman semakin berubah, saya pun sebagai pendidik harus terus meningkatkan kompetensi dan menyesuaikan dengan lintas generasi serta perubahan di dunia digital yang lekat dengan generasi Milenial/Gen-Z

  • lendyagassi 4:49 pm 15 November 2022 Balas

    Ternyata ada banyak sekali fitur dari google yang bisa dimanfaatkan untuk menggali ilmu ya..
    Aku selama ini hanya memanfaatkan beberapa.
    Belum pernah secara keseluruhan memanfaatkan fitur di Google Workspace for Education Plus.

    Cakepnya, semua gratis yaa..
    Meski ada batasan memorinya.

  • Junia 11:17 am 16 November 2022 Balas

    Wahhh, bagus sekali. Sangat membantu

    • Titien Nusair 9:30 pm 17 November 2022 Balas

      Keren Pak Wahid. Info nya sangat bermanfaat. Selama ini tahunya google hanya mesin pencarian, ternyata punya banyak fitur yang berguna dalam menunjang pendidikan di abad 21 ini, pembelajaran berbasis IT juga masih sangat bergantung dengan fitur2 dari google.

      Terus berkarya pak

      • Wahid Priyono 5:56 am 18 November 2022 Balas

        Makasih bu Titien Nusair sudah mambaca artikel saya πŸ™‚

  • Desi Elvita 5:32 am 18 November 2022 Balas

    Mantap pak…ditunggu karya2 yang berikutnyaπŸ‘πŸ‘

  • Ema Novaria 6:54 am 18 November 2022 Balas

    baru beberapa fitur yang kenal di google.. penasaran sama yang lain…

  • Nengsi 6:47 pm 18 November 2022 Balas

    Lengkap banget ya aplikasi yang ada di Google Workspace for Education Plus. Cocok banget dengan pendidikan gen Z sekarang ini. Bahkan generasi millenial pun juga butuh aplikasi dalam platform ini.

    • Wahid Priyono 9:59 am 30 November 2022 Balas

      Yups, produk GWS sangat lengkap menurut saya dan memang didesain google untuk cocok semua generasi. Fitur2 GWS menurut saya simpel tapi valuenya tinggi.

  • Annisa Tang 3:49 am 20 November 2022 Balas

    Betul banget Pak Guru, ridak dapat menyamakan pendidikan anak-anak di masa lampau dan anak-anak di masa kini. Anak dulu manut saja sama ortu, karena kadang takut dihajar juga, hehehee. Tapi anak-anak sekarang lebih kritis, karena sumber pengetahuan bisa dia dapatkan dari mana-mana dengan adanya kemajuan teknologi.

    • Wahid Priyono 10:01 am 30 November 2022 Balas

      Yups, dalam mendidik maka harus menyesuaikan dengan generasinya ya kak Nisa. Apapun lintas generasinya sebagai guru, dosen/pendidik kudu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Gak boleh kudet. Hehe πŸ™‚

Write a comment