Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

Wahid Priyono

Bloger

Web Designer

Freelancer

Teacher

Writer

Content Creator

Badminton Lovers

#BlogPost

Proyek 1M

24 November 2020 Ngoceh
Proyek 1M

Mendengar teman-teman satu kantor saya ada yang mendapatkan “proyek 1M” justru saya bukannya malah bahagia, tapi semakin curiga bin khawatir, dalam pikiran saya “pasti ada yang tidak beres”.

Proyek 1M bukanlah proyek yang diakhir nantinya akan menghasilkan mobil mewah seharga 1M. Proyek 1M yang saya maksud adalah proyek gratis yang tidak mendapatkan apa-apa dari yang dikerjakan. Yang didapat dari proyek 1M ini adalah capek badan, pikiran lelah, kesal, kecewa, karena tidak dihargai serta di akhir proyek usai, hanya sebatas ucapan 1M “MAKASIHHHH….ya????”. #LaluDitinggalPergi.

Pasalnya, kejadian semacam “proyek 1M” ini seringkali terjadi di instansi dimana saya bekerja. Hal ini tentunya sangat mengesalkan, bikin kecewa, dan merasa tidak pernah dihargai. Bahkan apa yang sudah dihasilkan dari kerja keras yang melibatkan skill tidak pernah mendapatkan apresiasi atau penghargaan yang setimpal. Ibarat katanya, “hanya dimanfaatkan” saja.

Masih banyak di lingkungan tempat saya bekerja (mungkin di tempat kerja lainnya) yang memanfaatkan ilmu seseorang untuk kepentingan instansi tanpa “belas kasih”. Selain itu, menghormati ilmu seseorang masih sangat rendah, sehingga tidak jarang semua pekerjaan yang membutuhkan skill tinggi tidak pernah dibayar, alias mintanya gratis terus. Jika ini sering terjadi di suatu instansi dan memeras kreativitas seseorang, maka bisa berbahaya dan membuat reputasi perusahaan/instansi dinilai buruk oleh karyawan.

Contoh proyek 1M yang pernah saya temui di wilayah instansi kerja saya adalah:

  • Meminta karyawan “X” untuk mengerjakan proyek “Y” yang di luar cakupan kerjanya. Sehingga karena desakan dari pimpinan, maka dengan terpaksa teman saya yang merupakan karyawan “X” ini mau tidak mau harus melaksanakan tugas tersebut. Padahal di akhir nantinya, dia tidak dapat apa-apa;
  • Beberapa karyawan yang pintar dan ahli di bidang Teknologi Digital, seringkali mereka “dimanfaatkan tenaganya” untuk sekedar menjadi tim marketing yang tugasnya mengelola social media instansi, mengelola website, mendisgn logo/pamflet/brosur promosi bahkan aplikasi android. Banyak sekali tugas-tugas dari teman saya yang ahli di bidang IT tersebut yang berujung kecewa berat karena seringkali apa yang mereka kerjakan tidak dibayar sepeserpun. Kadang pihak yayasan/instansi terlalu “pelit” dan “kurang menghormati ilmu” yang dimiliki oleh orang lain. Maka jika proyek-proyek itu ditawarkan kepada teman saya di lain kesempatan, maka mereka selalu berkata “tidak bisa” atau mereka langsung mengatakan bahwa proyek yang akan dikerjakan mereka ini berbayar alias “tidak gratis”, karena alasan untuk uang ngopi, lembur, dan lainnya. Menurut saya yang dilakukan oleh teman saya ini benar, karena nyatanya mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia IT memang cukup berat dan banyak menghabiskan waktu, energi, pikiran dan sumber daya. Sebagai contoh, untuk membuat website instansi saja, itu kebanyakan di tempat saya meminta bantuan karyawan (guru), dan diakhir proyek semuanya tidak dibayar. Jadi karyawan hanya diperas saja. Harusnya pihak yayasan/instansi tanpa diminta untuk dibayar, maka harusnya memberilah uang lembur. Nyatanya uang lembur tidak ada. Hal semacam inilah yang terkadang di tempat saya disebut sebagai proyek 1M karena tidak jelas. Selain itu, teman-teman saya memang sudah ahli di bidang IT, misalnya aplikasi android, coding website, dan lain sebagainya, mereka tetap “menyimpan ilmunya rapat-rapat” dan tidak mau diberikan cuma-cuma untuk pihak instansi. Mereka pernah bilang ke saya: “Tidak apa-apa kita dipandang bodoh soal IT dari pimpinan, daripada kita kecewa nantinya”;
  • Pihak yayasan/instansi membuat sendiri tim marketing untuk dilimpahkan tugasnya ke beberapa guru-guru di sekolah saya dan tentunya tidak ada upah bagi yang mengerjakannya. Ini dilakukan ternyata karena pihak instansi tidak mempunyai cukup anggaran untuk membentuk karyawan baru. Namun, ini menunjukkan sikap ketidakprofesionalan mereka dalam mengelola instansi. Instansi yang profesional maka dia siap untuk menggaji orang lain yang mau bekerjasama untuk membangun instansi/yayasan semakin berkembang, termasuk pengelolan sosial media, website, jurnalistik dan lain sebagainya. Namun nyatanya, instansi saya tidak berani melakukan ini, karena memang dari dulu sudah terbiasa melakukan proyek 1M ini;

Proyek 1M yang saya ceritakan di atas memang benar-benar real terjadi di dunia sosial kita. terlebih memang masih banyak orang-orang di sekitar kita yang masih kurang atau bahkan tidak sama sekali “menghormati ilmu” yang dimiliki oleh orang lain.

Kelebihan dan skill mumpuni yang dimiliki orang lain, seringkali dimanfaatkan untuk membangun instansi/yayasan semakin maju dan berkembang. Namun, di sisi lain bagi mereka yang bekerja diranah IT seringkali menelan “pil pahit”, karena pekerjaan yang mereka kerjakan tidak dihargai baik secara ucapan maupun apresiasi secara materi. Namun, di luar sana juga masih banyak orang-orang/instansi yang baik kok, masih banyak instansi/yayasan yang berani membayar karyawannya secara mahal untuk mengelola hal-hal yang berbau IT. Karena bekerja di ranah IT itu tidak mudah, karena berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Jadi pantaslah jika mereka-mereka ini juga harus dibayar mahal dan siapresiasi karyanya.

Dan dari sinilah, saya belajar dari lingkungan sekitar bahwa tidak boleh sembarangan memanfaatkan skill atau kemampuan orang lain untuk sesuatu hal yang gratis dan memeras hak-hak orang lain. Setiap orang berhak untuk memperoleh apresiasi setinggi-tingginya dari karya dan inovasi yang diberikan untuk pihak instasi bekerja.

Yuk guys, sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tentunya harus mampu bergaul di lingkungan sekitar dengan porsi yang tepat. Artinya, semuanya diuntungkan, dan tidak ada salah satu yang dirugikan dengan adanya proyek 1M ini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita yang mungkin sering lupa dengan istilah “apresiasi” dan “ilmu” yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan.

Nah, apakah teman-teman juga ada yang pernah mengalami sendiri atau mendapatkan proyek 1M di lingkungan kerjanya? yuk bagikan ceritanya, saya juga mau mendengar ocehan teman-teman semua…

30 Comments
  • Sudibjo 5:35 am 27 November 2020 Balas

    cukup memprihatinkan dimana orang yang berkuasa memanfaatkan situasi yang sulit ditolak olah anak buahnya. sering juga sih aku nemu yang gitu

    • Wahid Priyono 7:48 am 27 November 2020 Balas

      Iya mas Sudibjo betul sekali. Seharunya mereka lebih bijak ya dalam memperlakukan karyawannya. Setidaknya dikasih penghargaan atau uang lembur karena sudah capek2 mengerjakan proyek dari pimpinan. Miris memang klo mengerjakan sesuatu hal yang mengandalkan skill tapi gak dapet apa-apa, alias cuma dapet 1M (MAKASIHHHHHH) 😀

  • Agus warteg 9:58 am 27 November 2020 Balas

    Kalo tugasnya ringan saja yang bisa selesai 5-10 menit menurutku tidak apa-apa dikasih 1M. Tapi kalo tugasnya berat apalagi menghabiskan waktu, tenaga, dan juga pikiran jelas keterlaluan cuma dikasih makasih. Membuat website instansi tidak mudah lho, butuh ilmu agar desainnya bagus. Minimal dikasih pulsa lah.

    Pulsa satu juta.😂

    • Wahid Priyono 10:09 am 27 November 2020 Balas

      Ya nyatanya begitu mas, pekerja digital (IT) terkadang luput dari perhatian untuk diapresiasi lebih tinggi. Ini tidak semua orang melakukan proyek 1M, tapi masih banyak yang baik kok.

  • Hani 3:28 pm 29 November 2020 Balas

    Selain pekerja digital (IT) yg dikira engga ngapa-ngapain karena utak-utik depan laptop/komputer doang. Ada lagi nih kerjaan yg dikira orang gampang, yaitu desainer. Duh, sering banget tuh desain grafis, dipelesetin jadi desain gratis. Trus orang enak aja bilang kan gampang, gambar-gambar doang…Hiks…
    Semoga kita semua bisa menghargai setiap profesi yah…

    • Wahid Priyono 3:53 pm 29 November 2020 Balas

      Iya mbak Hani orang2 yg kerja di dunia digital memang dianggap remeh bagi yg gak tahu. Ya setidaknya diberi apresiasi ketika sudah turut membantu. Jangan senengnya 1M apalagi pake harga teman 😊

  • Sitatur Rohmah 3:47 pm 29 November 2020 Balas

    Saya salut sama mas yang berani angkat bicara soal ini, dan pastinya bukan tanpa alasan karena pada dasarnya hal tersebut sering kita jumpai atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya.

    Sebenarnya aku pun setuju pendapat mas tentang tak menghargainya ilmu seseorang, karena saat kita menempuh pendidikan untuk mencapai gelar biayanya gak sedikit.
    Untuk itulah saat berada di dunia kerja menghargai ilmu seseorang itu penting,atau katakan lah mesti setimpal dengan apa yang dikerjakan.

    • Wahid Priyono 3:57 pm 29 November 2020 Balas

      Iya betul mbak. Menghormati ilmu orang lain itu sangat penting karena memang semuanya harus berjalan dengan “tepa selira”. Tidak ada keduanya yang dirugikan. Kadang ya itu, tidak mau “menghormati ilmu” orang lain. Hehe. Ya semua orang juga butuh belajar bergaul dan peka dengan kondisi tertentu.

  • i n n a 12:45 am 30 November 2020 Balas

    Awal proyek diimingi akan naik jabatan dan nanik tingkat, pas proyeknya selesai, sosialisasi lancar yang naik jabatan mah tingkat tertentu , kita kroco yang buat, pusing malah cuma diberikan janji doang bukan bukti, kalau seperti malas aja jika ditawari proyek lagi alias cuma proyek thanks you.

    • Wahid Priyono 4:09 am 30 November 2020 Balas

      hahaha. Iya mbak, proyek 1M ini memang sangat menggemaskan 🙂

  • Rizky Kurnia Rahman 3:00 am 30 November 2020 Balas

    Susah juga ya kondisi begitu. Termasuk di instansi pemerintahan, kalau ada yang berbakat di bidang tertentu, maka itu terus yang dipakai. Pegawai lain tidak mau belajar atau malah masa bodoh karena toh gajinya sama untuk golongan itu. Hem, mesti perlu dipikirkan lebih dalam jni.

    • Wahid Priyono 4:11 am 30 November 2020 Balas

      Iya betul mas Rizki, hehe…masih banyak orang-orang di instansi yang kurang peka dengan kondisi semacam ini dimana kita bekerja hanya sebatas sebagai karyawan saja. Hehe 🙂

  • Tami 3:20 am 30 November 2020 Balas

    Beruntung kalau kita dapat atasan yg memahami job desk masing2 ya. Tapi kalau engga, harus berani menolak agar orang lain menjadi segan dan menghargai kemampuan yang lain. Hmm.. berat sih prakteknya.

    • Wahid Priyono 4:13 am 30 November 2020 Balas

      Iya betul sekali mbak Tami….bahwa atasan juga harus benar-benar paham dengan jobdesk masing2 sehingga dalam bekerja sesuai porsi masing-masing. Jadi gak saling mengandalkan apalagi sampe ada proyek 1M.

      • Dawiah 10:50 am 30 November 2020 Balas

        Anak sulungku pernah mengeluh soal proyek M seperti yg mas tuliskan.
        Siang malam bahkan sampai begadang membuat desain sampul buku, infografis, dll.
        Ujung-ujungnya hanya dapat tanda jempol dan ucapan terima kasih. Yg naik jabatan malah yg minta tolong ke dia. Jadi saya sarankan, pindah kerja saja.
        Alhamdulillah sekarang dapat tempat yg jauh lebih baik.

        • Wahid Priyono 1:37 am 1 Desember 2020 Balas

          Aamiin mbak Dawiah. Sukses selalu ya untuk anak sulungnya. Semoga keputusan untuk berpindah tempat kerja menjadi takdir terbaik.

  • Putu Sukartini 4:04 am 30 November 2020 Balas

    Pas baca judulnya, ekspektasiku ketinggian
    Pas baca isinya, aku langsung sedih. Banyak banget memang kejadian seperti itu di sekitar kita. Masih banyak yang memandang remeh pada pekerjaan tertentu, padahal mereka butuh huhuhuhu

    Semoga kita semua dihindarkan dari yang demikian

  • Putu Sukartini 4:05 am 30 November 2020 Balas

    Pas baca judulnya, ekspektasiku ketinggian
    Pas baca isinya, aku langsung sedih. Banyak banget memang kejadian seperti itu di sekitar kita. Masih banyak yang memandang remeh pada pekerjaan tertentu, padahal mereka butuh huhuhuhu

    Semoga kita semua dihindarkan dari yang demikian dan mendapatkan sesuai hak yang seharusnya

    • Wahid Priyono 4:15 am 30 November 2020 Balas

      Iya betul kak Putu. Sehingga kita juga harus mau menghormati ilmu orang lain dan menghargai jerih payahnya. Thanks ya dah ikut berbagi ide kerennya kak 🙂

  • Susindra 4:09 am 30 November 2020 Balas

    Proyek 1 M ini pernah membuat suami pundung. Sampai sekarang ga mau benerin komputer tetangga atau keluarga.
    Bongkar komputer atau instal ulang hanya diberi 1-2 bungkus rokok dan kalau ada tambahan ya palingan bakso/mi. Wkwkwkwk.
    Setelah itu pasti dipanggilkan penyervis yang mahal agar kapok. Dan memang asli kapok jadinya, ga berani minta tolong lagi

    • Wahid Priyono 4:17 am 30 November 2020 Balas

      Nah itu, cara terbaik untuk membuat orang sadar bahwa ilmu orang lain itu patut untuk dihargai hehe. Ini untuk pembelajaran bagi kita semuanya, bahwa mengharga ilmu orang lain dengan apresiasi itu sangat penting sekali. Thanks for sharinya ya mbak 🙂

  • Afriant Ishaq 7:27 am 30 November 2020 Balas

    Hahaha Click bait judulnya Mas. Huahaha. Banyak sih, aku sering malahan. Kadang ikhlasku jadi tergerus dari gaya mereka.

    • Wahid Priyono 1:38 am 1 Desember 2020 Balas

      hahaha, ya masalah ikhlas kadang perlu dikasih apresiasi juga kalik hehe… masa orang kerja lembur nyelesaiin proyek orang, terus gak dapet apa2 kan aneh…hehe

    • Wahid Priyono, S.Pd. 12:18 pm 3 Desember 2020 Balas

      ya namanya juga manusia mas, butuh apresiasi dari apa yang sudah dikerjakan, bukankah begitu ya?

  • Sani 12:10 pm 30 November 2020 Balas

    Betul, kadang gak bisa di hindari. Dari satu sisi kita gak dapat apa apa, sisi lain ga enak kalo ga bantu. Karena budaya kita yg gak enakan, so bantu saja meski proyek 1M hehe

    • Wahid Priyono 1:36 am 1 Desember 2020 Balas

      betul sekali mbak budaya malu dan gak enakanan masih seringkali terjadi di orang2 timur kayak Indonesia.

  • Munasyaroh 9:10 am 3 Desember 2020 Balas

    Sering banget dapat proyek 1M ini, tapi bukan di lingkungan kerja. Biasanya di lingkungan sekitar di RT dan juga di sekolah

    • Wahid Priyono 11:58 am 3 Desember 2020 Balas

      Iya mbak Munasyaroh, hehe memang agak gimana gitu ya. Masalah ikhlas sudah, cuma kan manusia juga dalam bekerja butuh apresiasi ya kan?

  • Ari Santosa Pamungkas 5:00 pm 26 Desember 2020 Balas

    🙂
    Bener banget Mas. Untuk sekali-kali oke sih, buat ngasih tau kita punya kapabilitas non akademik lain. Tapi kalau keterusan dan paling tidak ngga ada nota dinas yang bisa memberikan kita benefit, ya ngapain.

    • Wahid Priyono 12:45 am 27 Desember 2020 Balas

      Setuju nih dengan mas Ari…ya harus ada apresiasi juga lah ya….

Write a comment