Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Influencer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Influencer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Beginilah Cara Saya Menghadapi Toxic People di Tempat Kerja Agar Mood dan Kesehatan Mental Tidak Rusak

24 Januari 2023 Blog Competition
Beginilah Cara Saya Menghadapi Toxic People di Tempat Kerja Agar Mood dan Kesehatan Mental Tidak Rusak

Selepas bermain badminton malam itu, di salah satu gor ternama di kota Bandar Lampung, seorang teman mengajak untuk mampir makan terlebih dahulu sebelum kami pulang ke rumah masing-masing. Teman saya ini adalah seorang pria yang sudah beristri. Dia dosen di salah satu kampus negeri di Lampung. Tidak tanggung-tanggung walau masih muda tapi gelarnya sudah doktor (Dr.).

Oke, saya mengiyakan ajakan dia. Lalu, segera kami berkemas-kemas untuk memasukkan raket, sepatu, memisahkan baju kotor ke dalam wadah plastik khusus dan beberapa peralatan lainnya.

Setelah dirasa semuanya tidak ada yang tertinggal, lalu seperti biasanya, tradisi kami sebelum pulang ke rumah masing-masing adalah saling meminta izin satu sama lain (bersalam-salaman). Saya rasa etika semacam ini penting untuk menjaga rasa persatuan dan kesatuan bangsa, tradisi yang sudah dicontohkan oleh nenek moyang kita dulu.

Singkat ceritanya, saya dan teman saya itu memilih untuk makan di kedai nasi goreng yang tidak jauh dari gor badminton. Di kedai tersebut, saya memesan nasi goreng ati ampela. Sementara itu, teman saya memesan nasi goreng telur ceplok. Untuk minuman kami memilih teh jahe hangat. Karena menurut kami sangat cocok dengan cuaca di tengah malam itu yang cukup dingin.

Sambil menunggu nasi goreng diantar oleh si penjual tersebut, tiba-tiba teman saya itu meminta pendapat saya akan permasalahan (problem) keluarga yang sedang ia alami.

Jadi ceritanya teman saya itu sedang LDR dengan istrinya. Tahukan LDR itu apa? yups, hubungan percintaan atau yang terpisah oleh jarak, ruang dan waktu. Alias hubungan percintaan beda kota.

Dia bisa LDR karena istrinya di tahun 2021 lalu diterima sebagai pegawai negeri di salah satu lembaga X di Kota Metro Lampung. Sementara dia tinggal di daerah yang berbeda kota dengan istrinya, walaupun masih dalam satu provinsi.

Saya juga sudah mengenal istrinya tersebut adalah memang seorang dokter, karena beberapa waktu lalu setiap penyakit asam urat ayah saya kambuh, pastinya berobat jalan dengan istri dari teman saya tersebut. Memang cukup manjur obat-obat yang diberikannya, hingga jarang kambuh lagi.

Kata dia, agak risih seorang pria yang sudah beristri tapi harus beda rumah. Menurutnya, si istrinya ini tinggal dengan orang tuanya di Kota Metro, dan tempat tugasnya dekat dengan rumah orang tuanya itu. Sementara dia, tinggal di Lampung Selatan. Yang walaupun kata dia bisa pergi-pulang (PP) dari Lampung Selatan ke Metro, namun itu cukup menguras tenaga dan waktu. Apalagi dia adalah dosen yang cukup sibuk, menurut saya.

Tak terasa, nasi goreng yang kami pesan sudah jadi, dan diberikan oleh penjual ke kami sesuai pesanan, beserta teh jahenya. Sembari menyantap nasi goreng, kami pun melanjutkan obrolan.

Jadi teman saya itu minta pendapatnya, apa yang harus ia lakukan biar tidak LDR dengan istrinya itu? karena terpisah oleh jarak.

Kemudian saya berpikir sejenak, lalu memberikan saran yang mungkin bisa menenangkan pikiran dia yang sedang berkecamuk. Saya berupaya untuk memberikan saran agar tetap dijalani dulu, dan kalau mau memang istri pergi-pulang (PP) ngikut suami yang walau beda kota tidak apa-apa, toh istri dia juga sebenarnya dalam satu minggu cuma masuk di lembaga X selama 3 hari saja. Jadi 4 hari sisanya bisa ngikut suami.

Singkat cerita, selain masalah LDR di atas, ternyata dia juga bercerita tentang masalah istrinya di tempat kerja (di lembaga X) ia bertugas.

Jadi, menurut cerita teman saya itu bahwa istrinya ini termasuk didiskriminasi oleh para senior disana. Contohnya, uang remunisasi teman yang lain dapat, tapi istri teman saya itu tidak dapat. Terus, semua beban kerja para senior seolah-olah di serahkan ke istrinya tersebut. Sementara teman yang masih seangkatan kerja dengannya tidak terlalu diberi beban kerja yang banyak. Terkadang istrinya juga jadi bahan suruhan saja, sehingga istrinya merasa seolah-olah tidak dihargai kerja-kerjanya selama ini.

Si teman saya itu juga bercerita lebih lanjut, jika istrinya sempat ingin keluar dan meminta dipindahtugaskan di lembaga X yang sama, tapi di tempat lain, karena menurutnya sudah tidak kuat dengan tekanan yang ada di tempat kerjanya itu. Saya tidak bisa menceritakan secara detail tentang kejadian yang sebenarnya di dalam tulisan ini. Dan mohon maaf, untuk nama serta lembaga tidak saya sebutkan di dalam tulisan ini, tentu untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan, termasuk menghindari pencemaran nama baik seseorang atau institusi.

Istrinya itu, sempat berencana ingin mengajukan mutasi, tapi belum berjalan karena istrinya masih pegawai negeri yang belum lama bertugas disitu. Karena setahu saya juga memang untuk pegawai negeri boleh mutasi jika sudah bertugas lebih dari 5 tahun. Itulah perjanjian hitam di atas putih yang sudah disepakati sebagai pegawai aparatur negara.

Teman saya tersebut juga minta saran dari saya apa yang harus ia dan istrinya lakukan?

Kemudian saya memberikan saran agar sementara jangan pindah/mutasi dulu, disabar-sabarin dulu saja. Saya mengatakan bahwa, tidak ada tempat yang nyaman dalam pekerjaan apapun itu selama kita masih bekerja dengan orang lain. Beda cerita kalau kita yang memiliki usaha itu sendiri, pastinya kita enjoy karena kitalah bosnya.

Saya melanjutkan obrolan bahwa pasti selalu ada tekanan (pressure) yang kerap kali muncul di tempat kerja. Kita mungkin biasanya akan stress, down, cemas berlebihan, motivasi dan produktivitas kerja menurun, serta kesehatan mental kita menjadi terganggu. Hal ini menurut saya wajar dan manusiawi. Cuma kita juga tidak boleh lengah, dan membiarkan kesehatan mental kita rusak karena prilaku orang-orang di tempat kerja yang bisa dibilang toxic people atau toxic relationship sehingga tidak sesuai harapan kita.

Di tempat kerja menurut pengalaman saya juga memang masih jarang sekali yang mau menghargai prestasi-prestasi kita, jumlahnya sangat sedikit yang aware tentang diri kita. Justru obrol-obrolan dan becanda berlebih yang kadang memperenggang suatu hubungan pertemanan. Sebagai contohnya, ada teman saya yang tersinggung dan marah karena dibilang badannya gemuk jadi lambat kerja, atau pakai bajunya itu-itu saja.

Karena sebaik apapun usaha yang sudah kita berikan ke perusahaan/tempat kita bekerja, pastinya masih ada rasa ketidakpuasan dari orang lain, dan ini menurut saya wajar karena setiap orang punya perspektif dan sudut pandang yang berbeda akan diri kita. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan beragam kekurangan, tapi ada kelebihannya. Karena menurut saya bahwa kita tidak boleh terlalu loyal dan menuhankan perusahaan/tempat kita bekerja, atau berteman juga sewajarnya saja tidak perlu berlebihan.

Saya juga bilang ke teman saya itu bahwa, walaupun nanti istri teman saya itu pindah tugas ke tempat lain, belum tentu akan ada rasa kenyamanan yang diperoleh. Masih bisa berpeluang besar kejadian sebelumnya (toxic people/toxic relationship) di tempat kerja yang lama akan kembali muncul. Itulah alasan saya memberi saran agar istrinya itu tetap bertahan di tempat kerja yang lama. Sembari menunggu 5 tahun agar bisa pindah tugas di tempat lain (mutasi).

Saya meminta dia dan istrinya agar tetap kuat dan tetap bertahan di tempat kerjanya itu, karena sebagai pegawai baru juga mungkin menurut pandangan saya butuh adaptasi lebih dekat dengan teman-teman kerjanya. Tidak perlu resah akan perlakuan buruk orang lain kepada kita. Jika dia berbuat buruk kepada kita, maka lawanlah dengan perbuatan baik kita kepadanya. Maka lama-kelamaan pelaku, yang menurut kita merugikan (toxic people) itu akan sadar, dan malu sendiri karena kita sudah berbuat baik kepadanya.

Contoh sederhananya jika ada teman yang berbuat jelek kepada kita, kita bisa lawan dengan perbuatan baik, seperti membagikan makanan saat di sela-sela jam kantor, ajak ngobrol seperlunya, bersikap profesional dengan dirinya dalam tugas-tugas tim, dan lain sebagainya.

Mendengar curhatan dari teman saya di atas, saya dapat merefleksi kepada diri saya sendiri bahwa, di luar sana ternyata masih banyak orang-orang yang bersentuhan langsung dengan toxic people atau orang-orang sekitar yang secara tidak langsung mengganggu kesehatan mental kita. Saya rasa tidak hanya di lingkup tempat kerja dari istri teman saya tersebut, tapi juga mungkin di tempat-tempat lainnya banyak terjadi hal demikian. Jumlahnya pasti tidak terbatas, dan mungkin di luar dugaan kita. Tapi masih banyak juga orang-orang yang menyembunyikan kekurangan-kekurangan tempat mereka kerja, padahal sebenarnya mereka merasa tidak nyaman.

Nah, mungkin sejauh ini teman-teman masih bingung ya apa itu toxic people? bagaimana contoh toxic people? Mengapa toxic people bisa ada? serta langkah dan solusi apa yang tepat saya lakukan untuk menghadapi lingkungan kerja yang isinya toxic people?

Mari kita bahas satu per satu detail masalahnya. Silakan lanjutkan membaca.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa istilah toksik atau toxic artinya racun, beracun, atau berkenaan dengan racun. Sementara itu, kata people merupakan serapan asing (dari bahasa inggris) yang bermakna “orang atau seseorang”.

Menurut saya kita tidak bisa sembarangan mengatakan orang lain itu “toxic”, kita harus terlebih dahulu mengetahui konteks sebenarnya.

Seseorang yang mempunyai sifat toxic people artinya punya pengaruh negatif/buruk kepada lingkungan sekitar. Kecenderungan pelaku toxic people ini dapat mengeksploitasi, menguras energi dengan banyak prilaku penuh drama, yang pada ujungnya nanti bisa membuat kelelahan emosional.

Seseorang yang toksik mempunyai setidaknya beberapa ciri yang sering saya jumpai:

  • Memperlakukan orang lain secara kasar, baik fisik maupun emosional;
  • Seseorang yang manipulatif, yakni mengontrol diri kita atas kemauannya, tentu bisa tanpa kita ketahui terlebih dahulu;
  • Seseorang yang mengeksploitasi diri kita, atau bahasa mudahnya yaitu memanfaatkan diri kita secara sengaja;
  • Seseorang yang mengintimidasi dan mengendalikan orang lain untuk melakukan suatu hal dengan cara mereka;
  • Seseorang yang membiarkan prilaku buruknya diketahui orang lain secara sengaja dan berulang-ulang dilakukan.

Sifat toxic people ini memang ada di mana saja. Pastinya kita sering menemukannya, misalnya di tempat kerja. Tapi sifat ini bisa kita kontrol dan cegah sejak dini, tentunya dengan pemahaman yang komprehensif akan pentingnya menjaga rasa persatuan dan kesatuan antar teman sejawat.

Berikut ini ilustrasi/contoh yang mungkin dapat memudahkan kita untuk mengetahui sudah sejauh mana kita mengetahui lingkungan tempat kita bekerja itu sudah dikerumuni orang yang toxic atau belum.

Saya banyak menemukan orang yang senang sekali melakukan body shamming alias menghina fisik seseorang dan menjadi bahan perbincangan, gosip, ata cerita-cerita yang berpotensi merusak hubungan perteman. Hal semacam ini perlu sekali kita cegah, sehingga kita harus mawas (lebih berhati-hati) dalam berbicara maupun bersikap terhadap orang lain.

Hal-hal yang berbau fisik seseorang tidak perlu untuk dijadikan bahan bercanda, perbincangan atau gosip karena hal semacam ini juga bisa membuat orang lain yang dibicarakan tersinggung, minder, dan kadang menimbulkan trauma dan tidak pede.

Sebagai contohnya adalah sebagai berikut:

  • Badan kamu kok makin hari makin gemuk sampai melebar kemana-mana gitu, gak mau diet apa?
  • Udah muka jelek, jerawatan, beli skin care sana biar bersih !
  • Udah badan pendek, kurus, item lagi !
  • Eh guys, lihat tuh jempol tangan si X kelebihan jempol !
  • Hidung kamu pesek banget, jelek kalau dilihat, gak imbang dengan bentuk mukamu !
  • Badan kamu bau banget ! beli pewangi badan tuh, murah kok !

Bahasa-bahasa kasar (vulgar), provokatif, tempramental, mengandung kebencian, berbau SARA sering kali muncul tanpa kita sadari di lingkungan kerja. Hal ini sebenarnya bisa dicegah dengan kita mengontrol diri agar tepat dalam berbicara dan bertindak. Selalu berpikir sebelum bertindak, menimbang baik buruknya sesuatu hal, sehingga apa yang kita lakukan dapat diterima oleh orang sekitar tanpa menyinggung perasaannya.

Sebagai contoh hal yang tidak boleh ditiru dari konteks di atas antara lain:

  • S3tan kamu ya, kerja kayak gini aja gak bener !
  • Saya tendang muk2 kamu nanti !
  • Ngurus klien sedikit kayak gini aja gak becus, dasar bodxh !!!

Lingkungan kerja bisa saja menjadi praktek asusila jika orang-orang yang di dalamnya memiliki prilaku menyimpang. Hal ini menurut saya sudah tidak bisa ditoleransi lagi jika terjadi di tempat kerja kita.

Prilaku asusila termasuk pelecehan/kekerasan seksual di tempat kerja wajib kita hindari agar tidak merugikan orang lain.

Berikut contoh asusila terkait konteks di atas:

  • Saya sentuh boleh “itu” kamu?
  • “Itu” kamu kok nonjxL gede banget loh ! Boleh saya pegang?
  • Kamu seksi banget, bXhaY !
  • Rambut kamu panjang banget sampai pinggang, saya elus boleh?
  • Nanti selepas pulang kantor kita ketemuan di hotel ya? kita santai bareng di kamar !

Gosip-gosip panas di tempat kerja seringkali muncul di tempat kerja. Saya sering menemukan hal ini paling banyak ditemukan.

Menggosip atau julid-in orang lain sebaiknya kita hindari. Karena menggosip/mengghibahin orang lain ini berpotensi dapat merusak hubungan dengan teman kerja di kantor/perusahaan.

Belum tentu juga yang jadi bahan gosipan itu benar adanya. Sehingga kita perlu menghindari obrolan yang tidak bermanfaat. Intinya kita tidak perlu mengurusi privasi orang lain. Karena hal-hal yang berbau privasi itu sebaiknya tidak kita campuri. Setiap orang punya privasi yang harus dipegang teguh agar tidak tersebar kemana-mana.

Contoh gosip panas di tempat kerja yang biasanya muncul seperti berikut:

  • Si X itu sekarang miskin, utangnya banyak dimana-mana, sampe rumahnya ambruk mau di ambil Bank !
  • Eh, si Y itu kok sering naik motor sama laki orang ya, gila bener tuh !
  • Eh, si X tadi pelukan sama Y di sebuah mall, padahal bukan suami istri lho !
  • Eh, kemarin si X itu nyolong uang si itu lho !
  • Eh, si XX itu jadi simpenan om-om sekarang, udah tahu belum ?

Menurut saya, selama kita benar-benar ada di ruang publik, maka sebenarnya secara logika diri kita itu sedang dalam bahaya dan diawasi oleh banyak orang di sekitar.

Mengapa saya mengatakan hal ini?

Tentu saja, semua gerak-gerik kita akan dipelajari oleh orang lain. Termasuk prilaku dan omongan kita.

Tentu dengan semakin bebasnya orang mempelajari diri kita, tentu kita penting untuk menjaga sikap (attitude) kita untuk senantiasa ramah, sopan santun, dan berprilaku baik dan menyenangkan kepada orang lain.

Tentunya kita harus menghindari prilaku yang dapat menimbulkan “kehebohan” sekaligus kebencian yang bisa memutus rasa persaudaraan.

Toxic people bisa ada karena kehidupan atau interaksi sosial kita selama ini adalah dinamis, apalagi di era digital saat ini, maka komunikasi akan semakin lebih intens. Bahkan batasan-batasan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat terkadang kita lupakan.

Tanpa kita sadari bahwa, dengan interaksi sosial yang semakin berdekatan ini, tentu saja berpeluang untuk memunculkan suatu “gesekan” antara satu orang di dalam populasinya. Interaksi sosial yang demikian ini bersifat negatif yang biasanya kita sebut sebagai Interaksi Sosial Disosiatif.

Dilansir dari situs utama Dear Senja, melalui situs blog Dear Senja ( https://www.blog.dearsenja.com/ ) bahwa Interaksi sosial disosiatif adalah jenis interaksi sosial yang negatif dan memicu konflik, perpecahan, serta perselisihan. Interaksi sosial disosiatif bisa terjadi dalam kelompok kecil ataupun besar.

Interaksi sosial disosiatif ini harus bisa kita cegah, sebab kehidupan sosial masyarakat tentu saja harus terus berlangsung, kita sulit mengontrol prilaku orang lain, sementara satu hal yang perlu kita terapkan dalam hidup ini adalah “selalu berbuat baik dimana saja kita berada“. Dengan demikian, dimana saja kita berada, orang lain akan peduli, serta memperlakukan kita sesuai dengan sikap baik kita kepada mereka.

Sebenarnya ini bukan cara yang pasti ya. Tapi ini hanya berdasarkan opini dan pengalaman saya selama berada di lingkungan pekerjaan dengan karakteristik manusia yang berbeda-beda, baik itu dari segi agamanya, budaya (culture), dan latar belakang sosial ekonomi mereka.

Menghadapi lingkungan yang menurut kita terdapat orang-orang yang toksik, tentu saja satu hal yang perlu kita pelajari adalah, apakah prilakunya sudah berlebihan dan merugikan diri kita?

Namun, jika masih sebatas mengingatkan diri kita akan tenggat waktu mengumpul deadline tugas kantor, mengingatkan telat waktu masuk jam kantor, mengingatkan rapat secara mendadak, tentu menurut saya ini hal yang wajar.

Tapi terlihat tidak wajar jika hal lain datang menimpa kita.

Sebagai contohnya, kita kehilangan harga diri karena dilecehkan secara seksual, kekerasan fisik di tempat kerja, pencemaran nama baik dengan gosip-gosip yang tidak benar, serta dirugikan secara materiil dan non-materiil.

Contoh lain misalnya, terjadi umpatan-umpatan dengan bahasa kasar yang dapat mengganggu psikologis atau kesehatan mental kita, tentu perlu kita ingatkan orang yang berlaku demikian.

Menurut hemat saya, kunci/cara untuk menghadapi lingkungan yang toksik harus dimulai dari diri kita sendiri, pastinya kita harus mencontohkan hal-hal baik kepada orang-orang di sekitar kita.

Misalnya, datang ke kantor tepat waktu, membatasi obrolan yang tidak penting, mencegah bercanda yang berlebihan (kelewat batas), tidak memprovokasi suatu kejadian di tempat kerja.

Selain itu, memupuk rasa persatuan dan kesatuan antar teman, solid, peduli, hidup rukun, saling mengasihi/welas asih, dan saling menjaga nama baik adalah kunci agar lingkungan kerja terbebas dari toxic people ataupun toxic relationship. Pada akhirnya nanti, suasana hati maupun perasaan (mood) dan mental kita saat di lingkungan kerja akan baik sehingga produktivitas kerja pun semakin tinggi.

Percayalah bahwa, untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbebas dari toxic people tentu saja tidak mudah, tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukannya. Kita pastinya bisa menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, friendly dan penuh semangat.

Tentu saja mari kita mulai dari perbaikan di sendiri, sembari memperbaiki lingkungan di sekitar kita supaya bebas dari toxic people yang tidak kita harapkan.

Setiap kali terjadi “huru-hara” di tempat kerja, pastinya saya akan mengevaluasi semuanya. Termasuk diri saya maupun mengamati rekan-rekan kerja saya.

Tentu saja, menanggapi kejadian “huru-hara” itu pastinya saya akan berusaha untuk bijak dalam mengambil tindakan maupun keputusan.

Tidak mudah terprovokasi dan tidak gampang percaya terhadap sesuatu hal sebelum dicek kebenarannya terlebih dahulu. Tentu hal ini penting, agar kita terhindar dari berita/isu hoaks.

Kuncinya pasti ada pada diri kita sendiri, yakni selalu berupaya untuk menjadi pribadi yang semakin hari semakin lebih baik. Bukankah begitu?

*Artikel ini diikutsertakan dalam #DearSenjaBlogCompetition. Semoga bermanfaat untuk para pembaca semuanya, aamiin ya robbalalamin.

Taggs:
2 Comments
  • Ayu Mulyono 11:15 am 26 Januari 2023 Balas

    ini nih blog yang menginspirasi…saluuut banget buat ka wahid.
    Thanks for sharing ka…Sukses selalu!

Write a comment