Mengenal Penyakit Diabetes (Kencing Manis), Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Diabetes melitus kencing manis

Diabetes (kencing manis) adalah suatu penyakit dengan peningkatan glukosa darah di atas normal. Penyakit ini disebut kencing manis karena urine yang dikeluarkan dari tubuh memang mengandung banyak glukosa. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal di dalam tubuh. Diabetes termasuk salah satu penyakit yang paling membahayakan. Tidak hanya di Indonesia, akan tetapi juga di dunia.

Berdasarkan data yang dilansir World Health Organization (WHO), pada 2009 penderita penyakit gula darah ini mencapai 8 juta jiwa dan diperkirakan terus bertambah. Tak heran bila Indonesia menempati peringkat keempat di dunia sebagai negara dengan pengidap diabetes terbanyak. Meskipun faktanya satu dari delapan orang yang ada di sekitar kita merupakan orang yang memiliki diabetes, kita tidak perlu khawatir. Karena penyakit ini dapat dicegah sedini mungkin dengan mengontrol gula darah yang ada dalam tubuh secara rutin. Pemeriksaan secara rutin ini dapat dilakukan melalui tenaga medis/kesehatan/dokter atau dilakukan sendiri.  Bagi penderita yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk pergi ke dokter spesialis diabetes, pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan sendiri. Karena mengingat saat ini teknologi canggih sudah dapat mendeteksi kadar gula dalam darah setiap orang. Salah satunya yaitu alat pemantau gula darah yang disebut “ Omron Blood Glucose Monitoring Kit”. Alat ini sangat efisien dan akurat untuk mengetahui kadar gula darah. Cara kerja alat ini yaitu menggunakan teknologi sensor suhu pantau pada alat, dijamin bahwa hasil pengukuran dapat diandalkan. Peralatan dengan teknologi ini sudah banyak dijual di pasaran.

Ciri-Ciri Penyakit Diabetes

  • Penurunan Berat Badan Secara Abnormal

Penurunan berat badan yang berlangsung singkat harus dicurigai karena merupakan ciri penyakit diabetes. Hal ini bisa terjadi karena glukosa dalam darah tidak bisa masuk ke dalam sel-sel tubuh, sehingga sel kekurangan asupan untuk menghasilkan tenaga.

  • Banyak Kencing (Poliuria)

Efek dari kadar gula darah yang tinggi yang akan mempengaruhi ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan untuk mengencerkan glukosa sehingga penderita sering buang air kecil dalam jumlah yang banyak (poliuria) dan mengakibatkan penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

  • Sering Merasa Haus

Banyaknya cairan yang keluar melalui kencing membuat penderita sering merasa haus. Untuk menghilangkan rasa haus tersebut, penderita minum air dalam jumlah yang banyak.

  • Banyak Makan Secara Berlebihan

Kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisasi, akan menjadi glukosa dalam darah yang tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, sehingga penderita selalu merasa lapar. Ciri ini juga dapat dilihat pada penderita yang mengalami obesitas.

  • Gangguan Pengelihatan

Pada fase awal, sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar ia tetap dapat melihat dengan baik. Bila ditemukan ciri-ciri seperti ini ada baiknya untuk memeriksa juga ke dokter mata serta berkonsultasi kepada Dokter spesialis diabetes untuk mengambil langkah preventif.

  • Gatal dan Bisul

Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Seringpula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhya. Luka ini dapat timbul akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk peniti. Ciri ini dapat mengakibatkan komplikasi luka pada kulit yang sulit sembuh. Pada beberapa kasus yang lain, dapat muncul ulkus diabetik disebabkan oleh kombinasi ketidakcukupan aliran darah arteri dan neuropati. Ulkus ini umumnya ditemukan di jari kaki dan di permukaan telapak kaki. Kulit menebal dan mengandung kalus (hiperkeratotik). Nyeri biasanya tidak terasa akibat neuropati. Apabila teraba denyutan nadi, hal ini belum mengindikasikan kelancaran sirkulasi. Bentuk luka diabetik kecil, dalam, dan kering disertai tepi kalus yang tebal dan berisiko tinggi terjadi infeksi dan gangren.

Pengontrolan kadar glukosa darah sangat penting untuk proses penyembuhan luka. Terapi yang diperlukan sama dengan terapi untuk menangani ulkus arteri. Biasanya klien harus diperiksa oleh ahli medis dan dibuatkan sepatu ortotis. Instruksikan klien untuk mengikuti pedoman perawatan kaki pada penderita diabetes ini.

Macam Penyakit Diabetes

Masing-masing tipe diabetes memiliki faktor pemicu, diantaranya:

  • Diabetes Tipe 1 (Juvenile onset/dependen-insulin)

Berkaitan dengan kerusakan sel pulau-pulau Langerhans dalam pankreas. Kondisi ini menyebabkan terhentinya pasokan insulin untuk tubuh, sehingga meningkatkan kadar gula dalam darah. Karena pankreas mengeluarkan insulin sedikit atau tidak sama sekali. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan sel penghasil insulin. Berarti tubuh tidak mampu menggunakan glukosa untuk energi karena kurangnya insulin. Penderita dibetes tipe 1 selama hidupnya harus menerima suntikan insulin dari luar tubuh.

  • Diabetes Tipe 2 (Maturity onset)

Tipe ini hanya terjadi hanya pada orang dewasa, karena merekalah yang umumnya mengalami obesitas. Penderita diabetes tipe 2 mampu menghasilkan insulin, namun jumlah insulin ini tak mecukupi karena ada komplikasi-komplikasi yang disebabkan oleh obesitas, misalnya tingginya kadar lemak darah, baik kadar kolesterol maupun trigliserida. Kondisi inilah yang dinamakan resistensi insulin.

Penyebab Penyakit Diabetes

Beberapa penyebab penyakit diabetes diantaranya:

  • Pola Makan

Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes mellitus.

  • Obesitas (Kegemukan)

Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kg cenderung memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes militus. Sembilan dari sepuluh orang gemuk berpotensi untuk terserang diabetes mellitus.

  • Faktor Genetis

Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus. Faktor hereditas juga memperberat risiko ini. Diabetes mellitus tipe I (dependen-insulin) kelihaatannya kurang sering ditransmisikan pada keturunan wanita diabetik daripada keturunan pria diabetik, meskipun fenomena ini mungkin saja karena kehilangan perinatal dari keturunan yang menderita karena ibu diabetik. Bila orang tua mengalami diabetes mellitus tipe II, anak-anak berisiko lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe ini daripada populasi umum.

  • Bahan Kimia dan Obat-obatan

Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi pankreas menurun. Sehingga kadar gula dalam darah kurang diatur secara baik.

  • Pola Hidup

Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab diabetes mellitus. Jika orang malas berolah raga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes mellitus.

Cara Mencegah Penyakit Diabetes

Beberapa cara pencegahan penyakit diabetes diantaranya:

  • Menerapkan pola makan yang sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi setiap hari. Perbanyak sayur dan buah yang mengandung banyak serat dan nutrisi yang berguna bagi tubuh;
  • Menghindari makanan bergula atau yang terlalu manis, misalnya cokelat, permen dan kue;
  • Membiasakan minum air putih sebanyak 7-8 gelas per hari. menghindari pula minuman manis seperti sirup ataupun minuman bersoda;
  • Membiasakan berolahraga secara teratur, minimal selama 30 menit setiap harinya;
  • Melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kadar gula dalam darah dan menjaga berat badan tetap stabil;
  • Makan makanan yang kaya akan kromium misalnya gandum, kacang panjang, makanan dari kedelai, nasi, mentimun, dan jamur shitake, serta makanan yang rendah kalori dan alkalin. Harus rendah lemak, tinggi serat dan karbohidrat kompleks. Serta mengatur metabolisme glikemia dan glukosa. Selain itu, makanan yang sedikit basa perlu dikonsumsi seperti , kedelai, kacang lima, aprikot, bayam, buah-buahan segar, dan sayuran.

Diagnostik

  • Bagi penderita diabetes dapat melakukan pemeriksaan diagnostic seperti puasa (setiap hari) atau gula darah acak;
  • Hemoglobin/hemotokrit; yaitu pemeriksaan data dasar;
  • Hemoglobin glikosilat (HbA1c); memungkinkan tinggi (lebih besar dari 8,5%), menandakan ketidakadekuatan kontrol dari kadar glukosa serum; serta
  • Urinalisasi; dapat menunjukkan kadar glukosa, keton, dan protein.

Sumber Referensi:

  • Ovedoff,  D. 2003. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Univesitas Trisakti.
  • Peel, Kathy. 1998. Manajer Keluarga. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
  • Pearce, Evelyn. 1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Sediaoetama, A.D. 2008. Ilmu Gizi. Jakarta: Dian Rakyat. Suhardjo dan Kusharto, C.M. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Kanisius.
  • Suhardjo. 1996. Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Wahlroos, Sven. 1999. Komunikasi Keluarga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
  • WHO
  • Himedik.com
  • Zang, S.M dan Bailey N.C. 2004. Manual Perawatan-Di-Rumah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *