Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Saya Dukung Bandung Sebagai Kota Cerdas Pangan dan Bebas Food Waste

28 April 2021 Edukasi
Saya Dukung Bandung Sebagai Kota Cerdas Pangan dan Bebas Food Waste

Walaupun saya tinggal di Lampung, namun saya juga bangga kepada kota lain di Indonesia yang turut memperhatikan isu-isu seputar lingkungan hidup. Saya suka sekali dengan pemerintah kota/kabupaten/provinsi yang selalu peduli ketika mengangkat isu-isu permasalahan lingkungan dan menjadikan agenda/kegiatan-kegiatan positif untuk kesadaran bersama tentang bagaimana bijak kelola limbah penyebab pencemaran lingkungan dan menumbuhkan sikap peduli lingkungan sejak dini.

Orang-orang yang bekerja dan terlibat di pemerintahan kota/kabupaten/kota memang harus menjadi icon dan contoh terbaik bagi rakyat yang ada di bawah kepemimpinannya. Misalnya, mereka mengajarkan tentang bagaimana gaya hidup bebas sampah makanan, menjadikan suatu kota memiliki program cerdas pangan/Food Smart City bebas sampah makanan seperti yang sudah diterapkan di kota Bandung. Ini adalah program-program yang asyik dan menyenangkan karena lekat dengan aktivitas kita sehari-hari. Jadi mudah dipraktekkan.

Munculnya gerakan bebas limbah makanan dan Bandung Food Smart City adalah langkah bijak pemerintah kota Bandung untuk mengajak warganya lebih bijak menangani limbah sampah makanan (food waste) yang tersisa akibat gaya hidup konsumtif setiap hari. Karena bagaimanapun juga, sampah makanan yang kita hasilkan akibat berbelanja dan penggunaan bahan makanan sehari-hari maka kita harus sadar diri serta mau bertanggungjawab untuk terlibat dalam mengelola dan mengkonversinya menjadi sesuatu hal yang bermanfaat (supaya ada nilai value-nya).

Bandung Food Smart City muncul didasarkan dalam rangka penyadaran masyarakat terhadap bahayanya sampah sisa makanan (food waste). Karena berdasarkan kutipan di halaman website bandungfoodsmartcity.org menyebutkan bahwa dari hasil penelitian Food and Agriculture Oragization (FAO) pada tahun 2011, sepertiga dari total produksi pangan terbuang, yang mana jumlah tersebut dapat diberikan untuk memberi makan kepada sekitar 700-800 juta orang (FAO, 2011). Sementara di sisi lain, ketersediaan pangan di Indonesia semakin rentan karena terjadinya alih fungsi lahan pertanian yang terus meningkat menjadi perumahan, mall, dan pabrik (Indarto, 2018; Irianingsih,2018; Wasliah, 2018b). Selain itu, pada kenyataannya di lapangan, dampak buruk dari food waste antara sisa makanan yang terbuang di tanah bisa menyebabkan pencemaran tanah sehingga tanah akan mengandung gas metana yang berbahaya bagi atmosfer bumi, bau busuk akibat pencemaran air oleh mikroorganisme penguraian makanan.

Dari fakta-fakta di ataslah maka tergeraklah niatan baik melalui gerakan/program positif seperti Bandung Food Smart City Bebas Sampah Makanan yang dipelopori oleh Rikolto veco, FISIP Unpar, serta pemerintah kota Bandung dengan tujuan supaya kota Bandung menjadi kota yang cerdas pangan untuk mengurangi terjadinya food waste yang dapat mencemari lingkungan sekitar.

Mengenal Program Bandung Food Smart City

Setidaknya kini ada 3 program unggulan Bandung Food Smart City yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yakni:

#1 Food Racing

Kegiatan Food Racing ini pernah dilakukan oleh tim Bandung Food Smart City kepada pelajar di beberapa sekolah di kota Bandung dan sekitarnya. Adapun beberapa sekolah yang sudah terlibat dalam program Bandung Food Smart City antara lain SMPN 2 Bandung, SMA Trinitas, dan SMAK BPPK dengan peserta bisa mencapai rata-rata 300-an anak/pelajar. Bentuk demontrasi Food Racing ini cukup menarik sih menurut saya karena berbentuk permainan (games) sehingga siapa saja yang terlibat dalam kegiatan Food Racing ini sudah pastinya enggak mudah bosan.

Permainan (games) yang dimunculkan dan didemonstrasikan kepada para pelajar/anak-anak yaitu bertujuan untuk memberikan edukasi serta penyadaran bahwa bahan makanan yang tersisa di piring atau minuman yang tersisa di gelas minuman itu bisa berdampak buruk bagi lingkungan karena bisa memberikan dampak pencemaran, serta dampak buruk bagi bumi ke depannya jika tidak tertangani dengan baik.

Pos dalam permainan “Food Racing”, Sumber foto: bandungfoodsmartcity.org

Permainan di atas tentu saja dimentori oleh seorang pakar berbeda dan setiap pos akan mendemonstrasikan kiat/cara terbaik dalam penanganan food waste sehingga tidak membahayakan lingkungan sekitar.

Setelah games usai, para peserta diajak berkumpul oleh tim untuk melakukan campaign serta para peserta akan ditanya dan berargumen tentang pendapatnya setelah mereka merasakan permainan “Food Racing” tersebut. Dan goal setting dari Food Racing ini adalah memberikan kesadaran dan komitmen individu bagi seluruh peserta yang ikut tentang pentingnya gaya hidup yang sebelumnya food waste menjadi antifood waste. Tentu ini harus dilakukan secara kontinyu dan penuh kepedulian yang begitu dalam.

#2 Food Sharing

Saya tahu betul Kota Bandung sangatlah tergantung dari stok impor bahan pangan dari luar daerah. Ini berdasarkan informasi juga sih dari saudara saya yang juga tinggal di kota Bandung. Banyak impor bahan pangan yang berasal dari kota/provinsi lain, misalnya untuk buah-buahan pisang, lada, kopi juga banyak mengimpor dari daerah Lampung.

Akibat impor bahan makanan yang berlebih juga bisa berdampak kepada pencemaran lingkungan. Ini terjadi akibat gaya konsumtif orang akan bertambah, apalagi ditambah dengan kota Bandung mempunyai sektor pariwisata serta dikenal sebagai kota kuliner dan kota jasa. Maka, tentu saja bisa dipredisikan limbah makanan dari kuliner-kuliner ini bisa saja muncul dalam skala besar dan butuh penanganan yang berimbang supaya tidak lagi ada sisa makanan/minuman yang bakalan mencemari lingkungan.

Program Food Sharing ini sangat positif karena melibatkan seluruh stake holder baik dari tim Bandung Food Smart City, pemerintah kota Bandung, dan forum Badami.

#3 Urban Farming

Saya pun sangat suka sekali dengan urban farming di sekitar rumah. Saya biasanya juga menanam berbagai macam jenis tanaman sayur-mayur, buah-buahan, serta tanaman apotek hidup/biofarmaka misalnya adalah kencur, kunyit, jahe, laos, daun katuk, dan masih banyak yang lainnya.

Nah, untuk pupuk yang saya berikan ke tanaman sayuran, tanaman hias atau tanaman apotek hidup saya di atas adalah Pupuk Organik Cair yang saya buat dari limbah-limbah sisa sayuran/makanan (food waste), misalnya dari kulit buah-buahan, yang saya jadikan menjadi Pupuk Organik Cair (POC). POC dari sisa kulit buah-buahan ini sangat bagus menurut saya dan penelitian yang dilakukan oleh para petani karena mengandung banyak unsur hara dan mineral yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang seperti Mg, Kalium, Nitrogen, Fosfor, dan lain sebagainya.

Untuk membuat pupuk POC dari sisa sampah makanan (kulit buah-buahan) cukup mudah dilakukan sendiri di rumah. Saya pun sudah membuat POC dari sampah kulit semangka dan kulit pisang serta jenis kulit buah-buahan lainnya setiap hari. Contohnya ada pada gambar di bawah ini.

Dokumentasi Pribadi: Saya rutin sekali membuat POC dari bekas sisa-sisa batang sayuran/kulit buah-buahan.

Cara membuat POC dari kulit pisang dan kulit semangka cukup gampang, tinggal masukkan air secukupnya pada toples/botol bekas minuman lalu masukkan kulit buah-buahan di dalam airnya (kulit buah bisa dipotong-potong terlebih dahulu), dan biarkan hingga sampai satu minggu. Jangan lupa tutup rapat pada bagian tutup wadahnya supaya tidak ada udara yang masuk. Setelah satu minggu, maka POC sudah jadi dan bisa disiram ke bagian tanah sekitar pusat tumbuh tanaman. Dan untuk sisa kulit yang sudah dimasukkan ke dalam botol/toples berisi air tadi bisa dipotong-potong lalu diletakkan di atas tanah sekitar pusat tumbuh tanaman (dekat akarnya), atau bisa dikubur di dalam tanah. Jadi sisa kulitnya masih tetap produktif dan menjadi kompos alami, tidak mencemari lingkungan dan penyebab bau busuk. Karena sampah kulit pisang/potongan kulit semangka adalah sampah organik jadi mudah terurai oleh mikroorganisme tanah seperti bakteri. Cukup mudah bukan? yuk sekarang giliran kamu yang buat POC dari rumah.

Oya, Urban farming juga penting sebagai gaya hidup sehat dan penyelamatan bumi dari global warming. Dari aktivitas urban farming juga tentunya akan diperoleh bahan pangan dan obat-obatan yang bermanfaat untuk konsumsi tubuh sehari-hari. Selain itu, urban farming juga bisa menjadi simbol ketahanan pangan lokal, green jobs, mengurangi pengangguran, penyelamatan ekonomi keluarga dan lain sebagainya.

jahe wahid 6
Saya melakukan urban farming di sekitar rumah dengan menanam jahe di wadah polybag, hasil panennya luar biasa.

Urban farming memang cocok juga diterapkan di Kota Bandung, karena mengingat lahan di area perkotaan di kota Bandung juga cukup sempit. Sehingga lahan sempit masih bisa dijadikan lahan yang potensial untuk bercocok tanam baik itu menggunakan pot polybag, karung bekas, plastik bekas, botol minuman bekas, dan lain sebagainya.

Program urban farming dari pemkot Bandung misalnya adalah program Kangpisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) dapat dimanfaatkan sebaga barometer pendekatan bisnis berbasis urban farming. Urban farming ini penting untuk mengajak masyarakat kota Bandung dan sekitarnya agar lebih melek dengan lingkungan hijau yang bermanfaat bagi bumi dan pelestarian kekayaan alam Indonesia.

Yes, Akhirnya Saya Dukung Bandung Food Smart City, Bebas Sampah Makanan!

Screenshoot gambar dari website bandungfoodsmartcity.org

Dari program Bandung Food Smart City di atas saya sangat apresiasi dan mendukung secara penuh karena aksi kegiatannya nyata dan benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar. Apalagi rata-rata orang Bandung tingkat pendidikannya banyak yang tinggi-tinggi sehingga mudah dalam menerima pemaparan materi dan grand design dari kota cerdas pangan tersebut.

Selain itu, harapan saya yang juga warga lain di luar kota Bandung ke depannya, program Bandung Food Smart City tersebut juga bisa menjadi inspirasi dan contoh untuk diterapkan/diadopsi di daerah-daerah kabupaten/kota/provinsi lain yang ada di Indonesia. Kita tinggal doakan bersama saja semoga semakin merata program-program positif yang mengangkat isu-isu global tentang bijak kelola lingkungan termasuk food waste di dalamnya. Karena jujur saja program-program semacam food smart city semacam ini masih jarang kita temui. Dan tentunya, sudah saatnya program baik semacam ini mari kita kampanyekan secara rame-rame biar yang lain juga jadi tahu. Pada akhirnya, tugas menyelamatkan bumi adalah tanggungjawab kita bersama, setuju ya?

Bumi ini adalah satu-satunya rumah kita, maka kita tidak punya pilihan lain selain untuk “MERAWATNYA”

Sumber Referensi Pendukung Tulisan:

Taggs:
28 Comments
  • Katerina 5:07 pm 28 April 2021 Balas

    Luar biasa. Saya kagum. Dari penjelasannya di atas, pastinya saya juga sangat mengapresiasi dan mendokan agar banyak warga Bandung mendukung program Bandung Food Smart City tersebut. Sukses ya!

    • Wahid Priyono 7:10 pm 28 April 2021 Balas

      Tentunya kak Katerina…karena kita butuh ide-ide brilian dari Masyarakat untuk memecahkan persoalan yang ada di lingkungan sekitar, juga ikut kampanye gerakan bebas food waste !

  • Moch. Ferry 5:08 pm 28 April 2021 Balas

    Bandung bisa menginspirasi kabupaten kota lain mengelola sampah lebih baik dan membuat masyarakat nyaman.

    • Wahid Priyono 7:07 pm 28 April 2021 Balas

      Limbah sisa makanan jika tidak ditangani secepat mungkin bisa menjadi bahan pencemar di lingkungan. Bisa menyebabkan bau tidak sedap akibat pembusukan oleh mikroorganisme yang tidak kita inginkan… makainya kita perlu bijak juga dalam pengelolan food waste di tempat kerja,di rumah, kantin, rumah makan, hotel, dll..

    • Wahid Priyono 7:32 pm 28 April 2021 Balas

      Betul sekali kak Ferry, mudah2an kota lain di Indonesia segera meluncurkan program zero food waste dan kota cerdas pangan berikutnya setelah kota Bandung…

      • Ririn Wandes Melalak Cantik 2:12 pm 29 April 2021 Balas

        Kota Bandung memang patut banget dijadikan panutan untuk kota lainnya nih. Saya yakin memang cocok Bandung jadi smart city. Dengan lebih cerdas mengelola sampah makanan pastinya mengurangi limbah juga ya.

  • Dwi Sugiarto 6:42 pm 28 April 2021 Balas

    Menarik sekali nih ulasan seputar urban farming, pengin nyoba tapi nggak ada lahannya

    • Wahid Priyono 7:00 pm 28 April 2021 Balas

      Hallo mas Dwi Sugiarto, lama tak bersua di sosmed dan blog lagi….hehe, dulu mah rajin ya ke blognya mbak Indri Juragan Cipir…hehe.. oya, mas urban farming itu bisa kok dilakukan di lahan yang sempit depan rumah. Nanem jahe aja mas di wadah pot polybag, pertumbuhannya cepat dan juga bisa untuk tanaman apoptek hidup jika sewaktu2 butuh untuk obat jika sakit.

      • Laela Dzuhria Wahyudo 8:58 pm 28 April 2021 Balas

        Wahh mau coba buat POC ah.. suamiku pecinta tanaman, siapa tahu dia blm update. Kali aja tanaman kita bisa jadi subur dan bebas hama. Makasih ilmunya Om.

        • Wahid Priyono 6:33 am 29 April 2021 Balas

          Monggo kak dibuat POC nya sesuai kebutuhan. kalo jumlah tanamannya banyak bisa buat pake drum atau ember besar jadi biar lebih praktis…

  • viandri 7:42 pm 28 April 2021 Balas

    Aku juga setuju. Bandung itu adalah kota yang ramah untuk perantau. Semoga bisa menjadi contoh kota lainnya untuk peka terhadap sampah makanan.

    • Wahid Priyono 8:02 am 29 April 2021 Balas

      Iya betul kak Viandri, kita harus lebih bijak ya kelola sampah, karena sampah kita adalah tanggungjawab kita…

  • Maria Soemitro 2:23 am 29 April 2021 Balas

    wah kerennnn
    Udah bikin pupuk organik cair sendiri
    Semoga banyak yang tertular yaaa…
    Eniwei kalo udah panen jahe, kirim ke sini ya? ^^

  • Ira Hamid 3:08 am 29 April 2021 Balas

    Semoga kota-kota lain segera menyusul yaa. Sedih banget kalo tahu ada makanan yang dibuang-buang

    • Wahid Priyono 6:32 am 29 April 2021 Balas

      iya betul kak. kalo mau makan itu jangan pake emosi tapi pake perasaan hehe…misalnya tahu porsi berapa banyak yang harus masuk ke lambung. jadi biar gak ada sisa makanan di piring. hehe…

  • lita chan lai 7:31 am 29 April 2021 Balas

    Bandung selalu jadi sumber inspirasi masyarakat lain. pupuk cair yg di ulas bisa dicobain nih…

    • Wahid Priyono 8:00 am 29 April 2021 Balas

      Monggo kak, silakan dicoba bikin POC-nya….bisa diperbanyak sesuka kita kak, mau bikin 1 drum atau 1 ember besar juga bisa kak…

  • Annie Nugraha 8:15 am 29 April 2021 Balas

    Masalah pengelolaan sampah makanan ini sudah pada tahap yang wajib banget kita perhatikan dan laksanakan ya Mas. Setidaknya dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dengan kedisiplinan dan pemahaman yang baik, kita turut menyatakan kepedulian serius kita akan keterbelangsungan kesehatan bumi

    • Wahid Priyono 8:23 am 29 April 2021 Balas

      Iya betul sekali kak Annie… dari lingkungan terkecil keluarga juga sudah harus lebih bijak kelola limba sampah makanan yang kita konsumsi sehari-hari…

  • Nurul Rahma 8:40 am 29 April 2021 Balas

    Kak Wahid, ulasannya sangat mantab dan super inspiratif!
    Memang kita kudu lebih concern lagi seputar sampah makanan.
    Apalagi, sampah yang kita hasilkan akibat berbelanja dan penggunaan bahan makanan sehari-hari maka kita harus sadar diri serta mau bertanggungjawab untuk terlibat dalam mengelola dan mengkonversinya menjadi sesuatu hal yang bermanfaat

    • Wahid Priyono 8:49 am 29 April 2021 Balas

      Oya kak, kita memang perlu sadar diri, tau diri, dan tanggungjawab dengan sampah makanan yang kita konsumsi. Sebijak mungkin dan sambil belajar pelan-pelan untuk menjadikan sampah lebih bernilai.

  • Nanik Nara 10:01 am 29 April 2021 Balas

    Saya pun sangat berharap bahwa Bandung Food Smart City ini bisa di adopsi di kota/kabupaten lain. tentu memang butuh kesadaran dan upaya dari pimpinan supaya kebijakan seperti ini bisa diterapkan dari atas ke bawah, sambil menumbuhkan kesadaran dalam diri masyarakat

  • Fenni Bungsu 10:53 am 29 April 2021 Balas

    Ini bisa Menginspirasi kota lain juga dengan program Bandung Food Smart City. Dengan begitu bisa meminimalisir sampah makanan, dan menjaga lingkungan sekitar. Semoga di wilayah lain banyak yang menerapkan juga ya

  • Rika Widiastuti Altair 4:53 pm 29 April 2021 Balas

    Masalah sampah makanan ini nggak main2 ya mas. Bahkan dampaknya nyata banget buat lingkungan dan kehidupan. Tapi masih banyak yang cuek. Semoga kota2 lain bisa segera mengaplikasi program dari Bandung Smart City ini

  • Dian 5:17 pm 29 April 2021 Balas

    wahh keren banget program Bandung Food Smart City ini ya mas…patut dicontoh oleh kota-kota lainnya nih, agar persoalan sampah makanan bisa teratasi

  • Syamsiah 9:06 am 1 Mei 2021 Balas

    Mudah2an kota2 lai bisa segera menyusul ya mas
    Juga mudah2an programnya juga ditambah untuk sampah anorganik juga
    Sehingga harapannya, ke depan Indonesia juga bisa nol sampah

    • Wahid Priyono 10:21 am 1 Mei 2021 Balas

      Aamiin kak, moga saja Indonesia ke depannya bisa lebih baik lagi, sehingga setiap orang sadar dan bijak kelola sampah yang mereka dapatkan setelah mengonsumsi makanan/minuman dll.

Write a comment